
Acara syukuran. Pemberian nama. Pemotongan rambut untuk baby Kai diadakan beberapa hari setelah bayi kecil itu dibawa pulang.
Seperti sebelumnya, untuk sementara Senja akan tinggal dirumah orang tuanya. Hingga mereka mendapatkan pengasuh yang bisa dipercaya. Meskipun rasanya Senja tidak rela anak-anaknya dipegang orang lain. Tapi ia juga sadar tidak bisa menjaga dua anak sekaligus sedangkan suaminya bekerja. Meskipun mungkin ia mampu saja, walau ia harus membagi waktu untuk baby Anna dan baby Kai.
Namun kedua orang tua dan suaminya bersikeras untuk mempekerjakan pengasuh. Setidaknya hanya untuk meringankan pekerjaan Senja. Bukan untuk mengasuh kedua anaknya secara full. Itu yang membuat Senja menerima keputusan orang tua dan suaminya.
Seperti biasa. Acara dihadiri anak-anak dari panti asuhan dan kerabat dekat saja. Tidak mengundang orang lain karena Senja tidak ingin baby Kai bertemu terlalu banyak orang diusianya yang sekecil itu.
Itu pun Senja sudah menurunkan standar keamanan untuk baby Kai. Tidak seperti baby Anna yang dulu bahkan ia tak mengizinkan teman-temannya untuk berkunjung dibulan pertama. Meminimalkan orang yang menemui putrinya.
Tapi sayangnya ia tak bisa memberlakukan hal seperti itu di Indonesia. Selain sanak saudara yang begitu banyak tak seperti di NY yang hanya ada teman-temannya. Juga pasti mereka akan menganggapnya berlebihan.
Grace dan orang tuanya juga datang bersama dengan Oma.
"Maaf ya Bas, Oma baru sempat menjenguk putramu." ucap ayah Grace dengan menyalami keponakannya itu. Disampingnya, sang istri tengah gemas melihat baby Kai yang di tidurkan diatas tempat tidur bayi berwarna putih sesuai tema hari itu yang serba putih.
"Bas tahu Om sibuk." ucap Baskara memaklumi. "Om bisa datang hari ini saja sudah membuat kami senang."
Ayah Grace tertawa dan menepuk pundak pria muda itu. "Bisa saja kamu." beralih ke Senja dan menanyakan keadaan ibu muda itu.
"Lihat Grace, apa kamu tidak ingin memiliki bayi selucu ini?" tanya ibu Grace pada putrinya yang hanya berdiri tanpa minta sedikitpun didekatnya.
"Ayolah mam.. Aku masih 22 tahun. Masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu." ucapnya melirik Senja dengan nada menyindir.
Tapi sayangnya tidak mempan karena Senja tidak tersendiri dengan hal itu. Karena ia bahagia memiliki Anna dan Kai dalam kehidupannya kini.
"Tapi tetap saja. Mami juga ingin menimang cucu." ucapnya mendesak.
"Kalau dulu tidak ada yang merebut Bas dari aku pasti sekarang yang punya cucu dua itu mami. Bukan orang lain."
__ADS_1
Senja sudah akan menyemburkan tawanya mendengar kepercayaan diri dari Grace. "Duh duh duh.. yang merasa calonnya direbut. Padahal cowoknya yang nggak mau." ucap Senja pada akhirnya. "Ups.. Sory." Senja menutup mulutnya berlagak keceplosan.
Meski ia sudah berusaha bersikap seperti apa statusnya kini yang sudah menjadi ibu. Tapi tetap saja jiwa bar-barnya berkobar jika menghadapi manusia-manusia macam Grace itu.
"Elo!"
"Grace!" ayah Grace memperingatkan putrinya untuk tidak membuat keributan.
Begitu juga dengan Baskara yang merangkul istrinya. "Sayang!" memperingatkan dengan lembut. "Bagus. Lanjutkan." bisiknya ditelinga sang istri. Membuat sang istri menatapnya heran dan tertawa dalam hati.
"Sudah. Sudah. Mari duduk. Acara sudah akan dimulai." ajak Aldo pada keluarganya.
***
Baskara sudah kembali kekantor. Karena tak juga mendapatkan pengasuh yang cocok dengan kriteria yang Senja ajukan, akhirnya yang membantu menjaga anak-anak mereka adalah asisten rumah tangga yang sudah bekerja lama dikediaman Alvaro. Orang yang sudah turun temurun mengabdi pada keluarga Shandika. Menjadi orang kepercayaan keluarga mereka.
Dan saat ini Baskara tengah menuju sebuah cafe yang sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia. Karena gerainya yang tersebar hampir di seluruh kota yang ada. Cafe yang mengajukan kerja sama untuk menyediakan bahan baku minuman untuk mereka.
Andi yang tengah duduk dibelakang kemudi menggeleng. "Tidak ada yang aneh dengan gerak-geriknya, pak. Juga sejauh ini belum ada orang yang terlihat mencurigakan bertemu dengannya."
"Awasi terus. Jangan sampai lengah."
Andi mengangguk dan mengiyakan perintah atasannya yang tengah memeriksa dokumen kerjasama disampingnya.
Mereka sampai di cafe pukul tiga sore. Dimana keadaan cafe tidak terlalu ramai karena bukan jam makan siang atau pulang kerja. Meski demikian cukup banyak meja yang terisi.
Mereka diantar ke ruangan private. Dimana ada pria yang Baskara taksir usianya baru dipertengahan tiga puluh. Cukup muda untuk menjadi owner cafe yang tengah hits dimana-mana itu. Juga seorang wanita muda berpakaian seksi yang Baskara tebak adalah sekretaris dari pria tersebut.
Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri sebelum pria itu mempersilahkan Baskara dan Andi untuk duduk.
__ADS_1
"Bagaimana pak Baskara, terjun didunia bisnis?" tanya pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Farhan itu.
Baskara tersenyum canggung. Karena sepertinya pria didepannya tahu masalah sapi-sapinya.
"Ya begitu lah, pak. Segala sesuatu tidak ada yang instan. Tidak ada yang mudah. Semua butuh proses dan belajar."
"Tentu. Tentu. Padahal mungkin anda sudah membayangkan tinggal duduk manis dengan perusahaan yang sudah berkembang seperti saat ini, kan?"
Baskara tidak tahu tujuan Farhan mengatakan itu semua padanya. Jujur saya ia merasa tidak nyaman. Tapi demi sopan santun ia hanya tersenyum tanpa mau menanggapi.
Namun sepertinya tidak dengan Farhan yang merasa belum puas. "Saya pikir anda akan menyerah dengan masalah perusahaan yang terjadi beberapa waktu lalu. Dengan pengalaman anda yang bisa dibilang belum tahu apa pun tentang dunia bisnis. Tapi sepertinya saya salah. Anda orang yang tangguh dan tidak mudah menyerah."
Baskara mendengus dan menyeringai. "Sepertinya anda tahu betul bagaimana kondisi perusahaan saya dan saya. Apa anda memata-matai kami selama ini?"
Farhan tertawa keras melihat sikap Baskara yang defensif. "Tenang anak muda. Nanti kamu akan tahu semua."
Mood Baskara sudah berantakan untuk melanjutkan pembicaraan ini. Tapi ia tidak bisa bersikap tidak profesional dan kekanakan seperti itu jika tidak ingin Andi memarahinya nanti. Karena sekali ia melakukan kesalahan yang cukup besar atau tak paham-paham. Andi tak segan untuk memarahinya.
Dan melihat pria didepannya tertawa puas seperti itu semakin membuatnya geram dengan alasan yang tak ia ketahui.
"Jadi pertemuan kita kali ini untuk membahas kerjasama atau bergosip masalah perusahaan saya, pak Farhan?"
"Kalau bisa keduanya kenapa tidak?" ucap Farhan semakin menyebalkan ditelinga Baskara. "Anggap saja ini perkenalan kita agar semakin dekat. Bukankah kita akan menandatangani kerjasama untuk waktu yang cukup lama."
Baskara menghela napas membenarkan. Tapi untuk masalah perusahaan, ia benar-benar tidak berselera untuk membahasnya. Setidaknya hingga ia menemukan siapa dalang dibalik itu semua.
*
*
__ADS_1
*