Langit Senja

Langit Senja
Lapar


__ADS_3

Tengah malam Jingga terbangun karena perutnya yang terasa lapar. Disebelahnya sang suami masih tertidur lelap. Sudah mengenakan piama juga.


Sepertinya Farri mandi ketika ia tertidur. Jingga merasa malu sendiri. Suaminya yang seorang pria bahkan lebih peduli kebersihan dibanding dirinya yang memilih tidur setelah kegiatan panas mereka.


Tapi mau bagaimana lagi, ia memang merasa sangat lelah melayani sang suami beberapa jam dan hanya beristirahat sejanak sebelum memulai lagi.


"Bang." guncang Jingga pada lengan sang suami yang berada pada pinggangganya. "Abang bangun."


Farri melenguh dan kemudian membuka matanya. "Kenapa sayang? ini masih malam banget. Tidur lagi yuk." ajaknya kembali memeluk sang istri.


"Aku laper bang."


Dengan susah payah Farri membuka matanya yang terasa berat. Ia memang salah sudah membuat istrinya melewatkan makan malam. Jadi tak mungkin ia tega membiarkan istrinya kelaparan.


"Mau makan apa? Mau delivery aja?" tawar Farri yang kini sudah duduk. Tangannya membetulkan selimut yang menutupi tubuh polos istrinya yang hampir melorot ketika gadis itu bangun mengikutinya.


"Mau masak sendiri aja. Tapi temenin." ujar Jingga menolak tawaran sang suami.


Farri menggeliat dan mengangguk. "Mandi dulu sana. Pakai air anget. Abang siapin ya?"


Jingga mengangguk dengan senyum merekah. Menunggu sang suami menyiapkan air hangat untuknya mandi di dini yang cukup dingin.


"Airnya udah siap. Mau abang gendong?" tawar Farri lagi yang dijawab gelengan dengan senyum yang tetap tersungging.


"Abang tunggu aja disini. Aku mandi dulu." Ia memang merasa bersyukur mendapatkan suami sebaik dan penyayang seperti Farri.


Jika yang menjadi suaminya orang lain. Pernikahannya mungkin tak akan berakhir baik seperti ini.


Tak berapa lama, Jingga sudah keluar dari ruang ganti dengan rambut masih di gulung handuk. Tapi tak mendapati suaminya di kamar.


Melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, Jingga melangkah keluar. Mungkin suaminya sudah turun lebih dulu, menghindari rasa kantuk yang mungkin saja datang kembali.


Mendekati dapur, wangi nasi goreng tercium diiringi bunyi spatula yang beradu di atas wajan.


"Abang masak?" tanyanya tak percaya begitu melihat sang suami yang mengenakan celemek tengah memasak di dapur.


Farri tersenyum dan menggerakkan kedua alisnya sebagai jawaban.


"Emang bisa?" tanyanya lagi meragukan.

__ADS_1


"Kenapa kamu selalu ragu, sih? waktu itu kamu ragu abang biaa ngajarin kamu pelajaran. Sekarang ragu abang bisa masak." cebiknya pura-pura kesal.


Jingga terkekeh melihat wajah suaminya yang pura-pura merajuk. Gadis itu peluk suaminya dari belakang dan melongokkan wajahnya ke dalam wajan berisi nasi goreng yang terasa harum.


"Nggak nyangka aja bang. Anak bandel model abang bisa juga megang spatula."


"Waaahh penghinaan. Justru cowok kalem model Vindra nggak bakal bisa apa yang abang lakuin. Apa lagi Senja."


"Masa?" goda Jingga.


"Abang pernah hidup jauh dari keluarga. Jadi tahu cara ngurus diri abang sendiri. Beda sama Vindra yang disini semua udah siap tersedia."


Jingga mengangguk mengerti. Karena Farri kuliah jauh di luar negeri jadi tidak heran suaminya itu bisa memasak. Meski sebelumnya ia bahkan tak memikirkan apa suaminya ketika kuliah dulu makan dengan baik.


"Btw.. Cieee udah berani meluk." goda Farri yang langsung membuat Jingga melepaskan pelukannya dengan malu dan memilih duduk di meja makan. Gadis itu bahkan tidak sadar dirinya seberani itu kini pada suaminya.


Jika ditempat tidur memang sudah biasa. Meski Farri lebih sering memeluknya lebih dulu. Tapi untuk di luar kamar ini pertama kalinya.


Farri membawa dua piring berisi nasi goreng lengkap dengan telor ceplok ke meja makan dimana istrinya menunggu.


"Kenapa masih malu aja, sih? abang lebih suka kamu yang berani berekspresi kaya tadi. Abang nggak keberatan kamu peluk abang dimana pun. Abang malah seneng."


"Tapi aku malu abang ledekin." lirih Jingga.


"Iya. Abang janji ngga ngeledekin lagi. Ayo dimakan." Farri mengusap kepala istrinya yang masih tertutup handuk dan mereka mulai makan. Sesekali Farri menanyakan apa masih kesulitan dengan pelajaran. Jingga juga sesekali bertanya bagaimana pekerjaan suaminya dan apa suka dukanya menjadi seorang arsitek.


Obrolan mereka memang cukup mengalir akhir-akhir ini. Tak ada lagi kecanggungan jika ingin menanyakan sesuatu. Keduanya sudah berdamai dengan takdir yang mereka jalani kini. Saling menerima, saling melengkapi dan berusaha menumbuhkan rasa di hati masing-masing.


"Dari tadi kemana aja baru makan?" Senja sudah berdiri di pintu ruang makan dengan gelas di tangan kanannya. Dan tangan kirinya berkacak pinggang. "Kamar juga diketokin nggak ada yang jawab."


"Ketiduran, dek." jawab Farri. Sedangkan Jingga menunduk menyembunyikan wajahnya malu. Padahal Senja mana tahu apa yang mereka lakukan jika tidak ada yang memberi tahu Senja. Tapi rasanya tetap saja Jingga malu.


Senja mengangguk percaya saja. Menuang air kedalam gelas dan kembali ke kamar.


***


"Mau kemana?" tanya Alvaro begitu melihat anak dan menantunya sudah rapi.


"Kencan dong pah..." pamer Farri pada keluarganya. Jingga hanya bisa tersenyum malu.

__ADS_1


"Dih sombong!" cibir Senja yang sebenarnya kesal dirinya tak bisa ikut karena lagi-lagi harus menyelesaikan tugas dengan Baskara yang kemarin belum selesai.


"Abang udah nikah. Sombong mah sah-sah aja." ucap Farri. "Emang kamu jomblo." ledeknya dengan memeletkan lidah.


"Papa... abang tuuuhh!" rengek Senja pada sang ayah yang tengah merangkulnya.


"Makanya cari pacar." Vindra menimpali. Pria itu juga sudah rapi ingin menjemput kekasihnya untuk jalan. Karena mereka hanya memiliki waktu di weekend.


"Nanti kalau adek punya pacar, jangan pada protes ya!" ancam Senja. "Jangan pada gangguin pacar aku!"


"Asal pacarnya kaya abang atau Vindra, nggak masalah." kedik Farri.


"Ogah! punya pacar kaya kalian. Mau punya pacar yang kaya papa aja." peluk gadis itu pada sang ayah yang mengusap rambutnya lembut.


"Bener lho ya?" Farri memicingkan matanya pada sang adik. "Awas kalau dapetnya nggak sebaik papa. Abang bully abis cowokmu."


Senja hanya memeletkan lidahnya pada sang kakak.


Farri, Jingga dan Vindra pamit pergi pada kedua orang tua mereka.


"Beliin adek oleh-oleh!" pinta Senja memaksa pada Farri.


"Iya, adek abang yang cantiiikkk... tapi jones." Farri melirihkan kalimat terakhir. "Mau di beliin apa?"


Senja langsung menyebutkan sederet daftar makanan juga beberapa barang yang ingin ia beli tapi belum sempat pergi keluar.


"Oke nanti abang beliin semua." Senja meloncar senang dan mencium pipi Farri.


***


Ditemani kedua orang tuanya, Senja kembali belajar bersama Baskara yang lebih banyak mengobrol dengan orang tuanya.


"Kenapa gue harus terjebak sama jones model lo, sih?" keluah Senja pada Baskara yang kembali fokus belajar.


"Sesama jones nggak usah saling menjelekkan." jawab Baskara dingin.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2