Langit Senja

Langit Senja
Grace 2


__ADS_3

Antara kasihan dan ingin tertawa. Senja menatap heran Grace yang masih marah-marah dengan berurai air mata. Tapi mulutnya tak henti mengunyah makanan yang ia bawakan.


Sedangkan Baskara duduk acuh disebelahnya menonton televisi setelah membersihkan diri. Menunggu istrinya yang belum juga menyusul kedalam kamar.


"Umur lo berapa sih, Grace?" tanya Senja heran. Seharusnya hal seperti itu bukan masalah besar bagi Grace dengan usia dan uang yang ia punya.


"Kalau lo lapar, sekitar sini banyak restoran. Dan lo bisa makan apa aja yang lo pengen."


Grace hanya melirik sinis, tak menanggapi karena mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Kalau lo nggak bisa masuk, dibawah ada cafe." imbuh Senja masih tak habis pikir. "Lo bisa ngopi-ngopi dulu sambil nunggu gue atau Bas pulang."


"Atau hotel deh, kalau lo udah pengen istitahat dan males duduk-duduk di cafe berjam-jam."


"Bawel lo!" sahut Grace yang kini menyambar gelas berisi air mineral.


"Ya lagi heran aja gitu. Duit banyak. Tapi malah kaya gembel tidur didepan pintu." kali ini Senja tak bisa menahan tawanya.


Ia bahkan tergelak cukup kencang. Hingga bibir Baskara membungkamnya dengan kecupan mematikan.


"Perempuan nggak baik ketawa kencang-kencang, ayy." Baskara memperingati istrinya dengan lembut.


Senja merenges dan meminta maaf.


"Dia tuh cuma kucing rumahan yang berlagak jadi singa liar." ujar Baskara yang mendengus ketika menatap Grace.


"Maksudnya?"


"Gadis penakut yang berusaha mengikuti pergaulan bebas teman-temannya cuma biar nggak dinilai kuper."


"Tapi kemana pun dia pergi pasti ada dua dayang yang selalu ikut. Jadi mana berani dia tidur di hotel sendirian. Atau makan dan nongkrong di cafe sendiri."


Grace nakal, bebas dan sering keluar masuk klub malam. Tapi Baskara tahu gadis itu masih gadis penakut yang hanya berlagak mengikuti pergaulan teman-temannya yang bagi Grace terlihat keren.


"Serius? sekedar ke mini market, lo juga nggak berani sendiri?" tanyanya masih tak percaya. "Terus kok bisa lo naik pesawat sendiri sampai sini?"


"Jauh lho. Lama pula penerbangannya."


Jika bukan karena Oma, Grace juga tidak mau datang jauh-jauh sampai ke NY.


Lagi pula, ia tak benar-benar sendiri. Karena ada orang suruhan Oma yang ikut dengannya.


Dan bukan berarti karena dia penakut, dia tidak berani hanya sekedar ke mini market.


Ia hanya tidak terbiasa dengan tempat asing. Dimana ia tidak tahu bahaya apa yang bisa terjadi padanya.


Terlebih di NY. Tidak akan ada yang menolongnya karena memang ia tidak mengenal siapa pun selain Baskara dan istrinya.

__ADS_1


Tadi siang ia keluar juga karena orang itu meminta bertemu dan menanyakannya kapan akan pulang.


Sialnya, ia lupa tidak menanyakan passcode apartemen yang Senja dan Baskara tinggali. Lebih kesal lagi ketika kedua orang itu tidak ada yang bisa dihubungi.


"Bukan urusan lo!" jawabnya ketus dan meninggalkan pasangan suami istri yang tengah mengolok-oloknya.


"Kamu serius mas? dia nggak pernah pergi sendiri?"


Baskara hanya mengangguk dan mematikan televisi untuk mengajak istrinya masuk kedalam kamar karena tubuhnya sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.


"Iiih jawab dulu!" seru Senja yang dirangkul suaminya sembari berjalan.


"Kan aku udah jawab sayang. Aku capek, mau tidur, ayy."


Senja merotasikan bola matanya. "Tadi kan aku udah bilang. Tidur duluan aja. Biar aku yang nemenin Grace makan. Ngapain nyusul!"


"Tidur sendirian nggak enak. Dingin."


***


Esok paginya Senja dikejutkan dengan koper diruang tengah dengan Grace yang sudah berpenampilan rapi, duduk dengan elegant di sofa.


Ternyata gadis itu memutuskan untuk pulang. Takut kejadian semalam terulang kembali.


Lagi pula ia bosan ditinggal sendirian. Sedangkan Senja dan Baskara baru akan pulang ketika hari sudah gelap.


"Mau kemana lo?" tanya Senja.


"Kenapa? bukannya lo pengen banget gue pergi dari sini? senang kan lo?" balas Grace sinis.


"Emang sih. Tapi lo bukan mau minggat dan ngadu yang enggak-enggak kan sama Oma?" Senja mencium bau-bau mencurigakan.


"Ngapain juga gue ngaduin lo!" ujarnya memainkan kuku dijari lentiknya. "Tanpa gue aduin juga Oma udah nggak suka sama lo. Jadi buat apa gue susah-sisah bikin fitnah."


Senja mencebik tak suka dengan kenyataan yang memang ia sudah tahu itu. Tapi tetap saja, tidak disukai anggota keluarga suaminya sedikit menyakitkan.


"Terus mau kemana lo?"


"Pulang lah. Kemana lagi." gaya yang kecentilan itu lah yang membuat Senja risi. Terlebih niatan Grace untuk merebut suaminya yang memupus semua rasa suka.


Mungkin jika Grace bisa bersikap baik dan tidak ada niat buruk untuk rumahtangganya, mereka bisa berteman baik.


Kapan lagi kan Senja memiliki teman sombong, banyak tingkah, tapi kekanakan dan sedikit bodoh.


Mengingat bagaimana Grace saja sudah membuatnya ingin tertawa. Cukup menghibur sebenarnya keberadaan Grace didalam apartemennya. Meskipun menyebalkannya lebih banyak.


"Mana calon suami gue! gue mau di antar sampai bandara."

__ADS_1


Entah sudah berapa kali Senja merotasikan matanya. Mungkin ia harus meralat keberadaan Grace yang cukup menghibur tadi.


"Serius. Gue takut lo jadi gila. Segitu ngarepinnya lo jadi madu gue."


"Kita tunggu aja sampai kalian balik ke Jakarta."


Bodo amat dengan anggapan Grace yang bisa menjadi istri kedua dari suaminya. Yang ia penasaran kini, untuk alasan apa Grace jauh-jauh datang ke NY padahal tidak pernah pergi jauh.


"Gue masih belum ngerti tujuan lo datang kesini." Senja yang sudah duduk disisi sofa yang lain bertopang dagu dan memiringkan kepalanya menatap Grace. "Nggak mungkin kan lo jauh-jauh kesini cuma buat bilang kalau lo akan jadi madu gue?"


"Kalau emang benar. Gila parah." Senja terus saja nyerocos tak peduli Grace yang sudah bosan dengan suaranya. "Ini jaman modern sist. Telefon, Videocall atau kirim chat gampang banget gue rasa."


Entah apa yang tengah Grace lakukan dengan kopernya. Seperti tengah mencari sesuatu yang kemudian dilemparkan kearah Senja.


"Apa nih?"


"Ramuan penyubur kandungan buat lo minum dari Oma. Itu tujuan gue datang."


Senja membolak-balikan bungkusan yang berisi rempah-rempah yang kata Grace adalah penyubur kandungan


Tapi tak ada niatan untuk berterimakasih karena Grace sudah jauh-jauh terbang lintas negara bahkan benua hanya untuk mengantarkan ramuan itu.


Senja justru melempar kembali barang itu kepada Grace. "Lo pikir gue percaya? Nanti yang ada bukannya gue punya anak malah mandul lagi!"


Grace mendengus sinis. "Lo bukannya emang mandul?"


Senja membulatkan bola matanya. " Mulut lo kayaknya perlu gue pasangin filter AC deh! biar kalau lo ngomong bikin adem. Nyesel banget gue nampung lo beberapa hari disini!"


Marah? jelas marah. Siapa yang tidak marah dikatakan mandul meski ia memang belum memiliki anak setelah hampir satu tahun menikah.


Namun tetap saja, hatinya sebagai seorang perempuan merasa terluka mendengarnya.


Terlebih yang mengatakannya juga sesama perempuan.


Tak terbayangkah Grace jika gadis itu ada diposisinya?


"Udahlah, gue males nanggapin cewek yang nggak nyadari diri kayak lo!"


"Harusnya lo bisa ngerelain Aska untuk menikah lagi demi kebahagiaan suami lo!"


"Karena sesabar-sabarnya dia. Sepengertian apa pun dia. Pasti tetap saja jauh dilubuk hatinya, dia pasti ingin memiliki anak."


"Cuma kasihan aja sama lo!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2