
Bagaimana Tante? Sudah berapa minggu usia calon ponakan aku? Tanya Alya. Gadis itu melihat ke arah layar USG.
"Usianya sudah 4 minggu, janinnya juga sehat dan kuat." Jawab dokter Arini yang tidak lain adalah tante dari Alya.
"Tentu saja, ponakan aku pasti kuat."
Mendengar apa yang di katakan Alya, dokter Arini mengernyitkan keningnya. Dia merasa jika keponakan kesayangannya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Dokter Arini lalu menoleh ke arah Senja yang terus tersenyum menatap pada layar monitor.
"Sudah selesai." Tidak ingin terlarut dalam masalah dua remaja itu, dokter Arini pun menyelesaikan pemeriksaannya, dan memang sudah selesai juga.
Setelah selesai pemeriksaan dan juga menebus vitamin, Alya dan Senja langsung keluar dari rumah sakit.
"Senja tunggu!"
Baru saja mereka akan memasuki mobil, seseorang memanggil nama Senja. Terdengar dari suaranya, Senja seperti mengenalnya. Tidak ingin penasaran lebih lama, akhirnya wanita ini menoleh ke belakang di mana sang pemilik suara itu berada.
Dan benar saja apa yang Senja pikirkan. Orang itu adalah Daniel, orang yang kemarin Senja hindari setelah pulang sekolah.
Daniel pun menghampiri dua remaja itu. "Senja kamu tadi kenapa masuk ke ruang dokter kandungan?" Tanya Daniel to the point
Deg
Bagaimana Daniel bisa tahu kalau dia masuk ke ruang dokter kandungan? Ya, Danie memang tahu. Karena Sejak dua remaja itu memasuki rumah sakit dan Daniel yang kebetulan juga sedang berada di sana, dia melihat Senja dan Alya datang lagi ke rumah sakit. Karena ke ingin tahuannya sangat besar, akhirnya secara diam diam laki laki remaja yang sedang tergila gila pada Senja itu mengikuti secara diam diam. Dan alhasil, Daniel merasa terkejut saat dua remaja itu memasuki ruangan dokter kandungan.
Apakah di antara mereka ada yang hamil? Apakah Alya? Atau gadis pujaannya, Senja?. Daniel menggelengkan kepalanya. Laki laki itu bertekad akan bertanya nanti setelah mereka keluar. Dan di sini lah mereka, di parkiran rumah sakit.
Wajah Senja menegang. Bagaimana Daniel bisa tau? Itu yang ada dalam pikirannya.
"K....kamu ng...ngikutin kita?" Tanya Senja dengan gagap.
__ADS_1
Danie mengangguk. "Iya, karena aku penasaran kalian sering ke rumah sakit." Jelas Danie. "Jadi?" Tanya Daniel lagi. Pria itu menaikkan ke dua alisnya menunggu jawaban dari sang pujaan hati.
"Emm Daniel, aku... A...aku..."
"Lo lupa Niel kalau dokter Arini itu tante gue? Kita ke sana cuma temui dia aja." Tahu akan kegugupan sahabatnya, Alya akhirnya ikut menyela.
Mendengar penjelasan dari Alya, Daniel merasa lega. Yang dia takutkan ternyata tidak terjadi. Laki laki itu pun mengangguk saja.
"Oh iya Senja, kemarin kita kan nggak jadi ketemu. Mumpung sekarang kita ketemu dan waktunya sudah pas, aku mau ngomong sekarang sama kamu." Daniel tidak ingin kehilangan kesempatan lagi untuk berbicara dengan Senja. Karena menurutnya, pujaan hatinya ini sangat sulit untuk di temui, apa lagi di ajak berbicara. Jadi, kali ini sepertinya Daniel akan sedikit memaksanya.
Senja masih terdiam mematung, dia sangat tahu apa yang akan laki laki di hadapannya ini bicarakan. Wanita itu melirik ke arah Alya seakan meminta pendapat. Alya yang tahu akan lirikan Senja, dengan penuh keyakinan dia menganggukkan kepalanya.
"Gimana Nja?"
"Ya udah, tapi di sini aja dan biarin Alya di sini juga."
Sebelum bicara, laki laki itu menarik napasnya panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Senja, aku yakin kamu sudah tau apa yang ingin aku katakan." Ucap Daniel, laki laki itu meraih tangan Senja yang berdiri di hadapannya. Daniel tersenyum simpul melihat Senja yang tidak menolaknya. "Dan sesuai dengan ucapan mu waktu itu yang belum bisa menerimaku sebelum lulus sekolah, dan sekarang, saat ini juga aku memintamu untuk menerimaku sebagai kekasihmu. Apa kamu akan menepati janji mu Senja?"
Hening. Hanya keheningan selama beberapa menit setelah Daniel berbicara. Sedangkan Daniel, dia menunggu jawaban dari Senja.
Namun, apa yang terjadi? Dengan tiba tiba Senja melepas tangannya dari genggaman Daniel, membuat laki laki itu mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Maaf Daniel, gue nggak bisa. Dan ya, gue nggak pernah berjanji apapun sama lo Niel." Tolak Senja.
Nyatanya, kepercayaan diri Daniel runtuh seketika. "Maksud kamu apa Nja? Kamu melupakan janjimu ke aku? Kamu lupa terakhir kali aku nembak kamu dan kamu bilang kalau setelah lulus kamu akan terima aku?"
"Lo salah mengartikannya Daniel, gue bilang setelah lulus gue akan jawab Daniel, bukan bilang." Jelas Senja, supaya Daniel tidak semakin salah paham padanya.
Namun, laki laki itu menggeleng kuat. Rasanya, dia tidak bisa menerima semua ini. Di sudah begitu tergila gila pada wanita di hadapannya ini.
__ADS_1
"Nggak Nja, aku nggak bisa terima penolakan mu. Kamu harus jadi milikku, dan mulai saat ini kita adalah sepasang kekasih, oke? Aku janji akan bahagiain kamu sayang. Kita akan bersama selamanya." Paksa Daniel, laki laki itu kembali meraih tangan Senja dan menggenggamnya begitu erat. Sementara Senja, dia berusaha melepaskan genggaman tangan Daniel terasa begitu menyakitkan.
"Lepas Daniel, ini Sakit. Gue nggak bisa jadi pacar lo Niel, tolong jangan paksa gue." Senja melepaskan tangannya yang tak kunjung di lepas oleh Daniel.
Sedangkan Alya? Bukan tidak ingin menolongnya, akan ada saatnya dia menolong Senja, tapi nanti saat keadaan tidak bisa terkendali. Tapi semoga saja masih bisa di kendalikan. Dengan sikap dewasanya, Alya masih diam berdiri di sisi mobilnya dengan memperhatikan dua pasang remaja yang sedang berbicara. Gadis itu akan memberikan kesempatan pada Senja untuk mengatakan yang sebenarnya sebelum dia sendiri yang bertindak menghentikan laki laki gila itu mengejar sahabatnya.
"Kenapa kamu nggak bisa terima aku Senja? Apa kamu sudah punya pacar? Apa ada laki laki lain di hatimu?"
"Ya! Di hatiku sudah ada laki laki lain, dan dia adalah suamiku." Dengan spontan dan tanpa ia sadari telah mengatakan yang sebenarnya.
Daniel langsung melepaskan cengkeramannya dari tangan Senja yang kini terlihat memerah. Daniel mundur beberapa langkah, dia begitu syok akan pengakuan Senja yang membuat hatinya hancur seketika. Laki laki itu menggelengkan kepalanya dengan tersenyum, senyum penuh luka.
"Nggak mungkin, kamu bohong kan Senja? Kamu bicara begitu hanya karena mau menghindariku kan?" Daniel masih belum percaya dengan apa yang di katakan oleh Senja. Laki laki itu belum bisa menerima kenyataan kalau Senjanya, gadis pujaannya yang sekarang sudah tidak gadis lagi sudah bersuami. Ya, Daniel tidak akan mempercayainya.
"Aku berkata benar Daniel, aku sudah menikah dua bulan lalu." Ucap Senja, dia juga menunjukkan cincin pernikahannya yang melingkar di jari manis nya. "Dan sekarang gue sedang hamil anak dari suami gue." Senja juga menunjukkan hasil pemeriksaannya tadi supaya Daniel percaya dan tidak mengejarnya lagi.
Daniel menerima kertas yang ada di tangan Senja dan membacanya secara seksama. Daniel menatap ke arah perut Senja yang masih terlihat rata namun siapa sangka di dalam sana sudah ada nyawa nya.
"Harusnya didalam perutmu itu ada anak kita Senja, bukan orang lain."gumam Daniel yang masih bisa di dengar oleh Senja yang sekarang tengah syok dengan ucapan Daniel. "Kenapa Senja? Kenapa kamu menghianatiku?!" Teriak Daniel. Membuat Senja terkejut dengan teriakan Daniel.
Senja menggelengkan kepalanya. "Gue nggak pernah hianati lo Daniel, karena kita nggak pernah ada hubungan apa pun selain teman." Jelas Senja.
Daniel menatap nyalang ke arah Senja. "Jadi karena ini lo nolak gue? Karena lo udah punya kekasih dan menikah? Denger gue baik baik Senja, dan ingat. Gue, akan bunuh suami lo itu dan setelah nya gue akan milik lo seutuhnya." Ucap Daniel dengan tersenyum smirk. Laki laki itu langsung melempar kertas hasil pemeriksaan Senja tadi lalu pergi begitu saja.
***Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
HAPPY READING***
__ADS_1