Langit Senja

Langit Senja
Sisa Tenaga


__ADS_3

Subuh-subuh. Pintu kamar sudah diketuk dengan suara Oma yang memanggil nama Senja.


Untung saja Senja sudah bangun, bahkan sudah mandi. Jika ia masih bergelung dibawah selimut dengan penampilan sisa semalam. Bisa-bisa ia mendapatkan kuliah subuh dari Oma saat ini juga.


"Iya, Oma?" tanya Senja begitu gadis itu membuka pintu.


"Ayo bantu siapkan sarapan. Sebisa mungkin kalau suamimu bangun, sarapan sudah tersedia." ucap Oma beranjak menuju dapur diikuti Senja yang melangkah enggan. "Oma dulu selalu tidur setelah Opa kalian tidur. Dan bangun sebelum Opa kalian bangun."


Senja mencibir dalam hati. "Apa nggak kebalik? harusnya suami yang tidur setelah memastikan istrinya tidur! Memastikan istrinya aman."


"Apalagi nanti kalian di Amerika tidak ada asisten rumah tangga."


"Kamu harus bisa mengatur waktu sebaik mungkin."


"Bangun pagi. Masak. Beberes. Bangunkan suami dan siapkan segala keperluannya untuk kuliah atau kerja nantinya."


Senja hanya mengangguk dan mengiyakan petuah dari Oma suaminya itu.


"Kamu sendiri yang memutuskan menikah! jadi kamu harus menanggung resiko sebagai istri itu seperti apa!"


"Iya Oma."


"Lelahnya. Senangnya. Sedihnya. Kesalnya. Semua harus kamu terima. Suport dan dukungan kamu untuk kesuksesan suamimu juga hal yang paling dibutuhkan."


Rasanya Senja ingin sekali meneriakkan kata. "IYA AKU TAU OMA!"


Sayangnya ia hanya mampu melakukannya dalam hati. Sebagai gantinya ia mengucapkan dengan lembut kalimat. "Iya Oma."


"Kamu mendengarkan semua yang Oma katakan, kan?!" wanita tua itu berbalik menatap Senja tajam. Membuat gadis itu merengut takut.


"Jangan hanya iya, iya, tapi hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan!"


Senja menunduk, kembali menjawab. "Baik Oma. Nanti Senja lakukan semua yang Oma katakan."


Andai Oma menyampaikan nasihatnya dengan lembut dan penuh kasih sayang seperti neneknya-mommy Shevi-ketika menasehatinya. Ia pasti akan dengan senang hati mendengarkan. Bahkan ia akan lebih aktif bertanya bagaimana sebaiknya ia dalam menjalankan tugasnya sebagai istri yang baik. Agar suaminya tak menginginkan wanita lain karena sudah cukup puas akan dirinya.


Tapi ini Oma Baskara menasehati dengan nada sinis. Padahal wanita tua itu sudah mengucapkan selamat datang dikeluarganya. Tapi Oma masih menatapnya tak suka. Memperlakukannya seperti orang yang sudah mencuri hal berharga. Menganggapnya bagai orang asing, bukan anggota keluarga itu sendiri.

__ADS_1


"Apa tidak kepagian Oma, untuk masak?" jam didinding menunjukan pukul lima pagi. Mereka sarapan pukul tujuh. Sedangkan Oma menyuruhnya membuat nasi goreng. Bisa-bisa ketika mereka makan nanti, nasi goreng itu sudah dingin.


"Kalau kamu menunggu Baskara bangun baru kamu masak. Nanti keburu suamimu kelaparan." ucap Oma kesal. Karena perintahnya dibantah begitu saja.


"Biasanya Bas-emm maksudnya Mas Baskara kalau bangun langsung mandi kok Oma. Jadi aku bisa masak saat dia mandi. Biar nasinya masih hangat dan enak untuk sarapan."


Ia sudah sering tinggal serumah dengan Baskara meskipun hanya di weekend saja. Namun satu tahun cukup untuknya mengetahui kebiasaan mantan sahabatnya itu.


"Lagi pula Mas Bas nggak suka makan makanan yang sudah dingin Oma."


Oma terlihat berpikir. Ia tahu ini belum jam untuk memasak sarapan pagi. Biasanya juga kegiatan memasak dirumah itu baru akan mulai satu atau setengah jam lagi.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan, kalau tidak masak sekang? Tidur!" tebak Oma tepat sasaran.


Jika saja saat ini ia tidur dirumah orang tuanya. Pasti setelah subuh, ia memilih untuk tidur lagi seperti apa yang suaminya kini lakukan.


Terlebih semalam Baskara membuainya hingga dini hari. Membuat matanya terasa berat saat ini.


"Biar Senja siapkan keperluan mas Bas dulu saja Oma." padahal tak ada yang perlu ia siapkan. Baskara sudah mandi sebelum subuh tadi, bergantian dengannya. Ia hanya perlu membangunkan Baskara untuk sarapan nanti.


"Ya sudah sana! nanti jangan lupa masak untuk sarapan! kemarin oma belum mencicipi masakan kamu!"


***


Setelah sarapan, Baskara membawa istrinya keluar dari rumah penataran itu. Mengajak sang istri untuk berkeliling Jakarta menggunakan sepeda motor.


Mampir di tempat wisata yang mereka lalui. Meski hanya berkeliling kemudian melanjutkan tour Jakarta kembali hingga hari mulai gelap.


"Makan malam disini aja ya, ayy? Nontonnya besok lagi aja. Capek." wisata terakhir yang mereka kunjungi adalah pantai. Sekaligus menikmati moment tenggelamnya matahari yang menjadi gabungan nama mereka. Matahari Senja.


"Boleh deh." Senja juga sudah merasa lapar.


Siang tadi mereka hanya mencicipi kuliner ditempat wisata. Mereka tak benar-benar memakan nasi atau makanan bergizi. Dan lagi energinya sudah terkuras untuk mengelilingi Jakarta.


Meski demikian Senja tetap senang. Apa yang ia impikan sejak lama akhirnya bisa terbayar hari ini. Bahkan untuk kembali berkelilingpun ia sanggup.


Duduk dibelakang sang pujaan hati. Mengendarai sepeda motor untuk berkeliling Jakarta.

__ADS_1


Salah satu list yang ia buat ketika suatu hari nanti memiliki pacar.


Dan siapa yang sangka ia akan melakukan list itu bukan hanya dengan pacar. Namun dengan seorang suami. Pemuda yang pernah menjadi cinta pertamanya.


Cinta yang sempat hilang dari hatinya dan kini kembali tumbuh bersemi dengan segala apa yang Baskara lakukan padanya selama satu tahun belakang ini.


"Mau makan apa?"


Senja membuka menu yang diberikan oleh seorang pelayan.


"Aku mau lobster bbq with cheese, udang bakar madu, Baronang saos bandar, kakap tahu tausi, Kepit-"


"Sayaaaang.. Emang habis kamu pesan banyak begitu?" Baskara menyela istrinya yang akan kembali memesan.


Yang ditanya merenges dan menjawab. "Kan makannya berdua kamu, mas." Senyum Baskara merekah. Untuk pertama kalinyanya Senja memanggilanya seperti itu diluar jangkauan Oma.


"Lagian kepiting sama udangnya kan faforit kamu." Senja ingat betul setiap mereka makan direstoran seafood. Pasti Baskara akan memesan Kepiting dan Udang bakar madu. Sejak dulu tak pernah berubah.


"Oke mba. Catat semua yang istri saya mau. Sama saya mau minumnya air es sama jus jeruk."


Pelayan perempuan yang usianya tak jauh dari mereka menyebutkan kembali pesanan keduanya sebelum berlalu untuk menyerahkannya pada koki yang bertugas.


"Habis ini kemana lagi, mas?" tanya Senja antusias. Seakan hari ini energinya tidak pernah habis. Padahal sudah seharian mereka berkeliling.


"Emang nggak capek?" dari seberang meja, Baskara menyelipkan anak rambut istrinya kebelakang telinga.


Senja menggeleng dan tersipu dengan yang Baskara lakukan. Jantungnya meloncat-loncat diperlakukan seperti itu. Pengalaman pertama untuknya. Pengalaman indah yang tidak akan ia lupakan.


"Simpan aja sisa tenaganya buat nanti malam." ujar Baskara dengan senyum penuh arti. "Kita cari hotel dekat sini aja buat tidur malam ini, ayy."


*


*


*


Maaf telat up-nya.hehehe

__ADS_1


Nanti malam tetap up kalau like-nya stabil. Jadi jangan males kasih like ya gaes hihihi


__ADS_2