
"I Love You." Baskara berbisik dengan mengecup lembut leher jenjang Senja. Mengalirkan getaran yang terasa baru bagi gadis itu. "Percaya sama aku kalau dihati aku sekarang, besok dan sampai akhir cuma ada kamu." suara Baskara berubah serak dan terdengar seksi di telingat Senja.
Suhu tubuh Senja rasanya meningkat begitu Baskara menyesap lehernya semakin kuat yang Senja yakin akan meninggalkan bekas kemerahan nanti. Belum pernah berpacaran bukan berarti Senja tak mengetahui hal semacam ini. Ia bahkan tak jarang mendapati leher Jingga penuh dengan bekas kemerahan yang saat pertama kali ia tanya, Jingga hanya tertunduk malu-malu dan menjelaskan itu adalah ulah kakaknya. Dan sekarang ia merasakannya sendiri.
Tulang-tulangnya terasa bagai jelly. Gadis itu bahkan tanpa sadar menahan napasnya. Bertanya dalam hati apakah Baskara akan meminta haknya saat ini juga?
Ia hanya mempu menatap tampilan mereka dari cermin yang ada di depanya sekilas sebelum memejamkan mata. Dimana Baskara memeluknya dari belakang dan bibir yang tak berhenti menjelajah leher putih jenjang miliknya.
Ia masih merasa cemas mengingat tentang malam pertama. Ia merasa takut. Dan hal yang paling ia takuti adalah hamil. Mungkin nanti ia harus membicarakan masalah momongan sebelum Baskara meminta haknya.
Menerima Baskara sebagai suaminya berarti siap melayani pemuda itu secara lahir dan batin. Siap tak siap. Takut tak takut. Ia akan tetap melakukannya. Karena ia yang sudah mengambil keputusan untuk menerima lamaran Baskara. Berarti ia juga harus menerima paketnya juga. Paket sebagai istri yang baik dan idaman.
Lenguhan kecil lolos dari bibirnya begitu Baskara berhasil membuat tanda kemerahan kedua dan berpindah ketempat ketiga.
Seoalah tersadar mendengar lenguhannya, Baskara memisahkan diri. Tersenyum malu dan meminta maaf.
"Maaf Ay. Kelepasan." pemuda itu menegakkan tubuhnya. "Mandi gih. Nanti bisa-bisa aku lepas kendali padahal kita udah di tunggu makan malam."
Tak menunggu waktu lama untuk Senja segera berlari. Dia sangat malu. Padahal bukan ia yang berbuat mesum karena ia hanya diam saja. Tapi tetap saja ia merasa malu. Terlebih lagi ia juga kelepasan mengeluarkan suara yang tak bisa ia kendalikan tadi. Suara yang sebelumnya tak pernah ada.
"Kenapa pake bersuara sih begoo!" makinya memukul mulutnya pelan begitu pintu kamar mandi tertutup keras karena gerakannya yang terburu-buru.
Hari semakin gelap, Senja langsung mandi karena tak ingin datang terlambat di hari pertama makan malamnya bersama dua keluarga setelah ia resmi menyandang status sebagai nyonya muda Lazuardi.
Jika ia terlambat bisa dikira mereka ngapa-ngapain lagi di kamar! meskipun tak sepenuhnya tebakan itu salah.
Apa yang Baskasa lakukan tadi padanya termasuk ngapa-ngapain kan?
***
Jika tidak ingat hari masih sore dan mereka punya janji makan malam, tidak mungkin ia melepaskan Senja begitu saja.
Belum lagi kamar pengantin mereka yang akan sia-sia jika mereka melakukannya dikamar yang kondisinya cukup berantakan ini.
__ADS_1
Berantakan karena berisi barang-barang milik MUA juga gaun pernikahan milik Senja yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. Juga seserahan pernikahan yang ia berikan untuk Senja yang tertata tapi diatas meja dekat sofa disudut lain ruangan.
"Senja kaget nggak ya, tadi aku langsung nyosor aja." runtuknya baru menyadari kesalahannya.
Senja pasti akan mengira ia pemuda mesum dan tidak sungguh-sungguh mencintainya.
Senja pasti akan mengira ia hanya menginginkan tubuh istrinya itu ketika mengajak menikah. Meskipun ia mengakui itu salah satu alasan terkecilnya.
Benar kata orang. Jika laki-laki dan perempuan hanya berdua yang ketiganya adalah setan.
Ia lelaki normal. Sering menginap di apartemen Senja yang sering kali jika malam hanya memakai piyama pendek atau sekedar kaos oblong yang justru terlihat seksi baginya, jelas mengundang hasratnya.
Untung saja ia masih memiliki iman yang cukup untuk menahan diri hingga mampu menghalalkan gadis itu untuk ia sentuh.
Senja menyembulkan kepalanya dipintu kamar mandi. "Bisa tolong dorongin koper ke sini nggak, Bas." pintanya dengan malu. "Aku lupa nggak bawa ganti."
Baskara mengerucutkan bibirnya begitu mendengar Senja masih memanggiknya 'Bas'. Meskipun sedikit kesal tapi ia tetap menuruti permintaan istri tercintanya tanpa berkata apa pun. Kenapa ekspresi istrinya begitu lucu. Apalagi ketika tadi dengan wajah merah padam Senja berlari memasuki kamar mandi. Ingin sekali ia tertawa melihat tingkahnya.
Bahaya jika ia terus berada didekat Senja sedangkan ia masih dikuasai *****.
***
Tok tok tok
Suara pintu diketuk membuat Senja meletakan hairdryer keatas meja rias untuk membukakan pintu.
"Eh Mia. Masuk Mia." Senja membuka pintu kamar lebar mempersilakan Mia untuk masuk. "Tadi kenapa pergi nggak bilang? malu tahu ada Babas tiba-tiba. Mana lagi nyeritain di lagi!"
Mia terkekeh. "Mas Bas yang ngelarang bilang ada dia. Orang masnya kasih kode buat diam terus disuruh keluar."
Ooh jadi itu ulah suaminya yang mengusir Mia dari dalam kamar. Ia jadi bertambah malu sendiri. Tak hanya pada Baskara tapi juga pada Mia.
"Aku kesini juga cuma mau beresin perlengkapan make up aja kok kak." terang Mia mulai membereskan perlengkapan milik bosnya kedalam kotak. "Tenang aja. Nggak akan ganggu kakak yang mau bermesraan" imbuhnya dengan tergelak.
__ADS_1
"Bermesraan apa? orang kita nggak ngapa-ngapain kok." sangkal Senja dengan wajah memanas berubah merah.
"Oh ya?" Mia berlagak terkejut. Menghentikan aktifitasnya untuk beberes. "Kalau kalian nggak ngapa-ngapain terus ini apa kak?" tanyanya dengan menggoda menunjuk tanda merah dilehernya.
Senja membulatkan mata. Lupa akan hal itu dan langsung menutupinya dengan tangan. "Iiih jangan lihat! kamu masih kecil!"
Mia tergelak mendengar perkataan Senja. "Aku udah 17+ kak! bukan anak kecil lagi."
Senja berdecak tak suka. "Tetap aja kamu nggak boleh lihat!"
"Iya deh terserah kakak aja." lebih baik ia mengalah dari pada harus berdebat dengan orang yang tengah jatuh cinta. "Mau aku bantu tutupin nggak kak?" tawar Mia mengacungkan salah satu make-up pada Senja yang dibalas anggukan antusias penuh rasa terimakasih.
Mia mengoleskan entah apa Senja tidak tahu namanya. Yang jelas itu berhasil menutupi bekas kemerahan di lehernya dengan sempurna.
"Makasih ya Miaaa.. Ternyata kamu dateng buat jadi malaikat penolongku."
Bisa-bisanya jika ia lupa seperti tadi. Ia pasti akan menjadi bahan godaan keluarganya nanti. Terutama abangnya yang usil.
Bertepatan Mia menutup pintu untuk keluar. Pintu kamar mandi terbuka dengan Baskara yang hanya menggunakan handuk menutupi pinggangnya kebawah hingga lutut. Air menetes dari tambut pemuda itu. Baskara juga lupa tak membawa ganti. Tapi ia tak perlu malu-malu seperti Senja tadi. Ia melenggang saja tanpa rasa malu dan dosa.
"Ada siapa tadi?"
Senja tersadar dari apa yang ia lihat dan berteriak kencang dengan kedua tangan menutupi wajahnya. "BABAS PAKAI BAJU DULU SEBELUM KELUAR KAMAR MANDI!!"
Baskara semakin ingin menggoda istrinya. "Kenapa? kita kan udah menikah. Masa pakai handuk doang aja nggak boleh! padahal nggak pakai apa-apa juga nggak pa-pa."
"Iiih buru pakai bajunyaa!" ucap Senja gemas dengan tubuh masih membelakangi Baskara.
*
*
*
__ADS_1