
"Selamat pagi Tuan." Sapa Bik Sumi yang sedang menyiapkan sarapan untuk Tuan mudanya.
Langit hanya berdehem saja kemudian mendudukkan dirinya di kursi untuk melaksanakan sarapannya.
"apa Senja berangkat pagi lagi Bik?" tanya Langit setelah memasukkan potongan sandwich kedalam mulutnya.
"dari kemarin Nona muda tidak pulang Tuan, dia ada belajar bersama temannya untuk menghadapi ujian pagi ini." terang Bik Sumi sesuai apa yang disampaikan Siska kemarin. Langit mengangguk lalu melanjutkan sarapannya kembali.
tak berselang lama tiba tiba seseorang duduk di samping Langit. pria itu menoleh sekilas lalu kembali menyuapkan sandwich yang sudah ia potong.
"ada apa?" tanya Langit tanpa menoleh kearah orang yang ditanya.
"kabar buruk." jawab orang itu singkat, namun mampu menghentikan kegiatan Langit yang sedang memotong sandwich nya kemudian menoleh pada Dylan. ya, orang yang datang tiba tiba itu adalah Dylan yang sekarang tidak perlu lagi dan juga dilarang keras oleh Langit untuk berbicara terlalu formal dihadapannya.
"dua hama kabur dari markas." lanjutnya.
Brraaakkk
Langit menggebrak meja makan yang terbuat dari kayu itu membuat Dylan terjengit kaget. pria itu lalu mengelus dada mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat karena terkejut tadi. bukan karena jatuh cinta ya.
"bagaiman bisa!" murka Langit. netra elangnya menatap tajam Dylan, rahangnya mengeras membuat Dylan bergidik ngeri.
"Salah satu anak buah kita adalah penghianat. tapi lo tenang aja, Jhony sudah menangkapnya." jelas Dylan. Langit langsung berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar dari mansion.
"mau kemana lo Ngit?" Dylan mengikuti langka Langit.
"markas."
"meeting kita?" Langit langsung menghentikan langkahnya membuat Dylan yang berjalan di belakangnya hampir menabrak punggung Langit yang tak kalah lebar dari punggungnya itu.
Langit tiba tiba membalikkan badannya membuat dua wajah pria itu hampir bersentuhan.
"mundur lo, gue masih normal." Langit mendorong pelan kening Dylan dengan telapak tangannya.
"marah aja masih bisa ngelawak lo Ngit." gumam Dylan yang masih bisa didengar oleh Langit.
"gue nggak ngelawak, gue serius. dan sekarang, lo urus perusahaan gue ke markas sama Jhony." perintah Langit.
Dylan membungkuk hormat "baik Tuan muda."
__ADS_1
Langit dan Dylan kemudian pergi dengan arah yang berbeda.
Sesampainya di markas, Langit di sambut oleh Jhony, orang kepercayaannya setelah Dylan. Jhony juga adalah sahabat Langit, sama seperti Dylan. mereka bertiga bersahabat sejak masa SMA nya.
"gimana?" tanya Langit setelah turun dari mobilnya.
oh ya, Langit bukanlah seorang mafia. dia hanyalah seorang pengusaha besar yang diincar oleh banyak musuh. Dan jika ada orang yang mengusiknya maupun keluarganya, jika bisa bebas oleh hukum negara dengan uang, maka ditempat yang ia sebut markas ini lah yang akan menjadi tempat hukuman para pengusik.
sebenarnya tempat ini bukan lah markas, ini adalah rumah pribadi Langit dan disebut markas, rumah itu juga ditempati oleh para bodyguard atau anak buah Langit juga sahabatnya Jhony.
"ada di ruang bawah tanah." mengerti apa yang ditanyakan Langit, Jhony memberitahukan tempat dimana ia memenjarakan atau menyiksa para musuhnya.
Langit mengangguk lalu menuju ke ruang bawah tanah dan diikuti Jhony dari belakang.
Brraaakkk
dengan amarah yang menggebu, Langit langsung menghampiri seorang pria yang duduk terikat diatas kursi dan mulut tertutup lakban itu lalu menendang kursi itu hingga terjungkal ke belakang.
sreekkk
setelah kursi beserta pria yang terikat kembali ditegakkan oleh anak buah Langit, pria itu menarik kasar lakban yang ada di mulutnya.
"Sejak saya jatuh cinta pada Diana." jawab pria itu, Santai.
"dan kamu rela mengorbankan nyawamu demi menyelamatkan nyawanya?" tanya Langit dengan geram. pria itu mengangguk tanpa rasa takut dengan menampilkan senyuman di bibirnya. bukan, bukan senyuman manis yang ia tunjukkan, tetapi sebuah seringaian.
Langit mengangkat tangannya yang sudah mengepal kuat akan meninju wajah pria itu.
Drrrrttt drrrrttt drrrrttt
Gerakan tangan Langit terhenti kala ponsel yang berada di saku celananya berdering.
"Jhon, lo urus dia." perintah Langit pada Jhony. pria yang satu tahun lebih tua darinya itu pun mengangguk dengan senang hati.
Langit pun keluar dari ruang bawah tanah lalu menuju ke ruang pribadinya yang berada di markas itu untuk mengangkat panggilan telepon dari seseorang.
"Hm" Dehem Langit setelah ia mengangkat panggilan.
__ADS_1
"Tuan, Nona muda sudah pulang." lapor seseorang dari seberang telepon.
Setelah mendapatkan laporan dari seseorang,Langit langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak dan bahkan tanpa ada ucapan terimakasih atau apapun. Ya, sudah satu minggu lebih secara diam diam Langit meminta pada Bik Sumi untuk melaporkan apapun yang Senja lakukan di dalam mansion. kapan Senja pulang sekolah, kapan Senja berangkat sekolah, dan apa yang gadis itu lakukan selama tidak ada di rumah. bahkan pria itu juga meminta pada Bik Sumi untuk memberi tahu padanya apa yang Senja katakan tentang dirinya.
Namun Sayang, sedekat apapun Senja pada Bik Sumi maupun Siska, Gadis itu masih takut untuk bicara jujur pada mereka. Karena menurutnya, mereka adalah orang orangnya Langit. bahkan, gadis itu hanya terbuka pada Sahabatnya Alya Saja. sedangkan Tania dan Jingga? hanya sebagian tahu.
mendengar istri kecilnya sudah kembali ke mansion setelah sejak kemarin tidak pulang, membuat pria itu merasa lega.
"ada apa denganku? kenapa perasaanku jadi merasa lega setelah mendengar dia sudah pulang?" monolog Langit, lirih. "ah, ada apa denganku, kenapa rasanya...." Ucapan pria itu terhenti, ia mengacak rambutnya merasa frustasi.
Langit langsung bangkit dari duduknya dan beranjak dari sana.
"Kemana?" tanya Jhony. pria itu berpapasan dengan Langit.
"pulang." jawab Langit tanpa menghentikan langkahnya.
melihat wajah frustasi Langit dan melihat pria itu seperti terburu buru untuk pulang, Jhony tersenyum mengejek sambil mengejar Langit yang terus melangkah keluar markas.
"Merindukan istri kecilmu?" tanya Jhony setelah ia berhasil menyamai langkah sahabatnya.
Langit menghentikan langkah nya dan menatap tajam pada Jhony. "Jhon, mau potong gaji atau pecat?" ancam Langit, membuat Jhony mencebik kesal.
"Ancam terooosss, udah sana pulang." Sindir Jhony, pria itu lalu mendorong pelan bahu Langit tanda mengusirnya.
Langit menatap kesal pada Sahabatnya itu. Namun tak ingin mendebat lagi, pria itu tetap berjalan kearah mobilnya.
Jhony memandang mobil yang dikendarai Langit hingga keluar dari gerbang utama. "Semoga pernikahan lo dan Senja langgeng Ngit, dan semoga lo nggak sia siain gadis kecil itu." gumam Jhony, lirih. ia kemudian masuk kedalam markas.
Sesampainya di mansion, pria itu langsung masuk dan di sambut oleh seorang wanita paruh baya itu.
"Selamat Siang Tuan." sapa wanita itu yang tidak lain adalah Bik Sumi. Langit hanya mengangguk saja lalu segera berjalan kearah lift menuju kekamarnya.
saat sampai didepan kamarnya, pria itu menghentikan gerakannya yang akan membuka pintu kamarnya. ia melihat pintu ber cat pink di sebelah kanan kamarnya. ia kembali melangkahkan kakinya menuju pintu itu dan mencoba membukanya pelan. setelah berhasil terbuka, ia mencoba melihat kedalam kamar itu. terlihat seorang gadis remaja yang terlelap dalam tidur siangnya di balik selimut. bukan, bukan tidur siang, karena ini sudah pukul 15:00 itu artinya tidur sore.
Secara perlahan, Langit mendekat kearah ranjang dimana Senja terlelap. pria itu menatap lekat wajah istrinya yang tak dia anggap selama ini.
"Cantik." gumamnya lirih, sangat lirih. Langit menarik sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman. Tangan pria itu terangkat ingin mengelus pipi putih milik Senja. Namun tangannya berhenti di udara saat sebuah suara terdengar dari mulut gadis yang masih menutup matanya.
"Jangan... tolong jangan kak. Kak jangan."
__ADS_1
***Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***...