Langit Senja

Langit Senja
Hari Bersamamu


__ADS_3

Baskara begitu bersemangat menyambut pagi. Ada rasa tidak sabar untuk bertemu dengan Senja. Entah magic apa yang membuatnya begitu menggebu untuk bertemu dengan gadis itu.


Pagi-pagi sekali pemuda itu sudah mandi. Menyisir rambut dengan mulut yang tak berhenti bersiul. Semalam ia sudah membuat daftar belanjaan. Lengkap dengan resep yang dia buat serapi mungkin agar Senja dapat memahami meski tak melakukan videocall dengannya.


Ditengah perjalanan, Senja sudah menghubunginya. Baskara menyambungkan panggilan ke mobil agar fokusnya pada perjalanan tidak terganggu.


"Hallo, Ja."


"Lo jadi nemenin gue kan? Maureen udah nanyain, gue mau bareng sama mereka apa gimana."


"Jadi. Ini bentar lagi nyampe ke tempat lo." Baskara membelokan kemudinya keluar dari jalan tol. "Emang udah mau mulai acaranya?"


Bakara menatap jam di pergelangan tangannya yang baru menunjukan pukul sembilan pagi.


"Belum sih. Nanti jam sepuluh baru mulai. Tempatnya juga deket kok dari apart, jadi masih ada waktu."


Baskara mangangguk-anggukan kepalanya. "Lo udah siap-siap? udah sarapan?"


"Udah."


"Gue mampir dulu atau lo langsung keluar ke loby aja. Gue udah nyampe."


"Tunggu di loby aja. Sekalian berangkat. Biar kebagian tempat juga."


Baskara memarkirkan mobilnya di depan loby apartemen Senja. Menunggu gadis itu yang katanya tengah turun.


Hingga tak lama gadis dengan balutan dress berwarna hitam dibawah lutut yang jatuh lembut ditubuh ramping Senja. Ditambah tatanan rambut panjang gadis itu yang dibuat bergelombang di bagian bawahnya. Membuat Baskara terpesona tapi gengsi mengakui kecantikan sahabat yang beberapa hari ini menarik perhatiannya.


"Ini lo yang mau jadi model apa gimana?" sindiri Baskara dengan penampilan Senja.


Senja berdecak sembari memasang sabuk pengaman. "Iish bawel deh! orang mah di puji kek!" gerutu Senja. "Ja. Lo cantik banget hari ini. Gitu."


Baskara kembali melajukan kendaraannya keluar dari area gedung apartemen Senja. "Lo dipuji nanti idung lo ngembang."


Senja langsung syok mendengarnya. Gadis itu otomatis memegang hidung mungil mancung miliknya. Dan seketika tawa Baskara meledak.


"Iiih Babas!" pekik Senja memukul lengan Baskara yang terkekeh di balik kemudi. Pasalnya selama ini tak pernah ada yang mengatakan padanya jika hidungnya akan mengembang jika merasa senang.


Baskara tak bisa menghentikan tawanya. Dia memang hanya menggoda Senja. Hidung gadis itu tak pernah sekalipun mengembang seperti apa yang ia katakan tadi. Tapi Baskara menikmati raut syok dan kesal Senja yang menggemaskan.


***

__ADS_1


Hampir setengah hari Baskara menemani Senja yang terkagum-kagum melihat setiap model yang memperagakan hasil rancangan designer ternama. Ada juga beberapa hasil karya designer baru yang memenangkan kompetisi bergengsi di New York.


Baskara sebenarnya merasa bosan setengah mati. Pemuda itu sama sekali tidak menikmati seperti orang-orang yang berada disana. Ia lebih memilih untuk bermain game dalam ponselnya.


"Gue bisa nggak ya Bas, nampilin satu aja karya gue disini." tanya Senja tanpa mengalihkan perhatiannya dari atas catwalk.


Baskara yang tadi tengah serius dengan permainannya menoleh pada gadis disebelahnya. Kemudian pandangannya beralih pada seorang model yang tengah berjalan di atas catwalk.


"Karya lo diapart nggak kalah bagus dari baju yang model itu pakai. Kenapa harus insecure gitu? lo harus percaya kalau lo bisa lebih hebat dari mereka."


Senja menatap lekat mata sekelam malam yang tengah menatapnya. Senyumnya mengembang mendengar perkataan dari sahabatnya itu.


Diapartemennya memang ada beberapa manekin untuk memajang beberapa hasil karyanya entah itu tugas kuliah atau hasil keisengannya. Tidak semua hasil sudah sempurnya. Ada beberapa yang belum selesai dan bahkan terbengkalai karena moodnya yang kadang mendadak hilang.


"Doain ya, Bas. Biar gue bisa jadi designer hebat kayak mereka. Bisa punya nama jual gue sendiri."


Baskara tersenyum mendengar permintaan gadis disampingnya. Tangannya terulur untuk menyentuh puncak kepala Senja dan menepuknya pelan. "Lo pasti bisa. Gue bakal kawal lo sampai sukses." Baskara menyemangati dengan senyuman.


***


Usai dari acara Fashionweek, Baskara melajukan mobilnya ke arah supermarket yang tak jauh dari apartemen Senja. Tempat yang pernah ia kunjungi bersama gadis itu minggu lalu.


"Lo pengen masak apa buat besok seminggu?" tanya Baskara ketika berhasil memarkir mobilnya dengan sempurnya.


Baskara mendengus dan turun dari mobil diikuti Senja yang langsung mensejajari langkah kakinya.


"Nanti mau masakin gue apa?" pemuda itu memgganti pertanyaannya menjadi yang lebih mudah Senja jawab.


"Gue kan baru berhasil masak pasta sama ayam doang. Lo mau gue masakin yang mana?" balik tanya Senja.


"Pasta aja deh yang gampang. Gue udah laper soalnya."


Senja mengangguk setuju. Gadis itu mengikuti kemanapun Baskara melangkah untuk mengambil bahan masakan untuknya seminggu kedepan.


Melihat Baskara yang begitu luwes ketika berbelanja, membuatnya sedikit malu. Baskara tahu hampir setiap tempat yang ia tuju untuk mengambil beberapa bumbu dan bahan yang Senja sendiri tidak tahu namanya.


Senja malu ketika seharusnya ia yang lebih tahu tentang hal seperti ini, justru Baskara yang seorang laki-laki yang lebih paham.


Mungkin jika Senja disuruh untuk berbelanja sendiri kebutuhannya ini, ia memerlukan waktu berjam-jam untuk mencari semua bahan yang Baskara masukan hampir memenuhi troli yang dirinya dorong.


"Lo biasa belanja begini ya, Bas?" terucap juga rasa penasarannya sejak tadi. Dan Baskara hanya menjawab dengan dehaman.

__ADS_1


"Biasa nemenin cewek belanja juga?"


"Tadinya sih enggak. Tapi kayaknya mulai minggu lalu, gue bakal rutin nganterin cewek belanja."


Senja yang tahu maksud dari perkataan Baskara adalah dirinya, hanya mendengus dan menunggu pria itu yang mengeluarkan satu persatu belanjaan mereka untuk dihitung dikasir.


Sampai di apartemen, Baskara langsung meminta Senja untuk memasak makan siang untuk mereka. Perutnya sudah demo sejak tadi. Jika tidak ingat gadis yang tengah sibuk memotong beberapa bumbu pelengkap saos itu ingin memasakannya makan siang. Ia sudah mengajak Senja makan siang di luar saja tadi.


Sembari menikmati pemandangan seorang Senja yang tengah mengenakan apron secara langsung dengan rambut yang disanggul asal dan fokus pada masakannya. Baskara mencuci setiap sayur dan memotongnya sesuai ukuran sebelum memasukan pada setiap box yang tak lupa ia tempeli kertas berisi resep masakan dan cara memasaknya sekaligus untuk memudahkan sahabatnya itu.


"Makan siang sudah siap!" seru Senja bersamaan dengan Baskara yang selesai dengan kegiatannya.


Baskara duduk di meja bar di dapur dimana sudah terhidang dua piring berisi pasta yang lumayan cantik untuk dilihat. Karena Senja sedikit menghias piring berisi pasta tersebut.


Tanpa ragu, Baskara mulai menyuapkan pasta kedalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan sengaja dilambatkan untuk membuat gadis yang menunggu komentarnya dengan binar mata yang cerah di sampingnya itu semakin berdebar.


"Gimana.. Gimana..!" Senja sampai mengguncang bahu Baskara saking tidak sabarnya menunggu pendapat sahabatnya itu tentang masakan pertamanya yang tanpa panduan Baskara.


"Emm.." Baskara pura-pura berpikir. Membuat Senja kian gemas menunggunya. "Enak." jawabnya jujur dengan senyum mengembang.


Senja menghela napas lega dan membalas senyum Baskara tak kalah lebar. "Bener kan enak?" tanya Senja menyombong.


"Iya. Lo lumayan berbakat sebenernya kalau rajin masak."


Senja semakin melebarkan senyumnya dan ikut menikmati makan siang dihadapannya.


"Selamat cantiknya Baskara.. Sukses masak makan siangnya. Gue bangga." Baskara mengusap rambut Senja lembut. Membuat gadis disebelahnya mematung dengan perkataan dan perlakuan Baskara padanya.


Senja tak tahu kenapa debar jantungnya menggila hanya karena diperlakukan demikian oleh seorang Baskara. Bahkan dulu ketika ia menyukai pemuda disampingnya ini, tak sekalipun ia merasakan debar jantung seperti saat ini.


Ada apa dengan dirinya?


*


*


*


Ehek.. Sory gaes.. Kemaren lupa update. Sekarang dipanjangin nih sebagai permintaan maaf.


Yang nungguin Caca, maaf ya belum bisa up. Sebenarnya harusnya udah tamat. Cuma othor amatir ini bingung mau bikin ending yang cemana.

__ADS_1


Mau di bikin sadending atau happy ending ya?


__ADS_2