
Langit malam Lombok menyambut kedatangan pasangan yang akan berbulan madu itu.
Sayang sekali Senja melewatkan langit senja di hari pertamanya. Fenomena alam bersejarah dalam hidupnya. Fenomena alam yang tidak akan pernah bosan untuk ia lihat. Fenomena saat ia bahkan sang suami lahir. Fenomena tenggelamnya matahari diufuk barat.
Baskara mengajaknya makan malam di luar sebelum chek in resort.
Untuk hal pertama saja Senja sudah dibuat tersenyum dengan makan malam yang suaminya siapkan untuk mereka berdua. Entah kapan membooking restoran itu karena sebelumnya sang suami menawarinya makan ketika di Bali tapi ia tolak. Ia curiga Andi yang dibuat sibuk untuk hal seperti ini.
Dibalik semua itu, ada perasaan meletup-letup dalam dadanya yang mengirim sensasi yang luar biasa. Senja tidak pernah berpikir akan mendapat makan malam spesial dihari pertamanya.
Meski bukan makan malam di pinggir pantai dengan lilin-lilinnya, tapi ini sudah cukup romantis bagi Senja.
Makan malam dengan view langsung ke laut. Dengan lampu yang sedikit redup dan beberapa lilin yang tak ia hitung jumlahnya mendukung suasana.
Tak jauh dari tempat mereka makan juga ada bar yang begitu ramai pengunjung. Suara musik dan riuh tawa yang terlihat cukup seru dengan didominasi kawula muda.
Restoran tempat mereka makan terasa sepi karena hanya ada mereka berdua. Juga Andi yang duduk makan seorang diri disudut restoran. Menjaga jarak dan memberi mereka privasi.
Bukan karena makanan disana tidak enak dan tidak laku sehingga sepi. Tapi karena restoran dipesan oleh Baskara untuk beberapa jam kedepan dan menolak tamu lain.
Padahal Senja rasa suaminya tidak perlu melakukan itu. Makan malam biasa pun tak masalah untuknya. Berbaur dengan banyak wisatawan lain menurut Senja cukup menyenangkan.
"Kita didarat cuma tiga hari." ucap Baskara ditengah makan malam. "Cukup kan, ayy, buat kamu keliling dan belanja?"
"Tiga hari?" Senja menarik pandangannya dari sekitar untuk menatap penuh sang suami. Mereka memang belum mendiskusikan agenda bulan madu mereka ini secara detail. Senja kira, bulan madu mereka akan seperti bulan madu pada umumnya. Menginap dihotel, berkeliling, wisata laut, hanya itu yang ada dalam benaknya. "Emang selebihnya kita mau tidur dimana?"
Menyesap minumannya, Baskara menjawab. "Aku udah sewa kapal buat tiga hari. Kapal phinisi jenis luxury."
Senja pernah mendengarnya. Meski belum pernah menaiki. Kapal phinisi adalah kapal tradisional buatan asli orang Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kapal yang dimodifikasi sedemikian rupa dari wujud aslinya dengan fasilitas mirip hotel.
Mata Senja berbinar. Sebelumnya ia tidak terlalu antusias karena tidak merasa spesial dengan bulan madu ini mengingat mereka bukan lagi pengantin baru. Tapi begitu mendengar mereka akan berbulan madu diatas kapal dan mengukir pengalaman baru dalam hidupnya, antusiasmenya tergugah.
"Beneran, mas? kenapa nggak dari sekarang aja? kenapa harus nunggu tiga hari?"
__ADS_1
Baskara terkekeh melihat semangat istrinya. "Daratannya juga banyak yang bisa kita eksplor, ayy. Sayang kan kalau kita lewatin gitu aja. Apa lagi tadi dipesawat kamu bilang mau belanja oleh-oleh juga buat yang dijakarta."
Mengingat itu semangat Senja tak luntur. Justru semakin bersemangat untuk menjelajah apa yang bisa ia jangkau.
Ini bukan kali pertamanya datang ke Lombok. Tapi tak pernah ia bosan dengan pemandangan yang disuguhkan disana. Keindahan alam dan udara yang tak ia dapatkan di ibu kota.
Setelah makan, mereka masih duduk dan menikmati pertunjukan musik yang tersaji. Menambah sahdu suasana malam dengan semilir angit laut.
Tak lupa mereka menyempatkan diri untuk berjalan santai dipinggir pantai, sebelum kemudian diantar menuju resort yang sudah mereka booking.
Resort yang terlihat asri dan unik dengan desain tradisionalnya. Fasilitas yang lengkap dan mewah termasuk kolam renang pribadi juga ada didalamnya.
"MAS!" seru Senja dengan kaget begitu tubuhnya melayang diangkat oleh sang suami.
"Kan mengulang malam pengantin sayang." sahut Baskara dengan wajah menggoda dan berjalan menuju kamar.
Senja tersenyum mengejek dan mengeratkan rangkulannya pada leher sang suami. "Malam pengantin aja ya yang dikenang." mereka bahkan gagal untuk melakukan malam pertama dimalam setelah mereka sah sebagai suami istri.
"Enggak dong!" debat Baskara. "Karena malam pertama kita gagal, makanya aku mau mengulang dengan benar."
***
Suara debur ombak membangunkan Senja dipagi yang terasa menyegarkan meski tubuhnya terasa lelah setelah meneguk madu dibulan madu mereka dimalam pertama.
Selepas membersihkan diri, Senja berniat memesan sarapan. Tapi belum sempat ia menekan tombol ekstensi pelayanan resort, bel pintu terdengar.
"Sarapannya, bu."
Senja cukup terkejut melihat Andi yang mengantar sarapan, bukan pengelola resort.
"Kok kamu yang antar?" tanya Senja menerima troli berisi sarapan paginya dan sang suami.
"Bapak tidak mengizinkan orang lain masuk kedalam resort, bu."
__ADS_1
Senja hanya bisa menggeleng dan mengucapkan terimakasih sebelum asisten suaminya itu pergi.
Menata makanan keatas meja, Senja beranjak membangunkan sang suami.
"Mas, bangun." diguncangnya bahu sang suami yang tidur meringkuk seperti bayi.
"Masih ngantuk, ayy." gumam Baskara dengan tidak jelas.
Memang, mereka belum cukup waktu untuk tidur. Tapi Senja sudah tidak sabar untuk jalan-jalan.
"Nanti keburu siang, mas." ia guncang lagi tubuh suaminya dengan merengek.
"Bisa nggak kalau kita dikamar aja."
Senja berdecak keras. "Ngapain jauh-jauh kesini kalau cuma mau dikamar!"
Baskara terkekeh mendengar nada jengkel pada suara istrinya. Berbalik dan menarik sang istri jatuh dalam pelukan. "Kasih kiss dulu, nanti aku bangun."
"Nggak mau. Bau belum mandi." ledek Senja dengan menjulurkan lidah.
"Bukannya kamu makin suka kalau aku makin berkeringat?" tanya Baskara dengan menaik turunkan alisnya, merujuk pada kegiatan mereka semalam yang membuat pipi Senja memanas.
"Ma-mana ada!" sangkalnya. "Udah sana mandi, aku udah laper." berusaha bangkit dengan mendorong dada suaminya. Namun usahanya tak membuahkan hasil. Meskipun suaminya baru bangun, ternyata tenaganya tak dapat ia kalahkan.
"Ya udah kalau nggak mau kasih cium, aku tidur lagi aja!" ancam Baskara semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri dan kembali terpejam.
Mengalah, Senja satukan bibirnya dengan bibir sang suami. Ciuman panjang yang berujung dengan tanggalnya pakaian yang ia kenakan satu persatu dengan keahlian tangan suaminya yang sudah tidak diragukan lagi.
Jadwal yang semalam sudah mereka sepakati juga terpaksa diundur.
Suara mereka sahut menyahut dengan debur ombak yang menjadi latar kegiatan pagi mereka.
*
__ADS_1
*
*