
Senja dan Baskara mengambil penerbangan sore karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus Senja selesaikan.
"Gue titip ya, Ngga. Kalau ada apa-apa, langsung hubungin gue." pesannya pada Jingga dengan merapikan mejanya sebelum Baskara datang menjemput.
"Siap bu, bos! selamat honeymoon. Semoga pulang-pulang bawa keponakan baru buat gue."
"Nggak gue aminin kalau yang ini. Anak gue menolak keras."
Jingga terbahak mendengarnya. Berbanding terbalik dengan Sisi dan Sheina yang justru merengek padanya meminta adik yang lucu. Keponakannya Anna justru selalu menangis keras setiap ada yang mengatakan padanya akan segera memiliki adik bayk. "Anna mah bukan nggak mau punya adik. Dia cuma terlalu bucin aja sama daddy-nya. Sama kayak lo!"
"Kayaknya lebih bucin Babas ketimbang gue." Senja kibaskan rambutnya kebelakang yang membuat Jingga jijik.
"Kalau gitu bawain gue oleh-olehnya aja." pinta Jingga lagi setelah mengibaskan tangannya mengusir jejak kecentilan adik iparnya.
Senja berdecak. "Perasaan tiap gue nitipin sesuatu ke elo, harus ada pajaknya yee? padahal kalau lo yang nitip, gue kagak dikasih apa-apaan."
Jingga malah tergelak mendengarnya. Tidak merasa tersinggung sama sekali. "Pokoknya gue mau oleh-oleh!"
"Yaudah, apaan?"
"Kain songket deh. Gue mau bikin baju buat acara Sisi di sekolah." ujar Jingga yang Senja jawab dengan anggukan persetujuan. "Terus tas anyam yang lucu, mutiara juga boleh."
"Guci jangan ketinggalan. Mama suka guci Lombok. Mami juga. Pilihin yang paling bagus dan mahal." Jingga mengacungkan telunjuknya.
"Telur asin bakarnya juga nggak boleh ketinggalan tuh.Sama-"
"Nggak sekalian aja lo minta Pulau Lomboknya gue bawa pulang?!" sela Senja setelah tercengang beberapa saat, mendengar rentetan cinderamata yang Jingga pesan. "Lo kira gue kesana bawa truk?"
Jingga merenges dan berdalih. "Kita kan jarang-jarang kesana, Ja. Meskipun mampu. Jadi harus memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin dong." ia merendahkan suaranya ketika mengatakan mampu.
Senja berdecak malas. "Terserah deh." desahnya. "Yang penting jaga usaha gue baik-baik!"
Jingga mengangkat lengan kanan membentuk sudut 90 derajat dan ditekuk 45 derajat, dengan jari-jari dirapatkan dan ditempatkan di dekat pelipis mata kanan, telapak tangan menghadap ke bawah. Melakukan hormat ala militer. "Siap, bos!"
Senja tergelak. Memeluk saudara iparnya erat sebelum melangkah keluar karena Baskara sudah mengabarinya jika pria itu menunggu di bawah.
***
Melihat mobil yang biasanya suaminya gunakan, Senja langsung masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Baskara menyambutnya dengan senyum dan peluk. Seperti sudah lama mereka tidak bersua.
"Malu iih, mas! ada Andi, juga!"
Menjauhkan wajah Baskara yang sudah akan menciumnya. Mengingat mereka tidak hanya berdua. Tapi ada juga asisten suaminya yang ikut duduk di balik kursi kemudi. Meskipun pria itu diam tak bergerak layaknya patung. Bahkan gerakan napasnya saja tak ketara.
"Andi nggak akan lihat juga sayang."
Senja tetap menolak dengan gelengan dan menjauhkan sang suami darinya. Beralih menatap penampilan Andi yang tidak serapi biasanya.
"Kamu nggak kerja, Ndi? keren lho, pakai pakaian santai begitu." puji Senja pada penampilan Andi yang menggunakan kaos dan jaket bomber.
"Jangan muji pria lain didepan suamimu sayang. Aku cemburu." Baskara mencebik dengan wajah yang menggemaskan.
"Dasar nggak tahu malu!" maki Senja dan tertawa kencang.
Dari gerakan Andi, sepertinya pria itu berusaha sangat keras menahan tawanya.
"Jangan tertawa Andi!" seru Baskara menendang jok yang Andi duduki dari belakang.
"Maaf, pak. Kita berangkat sekarang." sebelum terkena amukan, Andi memilih melajukan kendaraannya menuju bandara.
"Karena bapak pergi bulan madu, jadi saya akan bekerja dari sana, bu." terang Andi. "Dan bekerja kali ini tidak mengharuskan saya menggunakan setelan lengkap."
Kedua alis Senja menyatu. Mencoba mencerna maksud dari asisten suaminya itu. "Maksud kamu, kamu ikut kami bulan madu?" tanyanya setelah beberapa saat dengan mata melebar.
"Benar, bu."
"MANA BISA BEGITU?!"
Andi dan Baskara sama-sama berjingkat kaget mendengar Senja berteriak tak setuju. Beruntung Andi masih bisa mengendalikan mobil dengan baik.
"Aduh sayang.. Bisa-bisa aku tuli sebelum tua ini." keluh Baskara mengusap telinga kirinya.
"Ya maksud kamu apa, mas?!" Senja merubah posisi duduknya menyerong kearah Baskara. "Ya kali, kita honeymoon tapi ngajak-ngajak orang! kenapa nggak sekalian aja Anna sama Kai diajak. Terus bunda-"
Cup.
Satu kecupan berhasil membuat Senja yang tengah marah-marah seketika berhenti.
__ADS_1
"Andi nggak akan menginap di hotel yang sama apa lagi kamar yang sama dengan kita, sayang." ucap Baskara mencoba menenangkan istrinya. "Dia sudah booking di hotel lain."
"Ngapain ikut, sih?!" masih menghentakan kaki tak suka.
"Buat jaga-jaga aja sayang. Siapa tahu nanti disana kita perlu bantuan Andi." Baskara menjelaskan dengan lembut. "Keadaan darurat nggak ada yang bisa tahu kapan datangnya, sayang."
Senja mendesahkan napasnya dan mengangguk.
Sedangkan Andi mencibir atasannya dalam hati. Karena ia sudah memiliki firasat Bahwa bosnya itu akan sering merepotkan dirinya.
"Tapi awas ya, Ndi, kalau kamu sampai ganggu honeymoon saya dan suami saya!" ancam Senja.
"Ibu tenang saja. Paling bapak yang akan mengganggu saya." jawab Andi dengan berani yang kembali joknya mendapatkan tendangan dari arah belakang.
Baskara tidak berkata apa-apa selain menendang jok yang Andi duduki. Karena apa yang asistennya katakan sepertinya memang benar.
"Kamu tenang saja, ayy. Katanya dia juga mau ketemu sama teman datingnya yang dia kenal lewat aplikasi biro jodoh." Baskara berbisik seperti penggosip andal. Padahal Andi masih dapat mendengarnya dengan baik.
"Ooh ya? Bener, Ndi?" Senja terlihat sangat antusias hingga ia memajukan tubuhnya untuk dapat melihat wajah Andi.
"Jangan dengarkan bapak, bu."
"Apaan!" seru Baskara tidak terima. "Gue lihat sendiri ya isi chat lo sama dia!"
"Kamu nggak sopan banget sih mas, buka-buka chat orang!" tegur Senja. "Tapi bagus juga. Jadi kita tahu ternyata Andi sedang berusaha mencari pasangan. Aku kira dia suka sama kamu makanya selama ini jomlo terus. Udah gitu nempel kamu terus lagi."
Baskara dan Andi sama-sama batuk. Tersedak udara begitu mendengar apa yang Senja katakan.
"Ayy.. Kok aku jadi geli ya dengernya." Baskara bergidik ngeri. Membayangkan bagaimana kalau asistennya itu sama seperti yang istrinya katakan.
"Jangan berpikir berlebihan, pak. Saya masih normal." sahut Andi.
Senja kembali tergelak. "Maaf, maaf Ndi. Saya kan cuma waspada aja. Takut suami saya kamu jerumuskan dan ambil."
Andi hanya menghela napasnya. Berusaha sabar dengan dua orang dibelakangnya yang sama-sama tidak ada yang benar. Semoga saja kelakukan anak-anak bosnya tidak sama dengan kedua orang tuanya itu.
*
*
__ADS_1
*