
Senja menatap hampa kertas rujukan dan ruang pemeriksaan selanjutnya. Ia tak pernah menyangka hari seperti ini akan menghampirinya.
Tak hanya tatapan matanya yang kosong, pikirannya juga kosong. Tak tahu harus merasa apa. Karena sejujurnya Senja belum siap untuk hari ini.
Berbanding terbalik dengan sang suami yang senyumnya tak sedikitpun memudar setelah dokter Imanuel memberikan surat rujukan yang mengantar mereka pada dokter spesialis kandungan.
Ya. Dokter Imanuel mendiagnosa jika sakit yang Senja alami karena bawaan bayi. Atau ia tengah hamil muda. Dan untuk lebih jelasnya, nanti dokter spesialis kandungan yang akan menjelaskan.
"Baby Anna pasti bakal seneng banget deh, Ayy, kalau nanti adeknya lahir. Dia jadi nggak kesepian karena ada temannya." saking bahagianya, Baskara tak menyadari sorot mata sendu di kedua netra indah sang istri.
Bagi Baskara yang merupakan anak tunggal. Memiliki banyak anak adalah keberkahan. Karena ia tidak ingin anaknya kelak merasa kesepian seperti dirinya.
Ia ingin memiliki keluarga seperti keluarga sang istri. Dimana ada ayah ibu dan anak-anak yang saling menyayangi dan menyempatkan waktu untuk bersama.
Senja memaksakan senyumnya untuk menanggapi ucapan sang suami yang tiada habisnya membahas calon anak kedua mereka.
Baskara terus berceloteh tentang apa jenis kelamin anak kedua mereka nanti. Akan seperti apa wajahnya, apakah mirip Senja lagi atau akan mirip dirinya, atau mungkin perpaduan antar wajah mereka. Dan banyak hal lainnya yang Baskara ucapkan dengan antusias.
"Kok diem aja sih, ayy? kamu masih pusing?" tanyanya begitu Senja tidak terlihat antusias seperti dirinya.
Masih dengan senyum paksa, Senja mengangguk dan menyandarkan kepalanya dibahu sang suami. Saat ini ia benar-benar membutuhkan sandaran. Untuk meyakinkan dan menguatkan dirinya. Bahkan ia masih menganggap ini mimpi dan akan berakhir ketika ia bangun.
Masuk kedalam ruang praktek dokter kandungan-yang sebelumnya juga menangani kehamilannya ketika hamil baby Anna-dokter langsung melakukan beberapa tes dan pemeriksaan.
Tak butuh waktu lama, dokter membenarkan diagnosa dokter Imanuel sebelumnya. Bahwa Senja benar-benar tengah berbadan dua. Kehamilannya kini sudah menginjak usia dua bulan. Dan kandungannya sedikit lemah karena Senja yang tidak menjaga kesehatannya. Terlalu lelah dan stress yang pada akhirnya mempengaruhi kandungannya.
Beruntung obat-obatan yang selama ini Senja konsumsi aman untuk ibu hamil dan menyusui. Jadi tidak berpengaruh pada janin mereka.
"Tapi anak kami akan baik-baik saja kan, dok?" wajah Baskara yang sedari tadi terlihat berbinar, kini berganti dengan kekhawatiran.
"Jika Mrs.Senja bisa menjaga pola istirahat dan makannya dengan baik, serta teratur minum vitamin, janin dalam kandungannya juga akan berkembang dengan baik."
__ADS_1
Baskara meremas jemari istrinya yang terasa dingin. Ia kira Senja merasa khawatir seperti yang ia rasakan kini. Tak tahu jika tangan dingin itu, wajah sepucat kertas itu sudah ada sejak dokter Imanuel memberikan diagnosa.
"Jangan khawatir, ayy. Calon baby kedua akan baik-baik aja. Aku yang akan jaga kalian dan pastikan kalian akan sehat sampai akhir."
Senja tak merespon. Ia masih menatap nanar layar yang menampilkan janin yang besarnya hanya sebesar kacang tanah. Telinganya juga tuli dari penjelasan dokter yang tengah menjelaskan mengenai ASI untuk baby Anna.
Dalam perjalanannya kembali keapartemen, Senja juga terus saja diam. Membuang pandangannya keluar jendela mobil. Entah apa saja yang mereka lewati karena pikiran Senja tidak berada ditempat.
"Kamu mau mampir beli apa, ayy? Kamu kan ada tanda-tanda ngidam. Nggak kaya pas hamil Anna, jadi siapa tahu sekarang juga pengen apa gitu?"
Baskara yang tengah fokus pada kemudi menoleh ketika tidak mendapatkan balasan dari sang istri setelah beberapa saat.
"Ayy?" panggilnya lembut dan tetap tak mendapatkan respon.
"Sayaaaang..." panggilanya lagi dengan tangan kanan yang berpindah kepangkuan sang istri untuk meraih tangan istrinya yang berada disana.
"Ya mas, kenapa?"
"Harusnya aku yang tanya. Kamu kenapa? kok aku ajak ngomong malah ngelamun?"
Senja menggeleng dan menjauhkan tangannya dari sang suami. "Aku nggak pa-pa, mas. Mas konsen aja nyetir. Aku nggak mau mati muda." jawabnya berusaha senormal mungkin meski nada suaranya masih terdengar aneh.
Namun Baskara yang tidak ingin memperpanjangnya menuruti kemauan istrinya.
Sesampainya dibasement, Senja lebih dulu keluar dari mobil dan melangkah kearah pintu lift. Ia sudah ingin cepat sampai ke unit miliknya untuk memeluk putri kecilnya. Ia ingin meminta maaf pada putri kecilnya itu. Meminta maaf atas kecerobohan yang ia dan suaminya lakukan.
Ia sendiri tidak menyangka akan memberi baby Anna adik disaat usia bayi kecil itu bahkan belum genap enam bulan.
Pengalaman sulit memiliki anak dikehamilan pertamanya saat itu, membuat Senja memutuskan untuk tidak menggunakan penunda kehamilan apa pun. Karena ia tidak ingin nantinya disaat ia sudah siap memiliki anak kedua, akan lebih sulit untuk hamil dibanding kehamilan pertama.
Untuk itu ia percaya diri saja tidak menggunakan alat penunda apa pun. Tidak menyangka justru malah ia akan hamil setelah beberapa bulan ia melahirkan.
__ADS_1
Lift baru membawanya naik setelah Baskara-yang langsung menyusulnya- masuk. Tapi Senja masih tak mau menatap mata suaminya. Entah marah atau takut air matanya tumpah dan suaminya merasa bersalah.
Sampai di unit, Senja langsung menuju kamar tempat baby Anna tengah tertidur. Mengabaikan Maureen dan ibunya yang menanyakan keeadaannya.
Disitulah Baskara melihat ada yang aneh dengan istrinya. Karena Senja bukan tipe anak kurang ajar yang akan bersikap kurang sopan seperti tadi pada orang yang lebih tua.
Dan setelah dipikir-pikir, ia tak melihat senyum istrinya kecuali senyum terpaksa yang baru ia sadari kini.
"Kenapa dengan anak itu?" tanya ibu Maureen pada Baskara.
Ia yang sebelumnya tengah mencoba mengartikan sikap istrinya seharian ini, langsung terkesiap dan menjelakan kondisi istrinya.
"Hamil lagi?!" Maureen berseru heboh. Tak percaya dengan kabar yang ia dengar. Menggeleng tak percaya. Baginya yang masih belum menginginkan anak, membayangkan ia diposisi Senja, ia sudah ngeri. Apa lagi sahabatnya yang mengalaminya sendiri.
Berbeda dengan ibu Maureen yang lebih berpengalaman. "Kini aku tahu kenapa anak itu bersikap seperti tadi." gumamnya menatap pintu kamar dengan sendu. Gumamannya masih dapat didengar Baskara maupun Maureen.
"Maksudmu mom?"
Ibu Maureen kembali menatap Baskara dan berucap. "Dia pasti merasa amat bersalah pada Anna."
Alis Baskara menyatu dengan dahi berkerut. Pertanda ia tak paham dengan apa yang ibu dari sahabat istrinya katakan.
"Dia selama ini sibuk kuliah. Harus meninggalkan Anna dan tidak melihat sendiri setiap perkembangan pertama yang bayi itu bisa."
"Merasa belum cukup dalam melimpahkan kasih sayangnya. Dan yang paling membuatnya merasa bersalah pasti karena ASI. Bayi itu masih begitu kecil untuk mendapatkan adik."
Baskara tertegun. Ia bahkan tak memikirkan bagaimana perasaan baby Anna dari posisi itu. Ia egois dengan hanya menganggap baby Anna akan senang karena akan mendapatkan teman bermain. Tak berpikir dari kebutuhan bayi kecilnya itu.
*
*
__ADS_1
*