Langit Senja

Langit Senja
Dua Bumil Nakal


__ADS_3

Senja merasa sangat bahagia. Sudah lama sekali rasanya ia dan sang suami tidak memiliki waktu berdua seperti hari ini. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tak mudah mereka dapatkan, Senja mengajak Baskara kebanyak tempat. Termasuk berburu makanan pesanan Jingga.


"Diangkat dulu telefonnya, ayy!" Baskara meminta istrinya mengangkat panggilan pada ponselnya yang sedari tadi tidak berhenti berbunyi. Habis satu panggilan, akan disusul panggilan yang lainnya.


"Males, ah. Paling juga Jingga mau ngingetin pesanannya. Lagian udah deket rumah juga." jawabnya mengabaikan Jingga yang sejak beberapa saat yang lalu tak henti mencoba menghubunginya.


"Kalau penting gimana? atau kalau baby Anna rewel gimana?" Baskara yang baru pertama kali meninggalkan putri kecilnya sebenarnya merasa berat. Tapi tidak mungkin juga ia terus berada dirumah, mengabaikan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga untuk mencari nafkah.


"Jingga baru telefon beberapa menit yang lalu." jawab Senja dengan melihat riwayat panggilan dari saudara iparnya itu. "Jadi kalau memang Anna rewel, dia nggak akan nangis begitu lama sampai kita tiba dirumah mama." imbuhnya mengingat mereka yang sudah memasuki kompleks perumahan tempat mereka tinggal.


Lagi pula, Senja ingin Jingga merasakan bagaimana repotnya ia ketika dititipi Sisi dulu.


Begitu mobil terparkir dihalaman, pintu utama langsung terbuka dengan Jingga yang berkacak pinggang.


Senja masih mengabaikan Jingga dan justru memanggil asisten rumahtangga untuk membawa makanan yang ia beli didalam mobil kedalam rumah.


"Lo tuh kenapa sih, gue telefon nggak diangkat angkat! abang tadi telefon katanya mau pulang cepat tau nggak! kalau sampai abang tau gue makan begituan kan bisa berabe! padahal gue udah pengen banget!" Jingga langsung menyerang Senja dengan kata-katanya begitu adik iparnya itu menaiki tangga teras. "Senja, iih!" serunya kesal karena Senja hanya menatapnya tanpa rasa bersalah karena mengabaikan panggilan telefonnya.


"Udah ngomongnya?" balas Senja masih dengan wajah datar dan alis terangkat sebelah. "Pertama, gue cuma terima telefon penting tentang anak gue! siapa juga yang peduli kalau lo dimarahin abang makan begituan? kan bukan gue yang nyuruh." Senja memeletkan lidahnya meledek Jingga.


"Kedua. Dari pada lo ngabisin waktu buat merepet nggak jelas. Mending sana angetin makannya di microwave sebelum laki lo pulang." Senja membalik tubuh Jingga dan mendoronganya masuk kedalam rumah.


Sedangkan Baskara sudah masuk terlebih dahulu mengabaikan dua ibu hamil yang tengah berdebat didepan pintu.


Pria itu memeriksa keberadaan putrinya yang ternyata tengah tertidur. Setelah meninggalkan ciuman didahi sang putri, Baskara menuju ruang ganti untuk berganti baju rumahan.


Ia harus segera menyelesaikan tugasnya mempelajarinya dokumen perusahaan yang orang kantor kirimkan setelah makan siang tadi.


Meski ia memilih untuk menghabiskan sisa jam kerjanya dengan sang istri. Ia akan mengganti dengan bekerja dirumah. Agar dunia kerja dan duania rumahtangganya berjalan dengan seimbang.


***


Farri yang sengaja pulang lebih awal memarkir mobilnya disebelah mobil Baskara. Pria bertubuh tinggi itu bersiul dengan memainkan kunci mobil dijari telunjuknya.

__ADS_1


Tapi begitu memasuki rumah, ia merasa heran karena tidak mendapati istri kecilnya yang biasa menyambut ketika ia pulang kerja. Padahal sebelumnya ia sudah memberi kabar akan pulang lebih awal. Karena rencanya mereka akan melakukan pemeriksaan kandungan.


Sampai diruang tengah, ia mendengar tawa dari suara-suara yang ia kenal dari arah dapur. Suara yang membawa langkahnya untuk menuju kesana.


Suara siapa lagi yang akan begitu heboh dirumah itu jika bukan istri dan adik tersayangnya.


Dahinya mengerut begitu mencium aroma-aroma khas makanan begitu ia sampai di pintu penghubung. Ada juga aroma pedas yang cukup menyengat. Membuatnya berdecak dan menggelengkan kepala.


Ia bersandar di dinding penghubung, melipat kedua tangan di dada dan memperhatikan apa yang tengah istri dan adiknya lakukan.


"Aaah kenyangnya... Lo habisin ya, Ja!" ujar Jingga setelah mencoba beberapa suap makanan yang ia inginkan dan menghabiskan satu porsi seblak dan ayam goreng dengan ekstra pedas.


"Ogah! gue udah kenyang tadi makan di luar." tolak Senja yang sedari tadi hanya mencicipin sedikiiiiiit tiap makanan yang tengah Jingga makan.


"Yaaah... Sayang kan, Ja, kalau dibuang. Enak semua begini." Jingga menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya ia masih ingin makan. Tapi mengingat ia tengah hamil dan ia sudah memakan dua porsi penuh makanan pedas dan beberapa suap makanan pedas lainnya, membuatnya tak berani mengambil resiko.


Ia sayang pada calon anak keduanya. Dan ia juga masih menyayangi nyawanya. Tak ingin suaminya mengamuk. Karena suaminya pasti akan menghabisinya jika tahu apa yang ia makan kini.


Ia mendekat dengan langkah hati-hati. Agar tidak menimbulkan suara dan membuat keduanya menyadari keberadaannya.


Begitu sampai dibelakang dua ibu hamil yang masih saja berdebat, ia langsung menarik telinga kanan Senja, dan telinga kiri istrinya.


"Aww!!"


"Aaww!!"


Pekik Senja dan Jingga bersamaan.


"Bagus ya kalian!" hardik Farri.


Jingga menoleh dengan takut. Begitu juga dengan Senja. Meski rasa takutnya tak melebihi Jingga.


"Abang?" ucap Senja

__ADS_1


"Eehh su-suamiku yang ga-ganteng ud-ah pulang.. kok aku nggak denger bang?" ucap Jingga hampir disaat yang sama dengan Senja.


"Giamana kalian mau denger! kalau kalian lagi asik-asik makan sambil ngerumpi!" sindir Farri. "Enak makanannya, hm?" tanyanya kemudian dengan senyum dingin yang bagi Jingga dan Senja terlihat menakutkan. Membuat keduanya merinding.


"Le-lepas dulu dong, bang! sakit tau! aku aduin papa nanti!"


"Aduin aja, sana! biar sekalian abang aduin kalau kamu makan makanan begituan!" ancam balik Farri pada adiknya. Tapi karena tak tega melihat telinga adik dan istrinya yang sudah memerah, akhirnya ia lepaskan juga.


"Marahin aja semua, bang!" kompor Baskara yang akan mengambil minum.


"Iih sayang kok kamu tega sih, sama aku?! aku kan nggak ikut makan, cuma icip doang!"


"Sama aja!" sahut Baskara, Farri dan Jingga bersamaan.


Senja sudah akan bangun dari duduknya untuk meminta perlindungan sang suami, tapi bahunya ditekan oleh kakak sulungnya untuk kembali duduk.


"Mau kemana? urusan kita belum selesai adikku yang nakal!"


"Kok aku sih, bang?! kan yang makan Jingga!"


"Eeh lo juga makan!" protes Jingga begitu merasa adik iparnya itu akan melimpahkan kesalahan padanya seutuhnya. "Senja yang salah bang. Ini semua sogokan dari adikmu biar aku jagain Anna selama dia kencan." Jingga melirik Senja yang duduk disebelahnya dengan lirikan meledek.


"Heeii! kan lo yang minta! kalau lo nggak minta semua ini, mana mungkin gue beliin!" Senja juga tidak terima disalahkan.


Baskara yang niatnya akan kembali kekamar merasa sayang untuk melewatkan tontonan seru itu. Ia duduk diseberang Jingga dan Senja yang masih saling menyalahkan. Dengan tangan yang mengambil garpu untuk mencicipi cilok berbumbu kacang yang susah payah ia cari tadi.


Sedangkan Farri sudah memijat pelipisnya. Merasa pusing mendengar istri dan adiknya yang tidak ada bedanya. Sama-sama seperti anak kecil dan tidak ada yang mau mengakui kesalahannya. Saling berseru untuk menyalahkan satu sama lain.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2