Langit Senja

Langit Senja
Inhale Exhale


__ADS_3

Dulu Jingga sering mengatakan bahwa sahabat yang kini sudah menjadi kakak iparnya itu iri melihat kehangatan dalam keluarganya. Betapa semua anggota keluarga memperlakukannya bak seorang putri. Bagaimana semua begitu peduli dan perhatian padanya. Dan Jingga menyuruhnya untuk bersyukur dengan kehidupan yang ia miliki.


Dan, Ya. Senja sangat bersyukur terlahir menjadi anak dari orang tua seperti Tiara dan Alvaro. Ia bersyukur menjadi adik dari kedua kakak seperti Farri dan Vindra.


Kini rasa syukurnya semakin bertambah. Ia bersyukur memiliki suami seperti Baskara. Juga mertua seperti Pricilla dan Aldo.


Hari yang sempat ia anggap berat. Merubah warna langitnya menjadi kelabu, ternyata hanya sesaat. Hanya untuk mendatangkan sebuah pelangi yang lebih indah dalam hidupnya.


Bahkan kini ia begitu menikmati kehamilannya. Menikmati rasa tak nyaman di pagi hari. Menikmati saat-saat ketika ia menginginkan sesuatu yang rasanya tidak bisa menunggu besok atau nanti. Menikmati wajah mengantuk suaminya yang harus keluar malam-malam hanya untuk mencari makanan atau barang yang ia inginkan. Atau bahkan memasak sendiri jika ia menginginkan masakan suaminya.


Ia sangat menikmati moment-monent itu. Moment yang tidak ia alami di kehamilan sebelumnya. Moment yang akan ia ingat untuk ia ceritakan pada anaknya jika besar nanti.


Kehamilannya kini terasa lebih berwarna. Banyak cerita didalamnya. Dari air mata, tawa, bahagia hingga merajuk yang membuat suaminya cukup kewalahan.


Dulu ketika hamil baby Anna, ia tidak merasakan gejala-gejala yang kini ia rasakan. Ia masih bisa beraktifitas seperti biasa tanpa keluhan apa pun. Membuatnya tak merasa hamil kecuali perutnya yang semakin membesar dan juga gerakan-gerakan yang diakibatkan oleh tendangan-tendangan halus kaki mungil putrinya itu.


Sangat berbanding terbalik dengan kehamilannya kini. Yang juga sering merasa kelelahan. Beruntung ia sudah selesai kuliah, hanya tinggal menunggu jadwal wisuda. Sidang skripsi pun sudah ia menangkan dengan nilai yang sangat memuaskan.


Baskara dan keluarga yang menyadarkannya saat itu, memberinya dampak yang sangat baik. Mengembalikan semangatnya dan mengenyahkan segala pikiran buruk yang menjadi momok menakutkan untuk ia pikirkan setiap hari.


Kini kehamilannya bukan lagi beban. Tapi sudah ia jadikan berkah dalam rumahtangganya.


Jika orang bilang banyak anak banyak rezeki, Senja mengakui kebenarannya. Tapi rezeki yang ia sebut disini bukan soal materi. Karena rezeki bukan hanya soal uang bukan?


Karena ia menganggap kebahagiaan yang ia dapat berkali lipat itu adalah rezeki yang anak keduanya bawa.


Nilai kelulusan yang ia dapat juga ia anggap keberuntungan yang turut serta hadir bersama bayi keduanya itu.


Dan banyak lagi kebahagiaan yang tak bisa Senja paparkan satu persatu yang datang begitu ia hamil anak keduanya itu.

__ADS_1


Suara mesin jahit masih mengisi ruang tengah apartemen mereka. Tak peduli jarum jam yang semakin bergerak kekanan. Senja masih sibuk dengan kain dan alat jahit itu.


"Udah malam, ayy! besok lagi ya?" bujuk Baskara yang membungkuk dan memeluk dari belakang sang istri yang tengah duduk menjahit kain batik yang dipesan khusus dari Indonesia.


Senja tengah membuat dress untuknya wisuda nanti. Padahal inginnya ia memakai kebaya model kutu baru, agar lebih terasa khas Indonesianya. Tapi kondisi perutnya yang sudah mulai terlihat besar akan membuatnya kurang pas mengenakan model tersebut untuk wisuda.


"Tanggung mas. Bentar lagi ya?" jawabnya sedikit memohon. Hari ini dress-nya harus selesai. Agar besok ia bisa beralih membuat dress untuk putri kecilnya, juga kemeja untuk sang suami.


Untuk seragam orang tua, sudah di pesan di butik langganan orang tuanya di Jakarta. Butik yang sudah turun temurun menjadi langganan keluarga karena owner butik tersebut adalah sahabat dari neneknya-mommy Shevi-yang juga istri mantan model tanah air. Dari sana pula Senja memiliki ketertarikan untuk mengambil jurusan mode saat kuliah. Rencana cadangan setelah cita-citanya sebagai dokter ia pangkas ditengah jalan.


"Kasihan nih, baby bump udah pengen rebahan. Udah diajak kerja dari sore, nanti kecapekan lagi." baby bump adalah perut yang semakin membesar akibat kehamilan.


Senja tersenyum dan ikut mengusap perutnya yang sudah membuncit diusia kehamilan empat bulan. Mungkin karena kehamilan kedua jadi ukuran perutnya semakin cepat berkembang.


"Kan ada kamu yang minjitin, mas?" rayunya dengan kedipan mata kanan. Disusul pekikan ketika tubuhnya terasa melayang dan ia sadar sudah berada dalam gendongan sang suami.


"Ingat! anak kita juga butuh istirahat. Bukan cuma kamu yang cape, tapi dia juga!" ucap Baskara dengan tegas.


Langkah lebar suaminya membawanya kedalam kamar dalam sekejap waktu. Membaringkannya dengan hati-hati seperti benda pecah belah.


"Lhoo.. Lhoo.. Mau ngapain?" pekiknya lagi ketika Baskara memegang kancing bajunya.


"Tadi katanya minta dipijitin." jawab Baskara polos tanpa menghentikan gerakan tangannya. "Aku mau pijitin sampai dalam-dalamnya." kedipan mata dan senyum maut Baskara berikan pada sang istri yang kini wajahnya memerah.


"Eee... Apaan sampai dalam-dalamnya! aku lapar mas, nggak mau olah raga malam iih!" ia mendorong tubuh suaminya menjauh. Memasang lagi dua kancing baju yang berhasil suaminya lepas dari tempatnya.


Menggeleng dan meninggalkan sang suami yang memasang wajah cemberutnya.


Ketika sampai dapur dan mengecek isi lemari pendingin, ternyata bahan makanan sudah habis. Makan malam mereka tadi juga tidak bersisa.

__ADS_1


"Yaaahh... Makan apa nih baby?" keluhnya mengusap perutnya yang terasa lapar.


"Mau pesan aja?"


Senja berbalik kearah suara suaminya. Pria itu tengah bersandar di dinding dengan tangan terlipat di dada. Ekspresi wajahnya datar, dengan mata tajam dan ada guratan kesal disana.


Senja mengabaikan kekesalan suaminya. Karena ia yakin, Baskara tidak akan sanggup lama-lama untuk marah padanya.


Setelah berpikir beberapa saat, Senja memutuskan untuk makan di luar saja. Masih banyak restoran yang buka 24 jam di area sekitar apartemennya.


"Bangunin baby Anna dong, mas?"


Baskara mengerutkan dahi, "Ngapain di bangunin, kasihan udah malam." tolaknya tak setuju.


"Lebih kasihan lagi kalau kita tinggal, mas. Nanti kalau dia bangun nggak ada orang gimana?"


"Yaa kan kita dirumah!"


"Tapi aku pengen makan di luar. Ya?" pintanya dengan senyum selebar mungkin, matanya juga berbinar bahagia.


Membuat Baskara tak memiliki alasan untuk menolak jika sudah seperti itu. "Alamat begadang deh." gerutunya menuju kamar untuk membawa sang putri pergi mencari makan untuk bumil yang semakin terlihat seksi. Membuatnya sulit mengendalikan diri jika melihatnya.


Tak apa jika baby Anna begadang dilain waktu. Tapi tidak untuk saat ini ketika hasratnya sudah sampai di ubun-ubun. Tak tahukah istrinya jika ia sedang ingin?


Ia menghela napasnya berulang. Inhale exhale..


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2