
Kesibukan masih terlihat dirumah orang tua Senja. Petugas ketering tengah membereskan pekerjaan mereka.
"Dua minggu lagi tinggal nyiapin acara buat cucu peppa nih." ucap Alvaro yang tengah memangku baby Anna. "Udah satu tahun aja, padahal bisa dihitung sama jari berapa hari peppa ngabisin waktu sama cucu peppa ini."
Senja tak mau kalah, ia ikut memeluk lengan sang ayah dan bersandar disana. "Anak gadis papa cuma Senja! bukan Anna, Sisi apa lagi Jingga!" lirik Senja kearah kakak iparnya.
Yang dilirik berdecih geli. "Lo boleh jadi anak perempuan kandung papa satu-satunya. Tapi selama lo nggak ada, gue anak gadis kesayangannya. Wleee."
"Papaaa.." rengek manja Senja menunjuk Jingga yang menggodanya.
Fani tak ikut-ikutan. Ia hanya ikut tertawa seperti yang lain dan tak ketinggalan gelengan kepala setiap melihat interaksi antara Jingga dan Senja.
"Senja ya Senja. Jingga ya Jingga. Begitu juga Fani, Zio, Sisi dan Anna.. Kalian punya porsinya masing-masing di hati papa." lerai Alvaro pada anak dan menantunya itu.
Tidak akan ada habisnya jika Senja dan Jingga sudah saling goda dan memperebutkan sesuatu.
***
"Senja mana?" tanya Baskara begitu memasuki ruang keluarga mertuanya dan mendapati Jingga tengah menyuapi Zio, Sisi dan Anna disana tanpa adanya sang istri.
Setiap pulang kerja ia memang selalu datang menjemput istri juga anaknya untuk kembali ke kediaman orang tuanya.
Dan sudah sejak seminggu yang lalu ia selalu pulang lebih awal. Ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk menemani kehamilan istrinya yang hanya menunggu beberapa minggu lagi akan melahirkan.
"Dibelakang, lagi ngawasin yang dekor buat acara Anna besok." jawab Jingga tak menatap Baskara sedikitpun karena tengah sibuk mengejar-ngejar Sisi juga Zio yang sudah mulai aktif kembali. "Stop dong Sisi. Zio. Mami capeeekk!" Jingga sedikit berteriak memanggil dua bocah yang semakin tak tentu arah dalam berlari.
Anna yang tertinggal sendiri karena baru bisa berjalan dengan berpegangan pun tak kalah memanggil kedua kakaknya dengan kata yang masih kurang jelas. "Iiiyyyooo... Ciiiii.."
Baskara yang melihatnya justru ngeri. Membayangkan bagaimana nanti repotnya sang istri ketika anak kedua mereka lahir.
__ADS_1
Dimana Senja harus mengurus baby Anna dengan baik tanpa melupakan adiknya. "Semoga mommy-mu bisa nak." gumam Baskara yang mengambil baby Anna dan membawanya kehalaman belakang untuk mencari sang istri.
Disana, sang istri terlihat cantik bermandikan cahaya Senja yang sore itu tengah bersinar cerah.
Dengan perut besarnya, Senja terlihat mondar mandir memberikan intruksi pada para pekerja dari EO yang menyiapkan acara untuk ulang tahun pertama putrinya.
Padahal mereka sudah menyepakati tentang model dekorasi yang mereka inginkan. Tapi dasar ibu-ibu tetap saja gatal jika tidak merubah sesuatu sesuai keinginannya. Pikir Baskara.
Pria itu berjalan mendekati sang istri yang belum menyadari keberadaannya. Memeluknya dari belakang dengan sebelah tangannya yang bebas.
"Jangan ganggu mereka, sayang." Senja terlihat kaget dengan sentuhannya yang tiba-tiba. "Mereka pekerja profesional. Mereka sudah ahli dibidangnya. Udah nggak perlu diragukan lagi hasil karyanya. Jadi jangan buat mereka mikir kalau kamu klien yang cerewet." ia cubit pipi yang kini terlihat lebih berisi dari pada saat hamil baby Anna dulu.
Ia saja jika dihadapkan dengan klien yang banyak maunya sering kali kesal dan menggerutu dalam hati. Jadi ia tak ingin orang lain merasakan hal yang sama apa lagi oleh orang terdekatnya.
"Udah pulang mas?" tanya Senja memberikan ciuman dipipi sebagai pengganti mencium tangan. Meski jelas-jelas suaminya itu berdiri dibelakangnya yang berarti suaminya itu sudah pulang.
"Abis lebih cepat dari kemarin."
"Maunya malah aku dirumah aja sampai kamu lahiran. Sayangnya kerjaan dikantor lagi banyak banget."
Baskara harus pintar-pintanya membagi waktu untuk sang istri ditengah pekerjaannya yang menunpuk.
Untung saja ia memiliki asisten yang dapat dipercaya yang mampu membantunya dengan baik.
"Tapi kamu pulang cepat nggak ganggu kerjaan kamu kan, mas?"
Senja pikir, masih banyak waktu sebelum prediksinya untuk melahirkan. Dan banyak orang yang menjaganya dirumah. Jadi ia rasa suaminya tidak perlu sekhawatir itu meninggalkan dirinya diusia kandungan saat ini.
"Pengalaman kamu melahirkan baby Anna yang tiba-tiba bikin aku takut sayang.. Aku takut anak kedua juga lahir lebih cepat dari prediksi dokter. Pekerjaan dikantor nggak ada yang bisa nandingin betapa pentingnya kamu dan anak-anak." ucapnya sedikit menggombal dengan kejujuran.
__ADS_1
Baskara bahkan menolak semua pekerjaan yang mengharuskannya untuk keluar kota. Ia akan meminta langsung untuk digantikan orang lain untuk tugas tersebut.
Untung saja perusahaan milik keluarganya sendiri. Jika ia bekerja untuk orang lain, mungkin ia sudah diberhentikan dengan tidak hormat sejak awal. Karena sering meninggalkan kantor sebelum waktu yang ditentukan. Juga sering menolak pekerjaan yang seharusnya menjadi tugasnya.
"Kalau Anna kan dulu cuma maju satu mingguan, mas. Kalau ini kan masih lama." tunjuk Senja dengan mengusap perutnya yang sudah sangat mengerucut kedepan.
"Ya nggak pa-pa.. Lagian aku kangen kalau terlalu lama jauh dari Senjanya Baskara." bisik Baskara tepat ditelinga sang istri. Membuat wajah putih cantik itu diwarnai dengan rona merah yang semakin membuatnya terlihat cantik. "Cantiknya.." Baskara menguap pipi istrinya yang memerah dan tak kuasa untuk mengatakan isi hatinya.
"Iiih.. Jangan digombalin mulu!" Senja memukul manja dada suaminya dengan tersipu-sipu.
"Siapa yang lagi gombal. Aku ngomong apa adanya sayaaaaang." cubitnya gemas pada pipi yang merona itu.
Kemesraan keduanya terinterupsi dengan teriakan seseorang dari arah pintu. "SENJA MASUK! SUDAH MAU MAGHRIB, PAMALI IBU HAMIL DI LUAR JAM SEGINI!" teriakan wanita yang tidak lain adalah ibu dari Senja.
Keduanya terkekeh dan meninggalkan halaman belakang dengan saling bergandengan tangan. Baby Anna masih setiap dalam gendongan sang ayah. Anak kecil itu bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada leher Baskara begitu mereka mendekati Senja.
Baby Anna tengah di titik paling posesif terhadap ayahnya. Seakan tahu jika sebentar lagi akan ada orang lain yang akan mendapatkan hak dan perhatian yang sama seperti yang ia rasakan saat ini.
Bahkan sekarang Anna tidak mau tidur di ranjang terpisah dengan orang tuanya meskipun masih dikamar yang sama.
Jika anak kecil itu terbangun diranjang lain, Baby Anna akan langsung menjerit dan menangis yang akan sangat susah untuk diberhentikan. Membuat Senja dan Baskara mengalah tidur bertiga dengan Anna asal putri kecilnya itu bahagia.
Dari pada membuat baby Anna menangis tiap malam. Ia lebih memilih untuk menyiapkan mentalnya untuk merasakan rasa sakitnya melahirkan yang bahkan sampai saat ini masih terbayang bagaimana rasanya.
*
*
*
__ADS_1