Langit Senja

Langit Senja
Pengganggu


__ADS_3

Setelah jam makan siang, mulut Jingga tak berhenti menanyakan hal tidak penting. Seperti bagaimana Senja mengenal asistennya. Kenapa Senja bisa begitu percaya pada asistennya itu. Hingga berapa bersaudara asistennya dan berapa saja usianya.


"Lo masih normal kan, Ngga? lo nggak lagi mencoba belok dan suka sama Inggrid, kan?" Senja yang sudah tidak tahan dengan segala pertanyaan yang Jingga ajukan pun meletakan alat gambarnya keras dan menatap kakak iparnya itu kesal.


Sungguh, ia masih banyak pekerjaan. Dan kenapa Jingga tidak mengerti dan terus saja mengganggunya dengan pertanyaan tidak penting yang semakin lama semakin membuatnya kesal.


"Enggak lah!" sahut Jingga dengan cebikan tak kalah kesal. "Gue cuma bosen aja nggak ada kerjaan." imbuhnya dengan bergumam.


Senja menghela napas melihat Jingga menumpukan kepala pada lengan diatas meja dengan bosan.


Mengelola sosial media memang tidak begitu menyita waktu kerja. Apa lagi tidak setiap hari ada produk baru. Dan mereka juga belum ada even apa pun yang membuat sosial media mereka ikut sibuk.


"Keliling aja sana kalau lo bosen! lihat-lihat ruang produksi atau ruang desain disebelah. Lo kan udah gue beliin kamera canggih, kalau lo butuh bahan sendiri buat lo posting diluar yang fotografer kasih."


Dihari pertama dan kedua Jingga sudah mulai merapikan isi sosial media. Hari ketiga mulai membuat konten dari bahan yang ada. Hari keempat ia bertemu dengan fotografer yang Senja kenalkan untuk saling bertukar saran seperti apa gambar yang dapat menarik minat pembeli.


Jingga juga sudah mencoba berkeliling kemarin untuk mencoba kamera baru yang dia dapatkan. Tapi tidak ada hal menarik yang bisa ia jadikan bahan. Dan sekarang ia merasa bosan setengah mati. Apa lagi Senja selalu sibuk keluar masuk ruang desain. Selebihnya adik iparnya itu akan duduk berjam-jam menyelesaikan desain gaun pernikahan untuk anak seorang artis terkenal yang dua hari lalu datang.


"Ya udah sana pulang aja." usir Senja kembali menekuri kegiatannya.


"Enggak ah. Entar lo potong lagi gaji gue."


"Enggak bakal. Dari pada lo berisik ganggu konsentrasi gue."


Jingga tetap menggeleng dan membuat Senja kembali menghela napas. "Terserah elo deh mau ngapain. Yang penting jangan ganggu gue karena kerjaan gue banyak! sekali lagi gue dengar lo tanya atau ngomong nggak penting. Jangan harap dapat gaji bulan ini." ancamnya.


Jingga mengangguk dan membuat gerakan mengunci mulutnya. Tak ingin melihat adik iparnya itu marah dan benar-benar merealisasikan ucapannya barusan. Karena ia baru mengetahui setelah bekerja disana bahwa Senja paling tidak suka di ganggu jika sudah serius bekerja.


***


"Ke butik, pak." dari bandara, Baskara meminta sang sopir mengantarnya langsung ke butik. Dia sudah menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari rencana sebelumnya. Istrinya bahkan tidak tahu jika ia pulang hari ini.


Hampir satu minggu berada di luar kota membuatnya tak kuasa menahan rindu lebih lama lagi dari wanitanya.

__ADS_1


Setiap hari bertukar kabar hingga melakukan video call, tak mengurangi rindunya ingin bertemu. Menghidu aroma menenangkan dari perpaduan parfum dan wanginya tubuh sang istri. Menggenggam tangan hangat yang tak lelah terulur untuk mengurusnya. Menyambut kepulangannya dengan pelukan hangat dan senyum bahagia.


Meski bukan pengantin baru, tapi rasa itu tetap sama. Karena Senjanya tak pernah berhenti membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.


"Istri saya ada?" tanyanya pada Inggrid. Sekretaris sekaligus asisten pribadi istrinya.


Inggrid yang kaget melihat kedatangan suami bosnya langsung buru-buru berdiri dan mengangguk sopan. "Ada pak di-"


"Oke. Jangan izinin siapa pun masuk. Termasuk kamu." potong Baskara sebelum Inggrid menyelesaikan jawabannya.


Inggrid bukan bocah dibawah umur yang tidak mengerti arti didalam perintah suami bosnya barusan. Ia tahu apa yang akan terjadi didalam sana. Tapi bukankah didalam ada Jingga?


Inggrid menggaruk tengkuknya ketika Baskara sudah menghilang dibalik pintu dengan suara kunci menyusul setelahnya.


***


Senja yang melihat kedatangan sang suami langsung berdiri dari duduknya dengan senyum mengembang. Tak menyangka jika suaminya akan pulang hari ini dan langsung menemuinya.


Belum sempat Senja menyapa, suaminya sudah menutup pintu dan mengunci benda persegi itu tanpa mengalihkan tatapannya dari sang istri. Tak menyadari sekelilingnya seakan dunia hanya ada mereka berdua.


Berbisik dengan bibir yang masih menempel. "Miss you sayang.." suara serak itu kembali tenggelam dalam pagutan yang semakin lama semakin memanas.


Dimeja salah satu sisi ruangan, Jingga melihat adegan itu dengan mata terbelalak. Dimana Baskara mulai menghimpit Senja ke meja dengan posisi berdiri.


Terlihat sedikit penolakan dari Senja. Mungkin otaknya masih waras untuk mengingat keberadaannya disana.


Tapi tidak dengan Baskara yang mematahkan setiap usaha Senja untuk mencegah tangannya yang mulai berkelana. Membuka satu persatu kancing blouse yang Senja kenakan.


Jingga menggeleng dan menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Sepertinya jika ia diam saja, bisa dipastikan ia akan menonton film biru secara langsung.


Sayangnya ia tidak segila itu untuk melihatnya. Hingga ia berdeham dengan keras.


Baskara yang kaget langsung mengangkat wajahnya dari wajah sang istri yang sudah memerah. Matanya memindai ruangan dan membulatkan mata saat mendapati keberadaan Jingga yang duduk dengan menutup wajahnya.

__ADS_1


"Tolong.. Gue masih polos buat nonton adegan fulgar." ujar Jingga setelah mengintip melalui sela jari dan memastikan kedua orang itu menyadari keberadaannya.


Dengan lesu Baskara menjatuhkan dahinya di bahu Senja yang tengah berusaha merapikan kembali pakaiannya. Wajahnya memang masih memerah bahkan hanya dengan Baskara menciumnya. Tapi saat ini warna merahnya berkali lipat karena rasa malunya pada Jingga.


"Aku padahal udah minta Inggrid jangan ganggu dan jangan bolehin satu orang pun masuk." keluh Baskara tak berdaya. Suaranya lirih seakan tak ada tenaga untuk bersuara. "Tapi kamu malah ngandangin pengganggu disini."


Senja terkekeh dan mengusap lembut pipi suaminya. "Maaf ya sayang.. Nanti kita lanjut dirumah." balasnya dengan berbisik juga.


"Tapi aku udah nggak tahan, ayy..." rengeknya menggelengkan kepalanya yang masih menempel di bahu Senja.


"Ya Tuhan... Sekarang malah pada bisik-bisikan." seru Jingga yang melihat tingkah kedua adik iparnya itu. "Tau gini mending gue pulang aja."


"Tadi kan gue udah suruh pulang!"


"Pulang sana!"


Seru Senja dan Baskara yang menatap Jingga tajam secara bersamaan.


"Heh! adik ipar macam apa kalian!"


"Udah sana pulang! nggak pengertian banget lo jadi kakak ipar!" gerutu Baskara mengibaskan tangan mengusir Jingga.


Jingga yang tahu diri kehadirannya tidak diharapkan untuk saat ini pun membereskan barang-barangnya untuk pulang. Tak ingin mengganggu dua orang yang tengah menumpahkan rasa rindu mereka.


Ia paham sebagai pasangan yang juga kerap ditinggal keluar kota oleh suami. Jadi ia tak ingin hadir sebagai pengganggu.


"Silakan dilanjut... Gue tahu kalau rindu itu biasanya terlalu bersemangat... Tapi gue saranin, Ja.. Gigit aja Babas. Jangan kalian nodai telinga Inggrid yang masih lajang." godanya sebelum keluar dan tertawa puas. Meninggalkan pasangan suami istri yang saling tatap dengan canggung setelah mendengar godaan dari Jingga.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa kasih semangat kakak ❤


__ADS_2