
"Wiiih tumben nih bumil pagi-pagi udah di dapur." Jingga yang pagi itu turun untuk mengambil air minum berseru begitu mendapati Senja tengah mengenakan celemek didepan kompor. "Masak apa lo?" perempuan yang juga tengah hamil itu mendekat penasaran.
"Bikin sop ayam buat suami tercinta." jawabnya dengan senyum sumringah.
"Tumben banget. Biasanya juga nggak diijinin kedapur lo?"
Senja mengedik. Sekarang pun jika suaminya itu tahu dirinya memasak, pasti sudah melarangnya. Tapi berhubung prianya itu masih terlelap, jadi Senja bisa melakukan hal yang sudah lama tak ia lakukan itu.
"Dia lagi flu, makanya gue bikinin sop ayam."
Jingga yang sudah duduk dikursi yang ada disana untuk minum pun mengangguk. "Kata abang sapi-sapi dipeternakan Babas banyak yang mati. Udah dapat gantinya sekarang?"
Senja menjatuhkan sendok sayur ditangannya, untung saja mangkuk yang sudah terisi setengah itu tak ikut jatuh dan masih sempat Senja letakan di dekat kompor. Kalau saja jatuh, bisa saja kuah panas dari sup yang ia buat menyiram kakinya.
Dia tahu suaminya pergi keluar kota untuk masalah penting. Tapi ia tidak tahu jika masalahnya akan sepenting itu.
Sapi untuk perusahaan milik keluarga Baskara sama dengan oksigen. Jika pasokan oksigennya berkurang, matilah mereka. Hancur sudah perusahaan besar itu.
"Katanya Bas keluar kota buat cari koperasi sapi perah gitu ya, Ja? udah dapat sekarang?" Jingga yang tidak tahu jika adik iparnya itu belum tahu apa-apa terus saja bertanya. Terlebih ia tidak bisa melihat ekspresi wajah Senja yang saat ini pucat karena membelakanginya.
"Dengar-dengar juga, papinya Grace disini sibuk nenangin klien biar nggak ngajuin ganti rugi ke perusahaan. Gawat banget sih emang kalau Bas nggak bisa dapatin sapi-sapi pengganti. Apa lagi jumlah yang mati nggak sedikit. Klien-klien mereka kan juga perusahaan-perusahaan besar."
Tanpa perlu Jingga jelaskan, Senja juga tahu akan berakhir seperti apa jika suaminya tidak berhasil menyelesaikan masalah.
"Suami lo pasti sakit karena sibuk mondar mandir ya? cari yang mau kerja sama?" Jingga menopang dagu menatap punggung Senja yang tidak bergerak. "Tapi sekarang udah selesai kan, Ja? dengan kemampuan Babas yang-"
"JINGGA!" seruan Baskara di pintu dapur mengagetkan Jingga dan memotong kalimatnya. Juga menyadarkan Senja dari keterbekuan.
__ADS_1
Baskara menatap kakak iparnya itu tajam dan mendekat kearah istrinya yang kini tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak pa-pa sayang.. Nggak pa-pa. Semua baik-baik aja." ucapanya menenangkan sang istri. Mengusap bahu yang siap bergetar itu setelah sebelumnya ia mematikan kompor yang masih menyala.
Jingga yang baru paham dengan sikap Baskara kepadanya pun langsung memukul mulutnya merasa bersalah. Ia tidak tahu jika Senja tidak diberi tahu akan masalah ini. Dan ia pikir karena Baskara telah kembali, berarti masalah yang tengah pria itu alami sudah dapat diselesaikan dengan baik. Sehingga tidak masalah untuk membicarakan hal itu. Lagi pula, antara suami istri bukankah tidak boleh ada yang ditutup tutupi.
"Hei. Nggak pa-pa sayang.." Baskara masih mencoba menenangkan istrinya dengan lembut. Tapi istrinya semakin terisak. Hanya menangis tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Beberapa langkah kaki terdengar mendekat dengan tergesa. Mungkin mereka mendengar suara Baskara yang menggelegar ketika memperingatkan Jingga tadi.
"Ada apa?" tanya Tiara.
"Anak papa kenapa nangis?" tanya Alvaro juga disaat yang bersamaan. Tapi baik Senja maupun Baskara tidak ada yang menjawab. Karena Senja masih saja menangis dan Baskara masih mencoba menenangkan istrinya dengan pelukan dan usapan lembut.
"Kenapa Senja, yank?" tanya Farri pada istrinya. "Tadi Bas teriak manggil nama kamu, kenapa? kamu nggak papa kan?" Farri mendekat dan memeriksa kondisi istrinya. Ia kira tadi istrinya kenapa-kenapa. Dan sekarang ia bersyukur karena istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Jingga menunduk merasa bersalah. "Maaf bang, mah, pah." cicitnya menarik perhatian ketiganya pada ibu hamil itu. "Aku nggak tahu kalau Senja belum tahu apa-apa tentang perusahaan Bas. Jadi tadi aku nanya-nanya."
"Kenapa kamu nggak kasih tahu aku, mas?" suara Senja baru terdengar. Itu pun masih diwarnai tangisan. Terlebih kondisi kehamilannya membuatnya lebih emosional. Lebih sensitif dan mudah menangis. "Kamu pasti pusing sendirian. ya, disana? kamu capek sendirian. Sedangkan aku disini enak-enakan makan tidur doang."
"Enggak sayang.. Aku ada yang bantuin kok. Dan kamu udah seharusnya banyak istirahat. Nggak perlu mikirin yang macam-macam. Yang penting juga kan semua udah beres. Udah bisa aku tangani."
Senja kembali memeluk suaminya. Menangis tersedu-sedu. Merasa meski masalahnya sudah selesai, tapi ia masih merasa bersalah karena tidak memberi support dengan baik untuk suaminya. Ia bahkan tidak ada didekat Baskara untuk menemani masa-masa sulitnya.
"AAKH!!" pekik Senja memegang perutnya yang terasa sakit. "Mas sakit!"
Baskara yang panik dan ingin melihat kondisi istrinya tidak bisa karena Senja semakin memeluknya erat dengan mencengkeram punggungnya.
__ADS_1
"Mana yang sakit? lepas dulu ya sayang, biar kita bisa kerumah sakit." bujuk Baskara yang juga dibantu anggota keluarga yang lain yang tak kalah khawatir.
"Itu!!" seru Jingga menunjuk kaki Senja yang dialiri cairan cukup banyak. Lagi-lagi ketubannya pecah lebih awal.
Semua orang semakin panik dengan Senja yang tiba-tiba pingsan.
Dengan sigap, Baskara menggendong tubuh istrinya dan membawa kerumah sakit. Diikuti Farri yang sudah mengambil kunci mobil dulu sebelumnya.
"Mama sama papa nanti nyusul bawa perlengkapan Senja ya? sekalian hubungi Fani." ucap Farri pada kedua orang tuanya.
"Kamu dirumah aja jagain anak-anak. Terutama Anna. Takut dia nyariin daddy-nya." pesannya untuk sang istri. Karena semua bisa melihat bagaimana gadis kecil itu begitu senang melihat ayahnya kemarin. Jadi pasti nanti baby Anna akan mengamuk jika tidak mendapati Baskara ketika bangun tidur.
"CEPAT BANG!!" teriak Baskara dari dalam mobil dengan kaca jendela yang ia buka. Tak sabar menunggu kakak iparnya yang terlalu lama memberikan interuksi sedangkan didalam mobil Senja tengah mempertaruhkan nyawa.
"Sayang.. Bangun..." air mata tak dapat Baskara bendung. Tak bisakah Tuhan mengizinkannya untuk bernapas lega sejenak. Kenapa masalah datang bertubi-tubi padanya.
Masalah perusahaan baru saja selesai ia tangani. Tapi kenapa sekarang harus istrinya?
Kemarin Fani sudah berpesan padanya untuk menjaga kondisi emosi Senja agar tetap setabil dan jangan membuatnya banyak pikiran kerena tekanan darahnya yang cukup tinggi.
Dan pagi ini apa yang dikhawatirkan kakak ipar sekaligus dokter kandungan Senja itu terbukti.
Sedikit saja perasaan Senja terguncang, tapi seperti ini akibatnya.
*
*
__ADS_1
*
Terimakasih support kalian semua.. Buat komen-komennya juga terimakasih.. Nggak akan bosen ngucapin itu buat kalian reader tersayang ku ❤🤗