
"Ehek.. Ehekk.. Ooeekk... Ooeek.." tangisan baby Anna melengking ditengah pergumulan panas kedua orang tuanya.
Senja langsung mendorong tubuh Baskara dari atas tubuhnya. Karena sepertinya ayah satu anak itu tidak mendengar anak mereka menangis.
"Kenapa ayy?" erangnya sedikit kesal karena kegiatannya terhenti begitu saja.
"Itu baby Anna nangis." jawab Senja dengan tangan yang bergerak memakai kembali jubah tidurnya. Diikuti Baskara yang juga memungut celana yang ia lempar sembarangan dan memakainya.
"Maaf ya daddy nggak denger kamu nangis, lapar ya?" tangannya mengusap kepala putrinya yang sudah dalam gendongan sang istri. "Kamu juga sih, ganggu. Nggak tahu apa kalau daddy lagi buka puasa. Sejam lagi kek! baru juga dua kali!"
Senja merotasikan bola matanya mendengar keluhan suaminya. Sedangkan baby Anna semakin kencang menangis.
"Eh daddy nggak nyalahin kamu, nak. Maaf ya sayang?" ia ikut menepuk paha putrinya pelan. Biasanya baby Anna akan berhenti menangis jika ia tepuk-tepuk pelan pahanya.
"Kayaknya ASI aku kosong deh, mas, makanya Anna ngambek. Tolong angetin ASIP ya mas."
Baskara merenges dan bergegas untuk menghangatkan ASIP sebelum putri kecilnya semakin mengamuk karena kelaparan.
"Untung udah di pumping dulu." gumam Senja begitu Baskara menyerahkan dot pada putrinya. "Kalau enggak, udah habis nak sama daddy-mu."
Baskara tergelak melihat istrinya yang mencebik kesal. "Namanya juga orang buka puasa, ayy. Emang kadang gitu sih suka kalap sampai nggak sadar udah kenyang."
Sebenarnya ada untungnya juga mereka sebelumnya menjalin hubungan jarak jauh. Setidaknya itu melatih Baskara untuk lebih bisa mengendalikan hasratnya. Membuat pria itu tidak begitu sulit menahan diri pasca istrinya melahirkan.
"Tapi hebat lho mas. Bisa nahan 40 hari lebih." Senja mengacungkan ibu jarinya bangga.
Tapi tidak dengan Baskara yang mencebik kesal. "Kamu nggak tau aja gimana susahnya nahan selama itu! kalau bukan karena sibuk jagain baby Anna, mungkin aku udah minta dibantuin pakai jalan pintas."
Senja terkekeh. Ia kira suaminya selama ini tidak kesusahan menahan hasratnya karena tak pernah sekali pun mengeluh. Ternyata sama saja.
Tapi ia tetap bangga. Karena meski sulit, suaminya tidak menyerah untuk bertahan.
***
Bayi cantik berkulit putih susu, mata sedang tak terlalu sipit, hidung mancung serta bibir yang tak begitu tipis duplikat ibunya itu tengah tidur dengan nyenyak setelah dimandikan sang ayah yang kini tengah sibuk didapur menyiapkan makan malam.
Ting Tong.. Terdengar bunyi bell.
Takut suara bell membangunkan putri kecilnya, Baskara buru-buru menuju pintu untuk melihat siapa tamu yang datang sore-sore seperti itu.
__ADS_1
Begitu ia membuka pintu, terjadi keheningan beberapa saat sebelum gelak tawa Jingga terdengar.
Jika Jingga dan Farri terdiam karena kaget melihat penampilan Baskara. Pria itu terdiam karena tidak menyangkan keluarga kakak iparnya akan datang tanpa memberi kabar dulu sebelumnya.
"Nyonya yang punya apartemen ada, bik?" godanya pada mantan kekasih yang kini sudah menjadi adik iparnya.
Tidak ada lagi rasa tersisa dihati keduanya. Karena kini baik Jingga maupun Baskara sudah menemukan dan memiliki kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan dari orang terkasihnya.
"Sialan, lo!" lirik Baskara tajam. "Nyonya gue belum pulang, jadi mending pergi aja sana!"
Baskara sudah akan menutup pintunya. Ia tahu Jingga menertawakan dirinya karena ia yang masih memegang spatula dan menggunakan celemek. Warna merah muda pula! karena celemek miliknya tengah dicuci. Jadi tak ada pilihan lain selain menggunakan celemek yang ia beli untuk istrinya dulu.
"Waah nggak sopan lo sama kakak ipar!" sentak Jingga sebelum Baskara benar-benar menutup pintu apartemen. Meski ia tahu, pria itu takan benar-benar melakukannya.
"Siapa suruh lo ngeledekin gue!"
Farri yang sejak tadi melihat drama istri dan adik iparnya itu hanya menggeleng. Ia sudah terbiasa dengan sikap kekanakn istrinya. Karena itu sudah resikonya menikahi anak kecil seperti istrinya itu.
"Biarin wleee.. Abis kapan lagi ya kan, gue bisa lihat lo jadi bapak rumah tangga gini."
Bagi Jingga yang terbiasa ada yang mengurus segalanya saat di Jakarta, melihat Baskara seperti saat ini sangatlah lucu. Karena ia belum pernah merasakan jauh dari rumah dan segala fasilitasnya.
"Kalian bisa nggak berantemnya nanti aja? ini kasihan Sisi udah capek."
Jingga menepuk dahinya. Di Jakarta ia tidak memiliki teman. Kesibukannya hanya diisi mengurus suami dan anak. Jadi ketika bertemu dengan Baskara rasanya jiwa jahil yang bahkan dulu tak pernah ada kini keluar. Hanya sekedar merindukan sebuah keseruan sesama sahabat seperti bagaimana dulu Senja dan Baskara saling meledek.
Baskara menyalami kakak ipar dan menyapa keponakan manisnya sebelum mempersilahkan keluarga kecil itu untuk masuk.
"Senja belum pulang jam segini?" tanya Farri melirik jam yang ada didinding ruang tamu.
"Sebentar lagi biasanya, bang." jawab Baskara yang membantu membawakan koper dan menaruhnya dikamar tamu.
"Eh jangan masuk!" seru Baskara begitu melihat Jingga membuka pintu kamarnya.
"Kenapa? gue kan datang jauh-jauh kesini buat nengokin keponakan gue!"
Baskara mencebik. Padahal Jingga sudah menjadi seorang ibu. Tapi kenapa perempuan itu tidak tahu mana yang baik untuk anak kecil.
"Lo kan abis perjalanan jauh. Naik pesawat ketemu banyak orang, terlebih di bandara. Jadi mandi dulu lah, baru lihat anak gue."
__ADS_1
Jingga membulatkan bibirnya. Baru sadar akan kesalahannya.
Jingga mengurungkan niatnya. Kembali menutup pintu kamar dan kembali ke ruang tamu dimana anak dan suaminya berada.
"Kalau lo nggak mandi dulu, bisa habis lo kalau Senja sampai tau!"
"Apaan yang aku tau?" tanya sebuah suara.
"SENJA!!" teriak Jingga begitu melihat sahabatnya yang baru saja masuk kedalam apartemen. Ibu satu anak itu bahkan berlari dan memeluk sahabatnya.
Senja juga tak kalah bahagianya melihat keberadaan Jingga yang sebelumnya tidak ia lihat karena duduk menghadap televisi.
"Kalian kapan datang?" tanyanya berjalan menuju kakak dan keponakannya.
"Baru nyampe. Niatnya mau kasih surprise buat lo. Eh malah kami yang dapat surprise sama penampilan suami lo."
Senja melihat suaminya yang masih mengenakam celemek. Ia tersenyum dan memeluk lengan suaminya. "Keren kan suami gue?" ia sandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Jingga tergelak. Begitu juga Baskara yang mengacak rambut istrinya sebelum ia beri kecupan singkat.
"Aunty nggak mau peluk daddy?" suara mungil dari gadis kecil berusia tiga tahu terdengar.
"Eh? emang kamu nggak marah kalau aunty peluk daddy?" Senja berjalan mendekat dan berjongkok di depan Sisi yang duduk merapat pada ayahnya di sofa.
Gadis kecil itu menggeleng. "Kata daddy, Sisi nggak boleh malah kalau aunty peluk daddy. Kalena aunty nggak akan ambil daddy dali Sisi. Kan aunty sudah punya uncle Bas."
Farri memang sudah menasehati putri kecilnya untuk bersikap baik pada Senja.
"Pinter banget sih, ponakan aunty." Senja tersenyum dan mengusap kepala keponakannya. "Kalau peluk Sisi dulu boleh, nggak?"
Gadis kecil itu kembali mengangguk. "Kata daddy, Sisi boleh dipeluk sama olang yang Sisi kenal. Tapi nggak boleh sama olang asing."
"Uuuh gemesnya." Senja memeluk lembut gadis kecil yang kini sudah pandai berbicara itu.
*
*
*
__ADS_1