Langit Senja

Langit Senja
Merasa Kesal


__ADS_3

Diluar matahari sudah menyingsing. Membakar semangat penduduk bumi untuk melakukan aktifitasnya. Berbeda dengan dua anak manusia yang masih terlelap dengan cahaya temaram dari lampu tidur diatas nakas. Jendela masih tertutup rapat. Tak mengijinkan matahari untuk sedikit saja membiaskan cahayanya kedalam kamar itu.


Senja masih terlelap karena kondisinya yang masih belum sehat. Sedangkan Baskara, pemuda itu rasanya baru memejamkan matanya beberapa jam. Hingga bunyi alarm dari ponsel milik Baskara-yang biasanya membangunkan pemuda itu untuk bersiap berangkat ke apartemen milik Senja-membangunkan keduanya.


Senja mengerjap, berusaha memfokuskan kedua matanya yang masih buram untuk menatap pemuda yang tergesa merogoh ponsel dalam saku celana untuk di matikan.


"Babas? sejak kapan lo disini?" tanya Senja dengan suara serak khas orang sakit plus bangun tidur ketika melihat dengan jelas siapa pemuda yang ada didalam kamarnya.


"Kemaren lo nggak bisa di hubungin. Nyokap lo khawatir, makanya gue kesini semalam." bola mata Baskara membulat. Pemuda itu menepuk dahinya karena lupa memberi kabar pada Tiara tentang putri kesayangannya. Bergegas mencari kontak ibu dari Senja untuk memberi kabar tentang putrinya.


Senja menyentuh handuk didahinya yang sekarang sudah mengering. Gadis itu menyingkirkannya dan berusaha duduk dengan susah payah. Tubuhnya terasa lemah, bahkan untuk sekedar mengangkat tubuhnya sendiri.


Baskara yang melihat Senja kesusahan pun membantu gadis itu untuk duduk. Menata bantal di belakang punggung gadis itu agar nyaman. Kembali meletakan ponselnya diatas nakas yang berada disebelah tempat tidur. Melupakan niatnya untuk menghubungi keluarga gadis itu yang pasti saat ini tengah khawatir.


"Kenapa nggak telepon gue kalau sakit, hmm?" tanyanya lembut, duduk di tepi tempat tidur dan merapikan rambut gadis itu yang berantakan. Menyisirnya menggunakan jemarinya.


"Gue cuma kecapekan, istirahat juga entar sembuh."


Senja sudah biasa dengan kondisi seperti saat ini. Jika ia sudah begadang dan kurang istirahat, pasti akan langsung demam. Dan biasanya ia hanya perlu meminum obat penurun panas dan banyak istirahat. Setelah itu ia akan kembali sehat seperti biasa.


"Lo sering sakit begini?" tanyanya penasaran. Ia memikirkan hal tersebut sejak semalam, bagaimana jika gadis didepannya ini sakit sendirian sebelum ada dirinya setahun kebelakang.


Senja mengangkat kedua alis dan senyum tipisnya sebagai jawaban. "Demam bukan hal serius, Bas. Cuma butuh istirahat juga sembuh. Disini nggak pernah olahraga makanya gue gampang sakit."


Tangan Baskara terulur untuk mengecek suhu tubuh Senja yang ternyata sudah turun meski masih sedikit hangat.


"Gue mau mandi dulu, dari semalam gue belum mandi. Entar gue bikinin bubur, biar lo bisa minum obat."


Senja mengangguk patuh. Untuk pertama kalinya ada yang memperhatikannya ketika sakit selain Maureen. Tinggal jauh dari keluarga membuatnya terbiasa menahan rasa sendiri. Termasuk ketika sakit, ia terbiasa merawat dirinya sendiri.


Tapi kali ini, ada orang yang mengkhawatirkan sekaligus merawatnya. Semoga Baskara tulus dalam pertemanan ini.


***


Setelah membuatkan Senja bubur dan memastikan gadis itu memakannya serta meminum obat, Baskara berencana pergi ke supermarket untuk belanja mingguan seperti biasa sendiri. Mengisi lemari pendingin milik Senja. Memastika jika Senja tidak akan kekurangan makanan. Meskipun itu tidak mungkin terjadi. Meski lemari pendinginnya kosong sekalipun, Senja masih bisa memesan makanan dari luar seperti biasa. Namun meski seperti itu, Baskara ingin tepat melakukannya.


Senja juga sudah lebih segar setelah berganti pakaian. Gadis itu duduk di depan televisi menunggu Maureen yang katanya akan mengunjunginya yang sakit.

__ADS_1


"Bayar belanjaannya pakai ini aja, Bas." Senja memberikan kartu berwarna hitam pada Baskara. Namun pemuda itu langsung menolaknya.


"Nggak usah. Gue ada duitnya."


"Yah Bas. Gue jadi nggak enak tiap minggu lo yang belanjain. Duit makan gue utuh nanti dikira gue kerja jadi sugarbaby lagi sama orang rumah."


Baskara memutar bola matanya mendengar Senja yang berlebihan menurutnya.


"Atau pakai ini aja." gadis itu menyodorkan kartu ATM dimana tiap bulan orang tuanya memberinya uang bulanan selain kartu kredit unlimited miliknya yang ditolak Baskara tadi.


"Gue bilang nggak usah ya nggak usah cantiiikk.. Anggep aja gue lagi belajar nafkahin istri." kekehnya sembari berlalu begitu saja meninggalkan Senja yang terpaku dengan mulut terbuka di tempatnya dengan jantung berdebar berkali-kali lipat.


***


Baskara mengambil beberapa bahan yang mudah tapi enak dan bergizi untuk dimasak. Ia tidak ingin Senja makan diluar yang belum tentu sehat. Tapi ia juga tidak ingin membuat Senja lelah setelah seharian kuliah dan masih harus memasak untuk makan malam.


Tak butuh waktu lama untuk Baskara memilih bahan-bahan. Kasir juga tak begitu antri hingga ia bisa kembali ke apartement Senja sebelum dua jam ia pergi.


Begitu membuka pintu apartemen, ia mendengar tawa laki-laki dan perempuan dari ruang televisi. Dan benar saja, disana sudah ada teman-teman Senja. Termasuk pria brengsek yang berniat buruk pada sahabatnya di club malam waktu itu.


"Eh udah balik Bas?" tanya Senja begitu mendapati Baskara yang berjalan mendekat dengan paperbag berisi belanjaanya.


Senja berdiri menyambut dan mengambil alih belanjaan di tangan Baskara. "Kenalkan ini Baskara, sahabatku dari Indonesia." ucap Senja mengenalkan Baskara pada teman-temannya dengan bahasa Inggris.


"Dan Bas, gue rasa lo udah pernah ketemu Maureen beberapa kali." Baskara hanya mengangguk. Ia memang bertemu Maureen di club dan diacara Fashionweek saat itu. "Disebelahnya itu pacar Maureen, namanya Shaun. Dan yang satu lagi namanya Robert, temannya Shaun."


Baskara menerima uluran tangan mereka semua. Tapi tatapan tak bersahabat ia layangkan ketika berjabat tangan dengan pria yang bernama Robert itu.


"Sini sayurnya, biar sekalian gue beresin." Baskara kembali mengambil alih belanjaannya dari dekapan Senja. Entah kenapa rasanya enggan berlama-lama diruangan itu. Ada rasa tak suka melihat keberadaan Robert disana.


Senja memiringkan kepalanya melihat sikap Baskara yang tiba-tiba berubah. Kemudian mengedikan bahu dan kembali pada teman-temannya.


Sedangkan di dapur, Baskara memotong sayur dengan kesal. Mulutnya tak berhenti menggerutu. "Apa bagusnya cowok itu coba?! gantengan juga gue!" cibirnya dengan memotong sayur dengan kasar. Manimbulkan bunyi yang cukup keras yang ia rasa bisa terdengar hingga ke ruang televisi. Sama halnya dengan tawa Senja dan teman-temannya yang sampai ke dapur. Yang semakin membuat Baskara semakin merasa kesal dengan alasan yang ia sendiri tak tahu.


Karena jika alasannya kejadian di club saat itu, rasanya ia tak punya hak untuk marah jika Senja saja sudah memaafkan.


Tapi apa alasannya merasa kesal dan uring-uringan seperti saat ini?

__ADS_1


Apa karena ia tak suka melihat Senja dekat dengan pria lain?


Tak suka jika sahabatnya itu tertawa dengan pria selain dirinya?


Atau ia tak suka Senja bahagia tanpa dirinya?


"AAARHHH.." Baskara mengerang dan melampiaskan pada wortel yang entah sudah berbentuk apa karena menerima kekesalannya.


*


*


*


Masih banyakkah yang nggak suka Senja sama Baskara?


Othor nggak bisa datangin tokoh baru gaes, karena takutnya nanti karakternya jadi nggak kuat. *maklum masih amatir.hihihi


Kaya Robert sama Maureen aja disini karakternya masih nggak kuat. Othor nggak bisa sering munculin mereka. Dan takutnya kalau datangin tokoh baru, malah makin rancu ceritanya.hihihi


Jadi maaf ya gaes.. Setelah ini padahal othor niatnya mau bikin cerita yang tokoh utamanya packboy.. Jangan-jangan tambah kehilangan pembaca lagi nanti.huhuhu


Daddy Alvin udah goodboy banget kan? rela nurutin apa yang dimau sama wanita yang dicintainnya.


Papa Alvaro juga goodboy meski hampir tergoda wkwkwk


Papa Adrian? dia udah perfeksionis sih menurut othor. Karena dia memperlakukan Indah dengan baik meski sempet ngeselin, tapi dia setia gaes.


Papa Rasya? dia udah cukup dengan kebucinannya kan ya.


Papa Tara? dia juga tanggung jawab banget meski jalan awalnya salah. Dan masih othor gantungin 😭 huhuu maafkan 🙏


Dan Baskara? cinta nggak bisa memilih. Jangan salahkan dia yang jatuh cinta sama pesona Jingga. Dan jangan salahkan dia yang pernah melimpahkan segala kesalahan sama Senja. Karena kalau orang lagi marah tuh suka gelap mata dan cari kambing hitam. Itu lah kelemahan Baskara.


Untuk itu othor pengen sekali-kali bikin tokoh utamanya tuh yang ngeselin bin pengen nimpuk pake bakiak.wkwkwk


Pengen bikin tokoh packboy yang berakhir bucin.hihihi

__ADS_1


Tapi kira-kira ada yang baca nggak ya?


Suka insecure duluan aku tuh.huhuhu


__ADS_2