Langit Senja

Langit Senja
Saudara


__ADS_3

Baskara serahkan masalah anak-anak pada sang istri. Ia yakin Senja mampu menangani anak-anak mereka dengan baik.


Jadwalnya hari ini tidak terlalu padat. Semua pekerjaan terasa lancar meski ada satu dua masalah yang masih bisa ia tangani dengan baik.


Setelah meeting yang digabung makan siang di restoran sebuah mall dimana ia melakukan penandatanganan kerja sama dengan pemilik mall, Baskara berniat membelikan sesuatu untuk anak-anaknya.


Ia akan pulang lebih cepat. Toh pekerjaannya sudah selesai dan tidak ada yang terlalu penting untuk ia kerjakan di kantor.


"Kamu kembali dulu saja ke kantor, Ndi." Baskara memerintah asistennya untuk kembali lebih dulu. "Saya ingin mencari sesuatu untuk anak-anak dan langsung pulang." ujarnya sembari keluar dari ruang private sebuah restoran.


"Saya temani saja pak." tolak Andi. "Biar nanti saya antar bapak pulang dulu sebelum kembali ke kantor."


Baskara berdecak dan melirik asistennya dengan sebal. "Saya bukan anak kecil yang harus selalu kamu temani, Andi! saya bisa sendiri."


Andi tetap kekeh mengikuti langkah atasannya. "Saya hanya menjalankan tugas saya untuk melayani anda, pak."


"Tapi jika itu bersangkutan dengan kantor! diluar kantor, sudah bukan tanggung jawab kamu lagi untuk menjaga dan mengawasi saya."


Andi menggerutu dalam hati. "Bukankah surprise aniversary juga bukan masalah kantor? menjemput ibu dan mengantarnya ke rumah sakit juga bukan masalah kantor?" banyak lagi urusan pribadi atasannya yang harus Andi lakukan sesuai perintah. Jadi apa bedanya dengan sekarang.


"Sudah. Sudah. Sana balik ke kantor! saya bisa sendiri untuk masalah ini!"


Meski enggan, Andi tetap melangkah pergi meninggalkan atasannya yang mulai memasuki toko mainan.


Baskara berkeliling dan menemukan sesuatu yang lucu menurutnya. Boneka bayi cantik yang dalam bayangannya Anna akan menyukainya.


Ia memilih satu dan membawanya untuk mencari mainan lain untuk Kai. Setelahnya ia pergi ke kasir.


"Semuanya lima juta rupiah, pak."


Baskara menyerahkan kartu kredit miliknya dan membawa barang belanjaannya setelah selesai.


Ketika di pintu keluar toko, ia berpapasan dengan Grace yang entah sedang apa berkeluyuran di mall pada jam kantor seperti ini.

__ADS_1


"Ngapain lo disini? ini masih jam kerja."


Grace menunjukan raut tak suka ketika mendapat teguran dari Baskara yang memperlihatkan kekuasaannya sebagai seorang pemimpin.


"Gue cuti hari ini. Jadi apa salahnya gue jalan-jalan." jawab Grace dengan angkuh seperti biasa. "Dan diluar kantor seperto ini, lo bukan atasan gue!"


Baskara mengedik tak menanggapi lagi. Memilih pergi untuk segera pulang dan melihat reaksi anak-anaknya. Tidak ambil pusing apa yang Grace lakukan disana.


"Tunggu!" seru Grace dengan mencekal lengan Baskara. Mencegah pria itu pergi.


"Apa sih?" sahut Baskara dengan decakan dan melepaskan cekalan tangan Grace dari lengannya.


"Bisa minta waktunya sebentar, Aska? gue mau ngomong sesuatu."


Melihat ekspresi wajah Baskara yang sepertinya lebih memilih menolaknya, membuat Grace buru-buru menambahkan.


"Please.. Sekali ini aja, Ka! Selama ini gue nggak pernah kan ganggu rumah tangga lo? gue udah bisa ikhlasin lo yang udah jadi milik orang lain." ucap Grace panjang lebar. "Please, ini menyangkut keluarga gue."


Melihat ekspresi memelas yang tak pernah Baskara lihat di wajah sombong Grace, membuatnya tak tega dan menyetujui untuk meluangkan waktu.


Seperti yang Grace bilang, selama ini gadis itu tak sekalipun mengganggu rumah tangganya. Bahkan Grace juga terlihat menghindar setiap kali mereka berpapasan. Begitu juga ketika di kantor. Mereka tak pernah saling bersinggungan.


Mungkin juga karena delapan tahun telah berlalu. Dan tak ada lagi perasaan Grace untuknya. Jadi apa salahnya mereka kembali menjalin hubungan baik sebagai saudara. Tanpa ada perasaan yang membuat keadaan tidak nyaman.


"Jadi ada perlu apa sampai lo ngajakin gue kesini?" Baskara masih menunjukan ekspresi datar dan memberi batas agar Grace tak mensalah artikan apa yang ia lakukan kini.


Grace menghela napasnya panjang. Ekspresi angkuh yang biasanya Baskara lihat kini berganti dengan ekspresi lelah.


"Uang kas perusahaan bokap gue di bawa kabur sama manager keuangan. Sekarang bahkan restoran nggak punya dana kas untuk operasional dan gaji karyawan."


Baskara mengerutkan dahi ketika mendengarnya. Merasa heran mengingat ayah Grace bukan orang baru dalam dunia usaha. Terlebih yang memegang keuangan adalah orang kepercayaan Faraz. Jadi bagaimana bisa hal seperti itu bisa terjadi. Bagaimana bisa dengan mudah Faraz tertipu karyawannya sendiri.


"Ternyata orang yang bawa kabur uangnya itu ada main sama bokap. Dia hamil tapi bokap nggak mau tanggung jawab dan malah nyuruh dia buat ngegugurin kandungannya."

__ADS_1


Baskara tercengang mendengar fakta satu itu. Selama ini yang Baskara tahu Faraz sangat mencintai istrinya dan selalu terlihat romantis disetiap kali mereka bertemu.


"Wanita j*lang itu datangin mami dan beberin semuanya sebelum kabur bawa semua uang perusahaan papi. Mami bahkan sampai syok dan dirawat di rumah sakit."


Grace yang selalu terlihat kuat kini meneteskan air mata didepan Baskara yang bingung harus melakukan apa.


Baskara berpindah duduk ke sebelah Grace dan mengusap kepala gadis yang tengah menangis itu dengan canggung.


Ia merasa kasihan dengan apa yang Grace dan ibunya alami. Bahkan kabar sebesar itu, Baskara sampai tidak tahu.


"Kami menutupi masalah ini serapat mungkin. Papi takut jika sampai berita tersebar akan semakin merusak reputasi restoran yang sudah payah papi bangun." Grace menjelaskan apa yang juga Baskara pikirkan.


Baskara mengangguk paham. Perselingkuhan memang bukan hal yang mudah diterima oleh masyarakat terutama kaum hawa. Jadi jika sampai berita itu tersebar, bukan hal yang tidak mungkin restoran keluarga Grace akan gulung tikar ditinggal pelanggan.


"Terus tujuan lo ngajak gue kesini apa?" Baskara kembali pada pertanyaannya setelah Grace cukup tenang.


"Kalau boleh, gue minta tolong sama lo." mengusap air matanya dan menatap Baskara lekat. "Papi butuh suntikan dana biar restoran bisa kembali beroperasi. Juga agar karyawan mendapatkan hak mereka."


Baskara menghela napasnya. Dia tidak bisa langsung setuju karena ia tidak tahu seberapa besar yang Grace butuhkan dan bagaimana Grace akan mengembalikannya.


"Sebagian udah bisa ditutup dengan uang tabungan pribadi papi sama gue.. Tapi kami masih butuh dana besar untuk kekurangannya."


Sungguh Grace tidak akan mengemis seperti saat ini jika bukan untuk keluarganya.


"Lo bisa ambil setengah dari keuntungan restoran sebagai imbalan uang yang lo kasih. Nanti kita buat aja surat perjanjiannya."


Setelah diam dan memikirkannya cukup lama, Baskara mengangguk setuju dan minta Grace untuk membuat surat perjanjian dan menemuinya di kantor besok pagi.


"Kalau bisa, bokap lo yang datang langsung. Gue nggak mau surat perjanjiannya cuma atas persetujuan dari lo, sedangkan pemiliknya adalah bokap lo."


Grace setuju dan berjanji akan datang dengan ayahnya besok pagi ke kantor Baskara yang juga merupakan tempatnya bekerja.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2