Langit Senja

Langit Senja
Tetap Tak Biasa


__ADS_3

Setelah pagi hari Senja mendapati Baskara tidur meringkuk di sofa dalam kamarnya. Hubungan mereka kembali membaik. Dan mulai saat itu juga Senja tidak akan membuat Baskara marah lagi. Kecuali jika dirinya khilaf.


Senja menghela napas. Hari masih pagi, tapi mendung sudah menggantung di langit kota New York. Dapat ia pastikan gerimis akan segera turun. Membuat langkah kakinya semakin cepat menyusuri jalan menuju gedung utama tempat ia menimba ilmu.


Gadis itu semakin mengeratkan mantelnya. Ia suka hujan. Suka dengan aroma basah ketika rinai membasahi bumi. Tapi Senja tak suka dengan suhu rendah seperti saat ini.


Senja lebih suka hujan dikotanya tumbuh besar. Gerimis yang selalu terasa menenangkan. Hujan yang dapat ia nikmati untuk bermain dibawahnya dan selalu dapat menyamarkan rasa.


Libur semester sudah didepan mata. Tapi seperti biasa, Senja tidak ingin kembali ke Jakarta hanya untuk beberapa minggu libur. Ia lebih memilih semakin mengasah kemampuannya dalam mendesain. Mencari ilmu dari orang yang lebih profesional dan berpengalaman.


Ketika dua minggu lalu ia dengan ditemani Baskara menghadiri acara fashionweek, ia mendekati salah satu desainer yang cukup terkenal meski bukan nomor satu. Dan setelah Senja memeperlihatkan buku sketsa gambar miliknya, ia di izinkan untuk menjadi asisten sang desainer selama masa libur musim dinginnya.


Tentu saja Senja sangat merasa senang. Siapa yang tidak senang mendapatkan kesempatan langka seperti itu.


"Tugas untuk musim dinginmu sudah selesai?" Maureen berdiri di sebelahnya yang tengah memesan coklat hangat. Sepertinya minuman manis itu cocok untuk cuaca yang kurang bersahabat akhit-akhir ini.


"Aku bahkan baru menyelesaikan desainnya. Belum membeli bahan dan menjahitnya." keluh Senja yang masih sulit meninggalkan kebiasaan buruknya dalam menyelesaikan tugas. Gadis itu menerima pesanannya dan melangkah meninggalkan kafetaria bersama Maureen yang sudah lebih dulu mendapatkan minuman hangatnya.


"Aku harap bisa segera selesai sebelum libur musim dingin. Atau kau bisa mendapatkan nilai yang buruk."


Senja semakin mengerang mendengarnya. Kenapa ia sulit sekali mengerjakan tugas tepat waktu. Ia lupa memperkirakan waktu hingga kesulitan sendiri seperti saat ini.


"Kau sudah mendengar tentang Robert yang sudah keluar dari penjara?" tanya Maureen mengalihkan topik pembicaraan. Keduanya berjalan melewati lorong menuju kelas pertama mereka di hari itu.


"Yeah aku tahu dia hanya dihukum tiga bulan. Tapi tidak tahu kapan tepatnya pria itu keluar."


Saat itu Maureen sangat menyesal meninggalkan Robert di apartemen Senja. Gadis itu bahkan tak henti mengucapkan maaf hingga membuat Senja risi. Lagi pula bukan sepenuhnya kesalahan Maureen. Kalau saja Senja tidak mengiyakan permintaan Maureen untuk mengadakan pesata di apartemennya, Senja rasa semua itu tidak akan terjadi.


Benar kata Baskara. Senja kurang waspada dan mengenali lingkup pergaulannya.

__ADS_1


Sejak saat itu pula, meski Senja tidak pernah mengatakannya. Maureen tidak pernah lagi mengajak sahabat Asianya itu untuk ikut jika mereka melakukan hal yang berhubungan dengan minuman keras.


Maureen mengangguk mengerti. Siapa yang peduli kapan pria yang hampir melecehkannya keluar dari balik jeruji besi.


"Kudengar dia dari keluarga kaya. Tapi orang tuanya tidak ada yang peduli karena Robert terlalu banyak berbuat ulah."


"Apa dia akan segera kembali kuliah?" tanya Senja sedikit takut. Ia tak pernah berharap untuk kembali bertemu dengan Robert. Jika bisa, Senja berharap selama sisa waktunya di NY, mereka tidak pernah bertemu atau berpapasan sekalipun.


"Entahlah." Mauren mengangkat bahu. "Kurasa meski tidak peduli dengan ulah yang dilakukan Robert, bukan berarti orang tuanya ingin dia tidak memiliki masa depan."


Senja mengangguk mengerti. Orang tua mana yang tidak ingin melihat anak mereka sukses dikemudian hari. Sekalipun anak itu mempunyai banyak catatan buruk dimasa mudanya.


***


Salju semakin lebat memenuhi kota. Senja baru keluar dari gedung sebuah butik terkenal tempatnya mencari ilmu tambahan.


Meski sudah memakai mantel yang tebal dan juga tak lupa topi rajut yang menutupi hingga telinganya supaya hangat, juga sarung tangan yang tak pernah ketinggalan. Tetap saja Senja masih merasa kedinginan. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah dan menyalakan penghangat.


Senja memang tidak pernah berani mengendarai mobil sendiri jika jalanan dipenuhi salju seperti saat ini. Ia lebih memilih menggunakan angkutan umum dan selamat sampai tujuan.


Sebuah mobil yang sangat dikenalnya berhenti tepat di depannya. Gadis itu menggeleng dengan senyum tipisnya.


"Ngapain di jemput. Gue bisa pulang sendiri." omel Senja yang sudah memasuki mobil dan memasang sabuk pengamannya.


"Ini udah lewat jam makan malam tapi lo belum pulang. Makanya gue jemput." tutur Baskara yang mengambil selimut di jok belakang dan menyelimuti kaki Senja.


Ia tahu sahabatnya itu tidak suka dingin. Meskipun Senja sudah memakai celana panjang tapi pasti masih saja merasa kedinginan.


"Tapi hari ini dingin banget. Mending lo tungguin di apart aja."

__ADS_1


Selama liburan kali ini, Baskara memang tinggal di apartemennya. Baskara memutuskan untuk tidak berlibur di Jakarta karena libur kali ini ia merasa sudah memiliki Senja yang bisa mengisi waktu liburnya. Meski Senja harus bekerja sebagai seorang asisten desainer. Dan Baskara mendukung saja.


Baskara selalu melakukan hal terbaik yang ia bisa untuk mensuport Senja. Seperti menyiapkan sarapan sebelum Senja berangkat bekerja. Dan makan malam untuk menyambut Senja yang lelah.


"Gue bukan lo yang benci dingin. Gue nggak masalah sama dingin ginian doang."


Senja tidak peduli dengan sanggahan sahabatnya. "Besok mau jalan kemana? sekalian ngerayain desain pertama gue yang diterima klien!" soraknya sedikit heboh.


Jika weekend memang Baskara selalu mengajak Senja jalan. Meski hanya menonton atau makan di restoran maupun ngopi di cafe.


Tapi hal tersebut tidak pernah absen mereka lakukan. Terlebih Baskara yang bosan hanya menatap dinding apartemen Senja selama berhari-hari.


Dengan membawa mobilnya hati-hati kembali ke gedung apartemen Senja. Baskara mendengarkan setiap celotehan sang sahabat. Dari klien yang tertarik dengan tawaran desain yang ia buat, hingga pujian dari desainer yang memberinya kesempatan itu.


"Pokoknya ini prestasi besar banget buat gue, Bas." seru Senja terlihat begitu bahagia. "Nilai A+ dari dosen nggak seberapa dibanding yang ini."


Siapa yang tidak senang hasil desainnya akan di jadikan gaun pernikahan yang akan di pakai oleh salah satu klien mereka yang termasuk orang terkaya di NY.


Meski orang tidak tahu itu hasil rancangannya. Tapi ia akan tetap bangga karena untuk pertama kalinya hasil ide yang muncul dari otaknya benar-benar dipakai oleh seseorang. Bahkan di hari pernikahan.


"Cantiknya gue memang selalu membanggakan." ucap Baskara ikut senang. Sebelah tangannya mengusap kepala Senja. Sedikit mengacak rambut gadis itu. Membuat pipi Senja merona seketika.


Kalimat seperti itu sudah sering Baskara ucapkan untuknya. Namun Senja tetap saja tidak bisa terbiasa.


Dan kenapa pula rambutnya yang di acak-acak, tapi jantungnya yang berantakan.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2