Langit Senja

Langit Senja
Yakin?


__ADS_3

Baskara semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Senja. Kenapa gadis itu membawa pria lain kedalam tempat tinggalnya di jam berbahaya seperti ini. Bahkan disaat keduanya tidak memiliki hubungan apa pun.


Mungkin jika tadi Senja mengatakan Robert adalah kekasih gadis itu, Baskara bisa sedikit lebih mengerti. Mungkin waktu hari ini masih belum cukup untuk mereka lalui bersama. Meskipun hal itu tetap salah.


Senja tak mengenal betul pria yang di izinkannya memasuki daerah pribadinya itu. Untung saja dia datang tepat waktu. Kalau tidak, Baskara bahkan tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi dengan sahabatnya.


"Kalau kalian nggak ada hubungan apa-apa. Terus ngapain dia disini tengah malam begini?" tanya Baskara sekali lagi karena Senja seperti kebingungan untuk menjawab. Kali ini dengan emosi yang lebih stabil dan nada bicara yang menurun.


Senja hanya mampu menunduk. Ia bingung harus menjawab apa. Jika ia mengatakan sebelumnya juga ada teman-temannya yang lain, pasti Baskara akan lebih marah lagi. Karena pemuda itu pasti akan tahu jika mereka habis meminum minuman keras -meskipun ia tak menyentuhnya sedikitpun- dari bau alkohol yang menguar dari Robert.


Tapi jika tidak mengatakan yang sejujurnya, Baskara akan semakin salah paham dan mungkin saja sahabatnya itu akan mencapnya sebagai gadis nakal karen berduaan dengan seorang lelaki dijam seperti ini.


"Lo tahu itu bahaya, Ja?! Disini nggak ada yang bisa bener-bener lo percaya... Jadi setidaknya lo bisa bertindak aman. Hindari segala hal yang mengundang bahaya!" tandasnya. Berharap Senja lebih mawasdiri lagi.


Masih dengan menunduk, Senja berujar. "Tadi ada anak-anak yang lain juga kok." cicitnya yang pada akhirnya mengaku. Kenyataan buruk masih lebih baik dari pada kebohongan yang terlihat manis yang berujung mengecewakan. Dan tentu saja Senja tidak ingin melakukan hal tersebut. Apa lagi kebohongannya tidak ada manisnya sama sekali. Jika ia berbohong akan tetap membuat Baskara marah. Dan bagi Senja sudah cukup mereka bermusuhan beberapa tahun lalu.


"Ngapain ngumpul disini?" tanya Baskara curiga. "Jangan bilang kalian habis pesta alkohol disini?" tebaknya tepat sasaran.


Dengan takut Senja mengangguk lemah. Ia pasrah menerima kemarahan dari Baskara. Dirinya memang bersalah dalam hal ini. Dan kesalahannya berujung dengan dirinya yang hampir saja celakan.


Bukan hal yang tidak mungkin jika Robert akan membunuhnya setelah puas menikmati tubuhnya. Karena jika ia masih hidup, sudah dapat di pastikan ia tak akan membiarkan Robert lolos begitu saja tanpa menjebloskannya dalam penjara dengan hukuman terberat yang bisa pengadilan berikan.


"Ya Tuhan, Ja!" Baskara menunduk memijat pelipisnya yang berdenyut. Kenapa ia jadi seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan putrinya?


Dan kenapa gadis yang ia khawatirkan harus sesusah Senja untuk diatur? "Kenapa lo malah semakin nggak terkendali begini sih?"


"Gue kira, kehadiran gue disisi lo bisa buat lo jauh dari teman-teman lo yang nggak bener. Jauhin lo dari bahaya yang ada disini."

__ADS_1


Senja semakin menunduk. Ia merasa bersalah dengan nada lemah Baskara.


"Gue kira lo selama ini senang dengan keberadaan gue." Baskara mendengus getir. "Ternyata kehadiran gue cuma bikin lo merasa tertekan. Sampai saat gue butuh ruang buat nggak hubungin lo, lo kembali pada teman-teman lo dan berbuat semaunya."


Senja mengangkat dagunya seketika. Menggeleng menolak praduga Baskara. Karena ia memang tidak tertekan sama sekali dengan kehadiran pemuda itu dan segala aturannya. "Bu-bukan gi-gutu, Bas."


"Bukan gitu gimana?" Baskara sampai menyerongkan duduknya untuk dapat menatap Senja lebih jelas. "Apa yang terjadi malam ini udah jelasin semuanya, Ja. Dan sepertinya kehadiran gue disini udah nggak dibutuhin lagi. Karena toh gue nggak bisa merubah apa pun."


Baskara beranjak. Tapi seketika pergelangan tangannya dicekal oleh sang sahabat. "Ma-mau kemana?" tanya Senja takut-takut. Baru kali ini Senja merasa takut dengan Baskara. Biasanya ia tak pernah mau mengalah dalam berdebat. Tapi kali ini Senja terlihat seperti anak kucing yang takut kehilangan induknya.


"Pulang, lah. Mau ngapain lagi gue disini?" tanyanya dengan sebelah alis yang terangkat.


"Jangan! gue mohon, Bas. Gue takut sendiri dirumah." ujarnya dengan nada semelas mungkin. Sedikit didramatisir agar Baskara tidak jadi meninggalkannya. "Lagian gue nggak bermaksud seperti yang lo bilang tadi koook.. Gue cuma kesel aja lo cuekin seminggu ini. Lo juga nggak datang hari ini padahal udah gue masakin. Jadi pas Maureen nawarin pesta disini karena lo nggak ngizinin gue ke club, ya udah gue setuju aja dari pada bete."


"Jadi sekarang lo nyalahin gue?"


Lagi pula kenapa Baskara juga sensitif sekali?


"Bu-bukan.." Senja menghela napasnya panjang. Tak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi. "Pokoknya apa pun itu, gue mohon temenin gue malam ini ya? Gue masih takut sama kejadian tadi."


Tak tega melihat wajah Senja yang sepertinya benar-benar takut, akhirnya Baskara mengalah. Menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. Duduk dan kembali membantu Senja mengobati lukanya.


Kali ini luka yang berada di leher jenjang Senja. Goresan cap kuku mewarnai kulit seputih susu itu. Empat kuku di leher sebelah kiri, satu lagi disebelah kanan.


Baskara menggeleng prihatin. Kenapa ada seorang lelaki seperti Robert yang tega berbuat kasar pada perempuan. Dan kenapa lelaki seperti itu harus bertemenan dengan sahabat yang ia sayangi.


Dengan tangan yang sibuk mengoles obat, Senja menceritakan semua yang terjadi sampai akhirnya Baskara datang.

__ADS_1


Baskara juga tetap menceramahi gadis itu agar lebih berhati-hati lagi. NY bukan negara mereka. Bukan tempat dan orang yang sudah mereka kenali sifatnya. Bukan tempat dimana banyak orang yang kita kenal untuk kita mintai pertolongan. NY adalah belantara yang tak mereka ketahui isinya.


"Sekarang tidur sana, udah mau pagi." jam di dinding menunjukan pukul tiga dini hari. Ternyata melaporkan Robert dan perdebatan diantara mereka cukup memakan waktu juga.


Senja menunduk. Memainkan kuku dijari tengah dan jempolnya. Seperti ragu ingin mengatakan sesuatu. Dan itu tertangkap jelas dimata sekelam malam milik Baskara yang tak lepas menatap gadis itu.


"Kenapa lagi?" kali ini Baskara sudah bisa berkata lembut seperti biasanya.


"Gue takut."


"Terus?" tanya Baskara bingung. Ia tahu gadis itu takut. Tapi kali ini apa yang harus di takuti. Apartemen sudah terkunci dengan aman. Dan ada dirinya yang siap menjaga Senja selama ia berada disana.


"Temenin." cicit gadis di depannya. Semakin membuat otaknya yang sudah berteriak meminta istirahat itu semakin tek mengerti.


"Temenin kemana? Tidur?" niatnya hanya sebagai bercandaan. Tak tahunya gadis didepannya justru mengangguk.


"Lo gila, Ja? ngajakin cowok tidur bareng?"


Senja mencebik kesal dan melayangkan pukulan cukup keras di lengan atas Baskara. "Maksud gue, lo tidur di sofa, gue tidur di kasur! bukan ngajak lo tidur bareng di kasur. Enak aja!"


Baskara langsung tergelak. "Yakin nggak mau ditemenin tidur di kasur sekalian?" godanya. "Kalau di sofa, gue ogah ah. Nanti bangun-bangun badan gue pada pegel lagi!"


Dengan menghentakan kaki kesal, Senja berlalu begitu saja dari hadapan Baskara dan menuju kamarnya. Tak peduli dengan Baskara yang kembali tergelak melihat tingkahnya.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2