
Jingga mengerjap gugup. Tatapan suaminya yang sulit diartikan membuatnya merasa terintimidasi. Jemarinya meremat kuat gaun dibelakang punggungnya.
Farri tiba-tiba menyodorkan tangannnya. "Coba abang lihat?"
Jingga menggeleng dan berjalan mundur. Ia tidak akan membiarkan suaminya melihat baju memalukan itu. Tidak akan pernah.
Jantung Jingga seperti menabuh genderang perang. Memburu dan sangat keras. Gadis itu menggeleng sebagai tanda penolakan.
"Kalau nggak mau kasih, di coba sana!" perintah Farri pada sang istri.
Jingga semakin menggeleng kuat. Ia ingin membuang baju itu. Tidak akan ia pakai. "Ji-Jingga janji nggak akan pakai bang, sumpah." Jingga mengangkat jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya pada Farri.
"Udah di beli. Sayang kalau nggak dipakai. Mubazir." cetus Farri yang semakin berjalan mendekat.
"Tapi aku nggak suka." cicit Jingga semakin takut. Bukan takut dalam arti sesungguhnya. Entah apa yang ia takutnya. Mungkin lebih tepatnya rasa gugup yang berlebihan. Membuat kondisi jantungnya tak baik-baik saja.
"Kalau nggak suka, kenapa dibeli?" ujar Farri. Ia sebenarnya sudah sangat ingin tertawa melihat wajah takut istrinya. Tapi ia takut istrinya akan semakin marah padanya.
Benar kata Senja. Istrinya tengah cemburu dan tak suka melihatnya dekat dengan wanita lain. Padahal ia tidak bermaksud demikian.
Farri membiarkan Gladis memeluk lengannya karena Farri tengah mencoba mengingat siapa gadis itu. Ia bahkan tidak sadar jika Gladis memeluknya. Ketika ia sadar, ia sudah ingat Gladis adalah sahabat lamanya. Jadi ia merasa tidak masalah. Tidak tahu jika itu membuat istrinya tidak suka.
"Ka-kan aku udah bilang. Nggak sengaja." bela Jingga dengan bibir mengerucut sebal.
Farri mengangguk seolah paham. Sedikit membuat Jingga bernapas lega. Namun sedetik kemudian rasa leganya sirna begitu mendengar ucapan sang suami selanjutnya.
"Karena sudah di beli. Jadi mending di pakai." Farri mengulurkan tangannya melewati pinggang Jingga dan meraih baju yang coba Jingga sembunyikan. Melihat baju dan sang istri bergantian.
"Kayaknya bagus kalau kamu pakai."
Jingga kembali menggeleng.
"Tapi pakainya cuma buat abang. Didalam kamar." imbuh Farri tegas. "Ayo coba. Abang mau lihat, pas nggak?"
Jingga masih menggerakan kepalanya kekiri dan kekanan berulang kali.
Farri semakin mengikis jarak mereka. Memeluk pinggang sang istri dan berbisik di telinga Jingga. "Pakai atau abang pakaiin?"
"Tapi abaaang.." rengek Jingga pada akhirnya. Mendorong dada suaminya menjauh sedikit.
"Kenapa?"
"Malu lah pakai baju begitu." tunjuk Jingga pada baju yang masih suaminya pegang. "Kaya wanita penggoda." cicitnya.
__ADS_1
Farri terkekeh. "Nggak cuma wanita penggoda yang pakai. Lagian kalau menggoda suami, apa salahnya? justru dapat pahala. Ayo coba." Farri memindahkan gaun itu ke tangan sang istri.
"Bang.." tatap Jingga memelas.
"Mau pakai disini atau di dalam?" tunjuk Farri pada walkin closet mereka.
"Abaaang.." Jingga masih merengek.
"Ooh mau abang aja yang gantiin?"
Sebelum Farri benar-benar merealisasikan ucapannya. Jingga sudah berlari membawa gaun sialan yang tadi dibelinya tanpa sengaja. Menyisakan tawa pelan sang suami.
Farri mendudukan dirinya di tepi kasur. Menunggu sang istri dengan bermain ponsel. Bermain game yang tengah banyak di gandrungi. Tanpa sadar waktu berlalu dan istrinya tak kunjung Keluar.
Farri meletakan ponselnya asal. Berjalan ke arah pintu penghubung ke walkin closet.
Tok tok tok
"Kenapa lama sayang?" ucapnya sedikit berteriak. "Ayo keluar. Atau abang yang masuk."
Kembali. Sebelum Farri benar-benar menerobos masuk, Jingga menyembulkan kepalanya di pintu.
Farri menatapnya dengan alis terangkat.
"Maluuu abaaangng." cicit Jingga dengan wajah memelas. Berharap suaminya berbelas kasih untuk tidak menyuruhnya keluar.
Jingga menggeleng dan mencoba menahan pintu agar tak suaminya buka.
"Sayang." panggil Farri lembut, namun tegas. "Jadi istri yang baik ya? ayo nurut."
Dengan perlahan, Jingga membuka pintu dengan kepala menunduk. Tidak berani menatap suaminya. Malu.
Farri terpaku di tempat. Meski masih remaja, namun Jingga cukup berisi didaerah-daerah tertentu. Jadi ketika gadis itu sudah berdiri di hadapan Farri dengan gaun ketat dan terbuka, Farri terpaku di tempat.
Ini memang bukan kali pertamanya melihat tubuh sang istri. Bahkan tanpa sehelai benang pun ia sudah melihat.
Tapi melihat Jingga dengan pakaian seperti itu, dahaganya meronta. Dahaga akan hasrat yang menuntut untuk di tuntaskan.
Beginikah otak orang setelah menikah? Tak jauh dari pergumulan panas diatas tempat tidur.
Farri menelan ludahnya kelat. "Cantik." pujinya tulus. Mengangkat dagu sang istri untuk menatapnya.
Ia sering menjumpai klien dengan pakaian minim. Begitu juga mantan kekasihnya yang memang selalu seperti itu model pakaiannya. Karena ia dan mantan kekasihnya yang sama-sama menempuh pendidikan di barat, membuat sang mantan mengikuti gaya disana.
__ADS_1
Tapi pada mereka semua, Farri tidak pernah setertarik ini. Tapi pada Jingga, sejak sentuhan pertamanya dulu, hanya melihat ceruk leher istrinya saja ia sulit sekali mengendalikan diri.
"Janji, jangan dipakai di luar kamar?" tegas Farri yang langsung dibalas anggukan istrinya.
"Ini aja aku malu." cicit Jingga meremas ujung dress-nya dengan tidak nyaman. Menarik ujungnya ke bawah agar sedikit menutupi pahanya yang terekspos.
"Tapi abang suka." bisik Farri yang memangkas jarak dan menyatukan bibir mereka. Memanggut kecil yang mulai bisa istrinya imbangi.
Dengan lembut tangan Farri melingkar dibelakang pinggang istrinya. Mengangkatnya hingga ia tak butuh membungkuk dengan tubuh istrinya yang hanya sebatas dagunya.
Jingga langsung mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami. Mencoba mengimbangi setiap gerakan suaminya yang tengah membuainya. Membawa terbang ke nirwana terindah.
Entah sejak kapan Farri melangkah, kini pria itu membaringkan sang istri di atas tempat tidur dan menindihnya.
Pagutan keduanya terlepas, dengan tangan Farri yang tengah menjelajah nakal.
"Abang suka kamu cemburu." ucap Farri di tengah kegiatan mereka. "Tapi abang nggak suka didiemin." imbuhnya.
"Ka-katanya siapah aku cemburu." cebik Jingga ditengah deru napasnya yang tidak beraturan.
Farri tak menanggapi. "Jadi.. udah mulai cinta nih, sama abang?" godanya.
Pipi Jingga memerah. Malu untuk mengakuinya. Tapi gadis itu mengangguk juga. "Kalau nggak cinta. Ngapain mau begini sih, bang." yang Jingga maksud adalah penyatuan mereka.
"Jadi ini karena cinta?" Farri semakin gencar menggoda tanpa menghentikan kegiatan mereka.
"Terus kalau nggak cinta, apa?" tatapan sinis Jingga berikan. "Abang cuma napsu doang sama aku? abang nggak cinta?"
Farri kembali memagut bibir istrinya yang semakin terlihat menggoda ketika tengah marah.
"Siapa yang bilang abang nggak cinta sih, sayang?" tanya Farri ketika melepas pagutannya setelah napas mereka hampir habis.
"Lalu?" tantang Jingga. Ia berharap, suaminya akan mengucapkan kata yang sudah sejak lama ia tunggu.
Masa, malah ia yang mengakui perasaannya terlebih dulu. Dimana-mana kan harusnya lelakinya dulu.
"I Love You istri abang.." bisik Farri dengan menggoda telinga Jingga. "Jingga Radika Putri yang cantik. Yang menggemaskan, candunya abang dan hanya milik abang."
Jingga tersipu. Meski bukan kata romantis dan langsung ke intinya. Tapi tetap saja pengakuan suaminya membuatnya bahagia. Bersamaan dengan rasa yang sama-sama membawa keduanya terbang ke nirwana.
*
*
__ADS_1
*
Kayaknya mereka tinggal beberapa bab lagi. Semoga bisa bawa Senja&Babas sama panjangnya kaya mereka. Dan semoga nggak mengecewakan kalian 🤗🤗