
"Satu minggu lagi, kamu datangi koperasi terakhir tadi. Beliau bilang minggu depan siap memberi jawaban untuk kita." kini Baskara dan Andi sudah dalam perjalanan kembali ke ibu kota.
Mereka berhasil mengumpulkan koperasi yang bisa menunjang kinerja perusahaan. Menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan dan menyelamatkan ribuan karyawan yang bergantung hidup disana.
"Bapak tidak ikut?"
Baskara-yang duduk dibangku belakang dengan mata terpejam bersandar ada sandaran jok-menggeleng. "Istri saya akan melahirkan. Saya tidak ingin pergi meninggalkannya jauh-jauh. Makannya kamu menikah biar tahu bagaimana rasanya jauh dari anak istri. Dan tahu gimana resahnya jauh dari istri yang hamil besar."
Andi hanya mendengus dalam hati. Tidak perlu disuruh pun ia akan menikah jika sudah menemukan pasangan yang tepat.
Ia juga pria normal yang sudah siap secara mental dan finansial untuk membangun sebuah rumahtangga. Sayangnya kesibukannya membuatnya tak memiliki waktu untuk memulai hubungan asmara.
"Atau mau saya kenalkan dengan seseorang? siapa tahu kalian cocok." tawar Baskara.
"Tidak, terimakasih pak." jawab Andi datar.
Baskara mencebik dengan kekakuan asistennya itu. Meskipun ia juga sebenarnya tak sungguh-sungguh untuk mengenalkan seorang wanita untuk Andi. Karena ia tak memiliki banyak teman dekat. Bahkan tidak ada.
"Ya sudah." balas Baskara acuh. "Tapi kamu juga harus memikirkan kehidupan asmaramu, Ndi. Jangan sampai masa mudamu berlalu sia-sia dengan hal membosankan seperti pekerjaan." cibirnya.
"Bapak tidak perlu mengkhawatirkan itu. Bapak khawatirkan saja keluarga dan perusahaan." jawab Andi. Dan melanjutkan dalam hati. "Cukup anda bekerja dengan baik, itu sudah sangat membantu saya meluangkan waktu untuk memikirkan asmara."
"Apa kamu selalu sekaku ini, Ndi? tidak bisakah di luar jam kantor kita bicara dengan santai?" Baskara bukan pria kaku, jadi untuk bersikap profesional 24 jam penuh dengan Andi meski diluar jam kantor rasanya tidak nyaman.
"Lebih baik seperti ini, pak. Agar kita tahu batasan masing-masing."
Baskara lagi-lagi mendengus dengan jawaban asistennya itu. Tapi terus mengajak Andi berbicara untuk mengisi kekosongan perjalanan mereka.
"Jadi sudah sejak kapan kamu dipersiapkan oleh kakeh untuk mendampingi saya?"
"Sejak lulus menengah atas." jawaban Andi selalu saja datar.
"Jadi sebenarnya kamu terpaksa dong kerja dengan saya? padahal sebelumnya kamu mempunyai jabatan yang lumayan diperusahaan."
"Tidak. Jabatan saya sebelumnya hanya diberikan oleh tuan besar Lazuardi sebagai bekal saya mendampingi anda. Terutama ketika anda memimpin nanti."
__ADS_1
Memang masih banyak hal yang perlu Baskara pelajari. Terutama berkaitan dengan klien. Dan Andi selalu bisa diandalkan untuk itu.
"Kamu tidak menyesal? tidak marah dengan kakek karena seperti mempermainkan jabatan kamu diperusahaan?" cecar Baskara masih belum puas dengan alasan Andi berada disampingnya.
"Tidak. Tuan besar sudah menjelaskan semuanya dari awal. Tuan besar juga tidak memaksa saya untuk menerima pekerjaan ini. Jadi tidak ada alasan saya untuk kecewa, karena ini jalan yang saya pilih."
"Tapi kan kamu lebih tua dari saya. Seharusnya saya yang menghormati dan menuruti kamu, bukan sebaliknya."
"Anda bisa melakukan itu jika mau." jawab Andi sambil lalu. Membuat Baskara melingkarkan bola matanya.
Meski Andi terkesan dingin dan tegas. Tapi terkadang sifatnya menyebalka juga. Gerutu Baskara dalam hati.
***
Mobil Baskara menepi diteras rumah Alvaro begitu Matahari pulang keperaduannya. Menyisakan semburat merah yang mulai lenyap dimakan gelapnya malam.
"Daddy!!" seru batita yang beberapa minggu lalu usianya baru genap satu tahun.
Dengan langkah yang masih tertatih dan sesekali terjatuh, baby Anna menghampiri ayahnya yang duduk berlutut tak jauh darinya.
Baskara terus menyorakkan teriakan penyemangat. Membuat putri kecilnya tidak sabar dan terjatuh ketika berusaha berjalan lebih cepat padahal belum mampu.
"Aduh sayang.. Lain kali hati-hati ya?" Baskara langsung menggendong putri kecilnya yang menangis. "Sini mana yang sakit, daddy tiup."
Alvaro dan Tiara tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu. Hanya ada mereka berdua disana yang menemani baby Anna.
Farri dan Jingga tengah menginap dirumah orang tua Jingga. Sedangkan Senja tengah diperiksa kehamilannya oleh Fani didalam kamarnya.
"Nggak sabar dia tuh, Bas. Dari beberapa hari yang lalu manggil-manggil kamu terus. Kangen dia ditinggal lama sama daddy-nya."
Baskara tersenyum kearah mertuanya. Mendekat dan menyalami mereka dengan mencium tangan kedua orang tua istrinya itu. "Senja mana mah?"
"Ada diatas, lagi kontrol kehamilan sama Fani."
Baskara mengangguk dan berganti menyalami Alvaro.
__ADS_1
"Gimana kerjaan beres?" Alvaro menepuk bahu menantunya itu ketika menyalaminya.
Baskara menceritakan semuanya pasa Alvaro dan Tiara. Tapi hanya Tiara yang terlihat kaget. Tidak dengan Alvaro yang sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu.
"Namanya dunia bisnis, Bas. Tidak semua orang yang kita percaya itu baik. Akan sama seperti yang kita harapkan." ujar Alvaro. "Papa dulu juga pernah disabotase. Uang hasil proyek yang seharusnya jadi hak papa, diambil sama karyawan kepercayaan papa sendiri. Karena memang klien itu dia yang bawa, jadi masalah pembayaran papa serahkan sama dia. Tidak tahu kalu dia justru berniat jahat."
Baskara tersenyum miris. Jika orang kepercayaan mertuanya saja bisa menusuk dari belakang seperti itu, bagaimana dengan ia yang tidak mengenal karakter satu-persatu orang-orang diperusahaan.
"Bas masih perlu banyak belajar pah. Bas kira bakal gampang. Makanya pas oma bilang suruh nerusin usaha keluarga, aku iyain aja."
"Menjalankan perusahaan itu nggak mudah. Bukan hanya soal pekerjaannya saja. Tapi juga tanggung jawab yang kita emban. Bagaimana kita bertanggungjawab pada orang-orang yang kita pimpin."
"Kerena mereka percaya kita sebagai pemimpin merek, jadi bisakah kita membawa perusahaan lebih baik agar kita juga bisa menjamin kehidupan mereka akan lebih baik saat bergabung dengan kita."
Baskara mengangguk. Menyetujui apa yang ayah mertuanya katakan.
"Papa merintis dari nol saja kadang takut. Takut nggak bisa bayar teman papa yang ikut kerja bareng papa. Takut proyek yang papa pegang tidak berjalan lancar. Takut dibohongi karena saat itu papa masih anak SMA."
Tiara entah sejak kapan beranjak, kini kembali dengan cangkir teh untuk suami dan menantunya.
"Apa lagi kamu yang sekalinya terjun langsung pegang perusahaan raksasa. Yang pemutarannya sudah pasti tapi penuh dengan tanggungjawab."
"Iya pah. Makanya Bas sering mikir apa Bas mampu? Apa nanti nggak mengecewakan? Bas takut belum bisa mengemban tanggungjawab sebesar itu. Padahal Bas aja belum bisa bertanggungjawab dengan benar pada diri Bas sendiri juga sama anak istri."
Maksud Baskara adalah ia yang belum bisa menafkahi anak istrinya dengan baik dengan hasil jeri payahnya sendiri. Baru dua bulan ini ia bekerja, itu pun gaji baru turun bulan lalu sesuai peraturan perusahaan. Meskipun ia cucu dari pemilik perusahaan sendiri.
Dulu ia sempat menafkahi Senja sat ia magang. Tapi itu pun hanya beberapa bulan saja.
Jadi kini Baskara tengah berjuang menjadi pemimpin yang baik. Tak hanya untuk perusahaan juga untuk anak dan Istrinya.
*
*
*
__ADS_1