Langit Senja

Langit Senja
Tidak Akan


__ADS_3

Tugas kuliah semakin banyak. Ia mengejar lulus tahun ini. Berjuang agar bisa lebih cepat berkumpul dengan sang istri.


Rasanya Baskara tidak sanggup jika harus terus berjauhan seperti ini. Walau setiap jumat selepas kuliah, ia akan langsung menuju NY. Kembali untuk langsung kuliah di senin pagi. Tapi rasanya melelahkan dan berat ketika ia harus kembali pergi.


Baskara berusaha keras agar bisa magang disemester berikutnya. Dan bisa segera ujian dan lulus.


Ponsel diatas meja berdering. Nama oma yang muncul sebagai pemanggil.


"Oma." sapanya setelah mengucap salam. Oma memang lebih sering menghubunginya setelah menikah.


Tapi bukan senang, Baskara justru enggan jika wanita yang sudah melahirkan ayahnya itu menghubungi.


Pasalnya yang Oma tanyakan selalu saja tentang momongan. Tak berbeda dengan kali ini.


"Oma kan baru tanya itu minggu lalu. Aku aja belum ketemu lagi sama Senja. Belum ada proses pembuatan lagi. Jadi gimana Senja bisa hamil."


Biar saja Oma menganggapnya tak sopan dengan berkata begitu terus terang. Ia hanya tidak ingin terus menerus dirongrong masalah momongan.


Membagi waktu untuk kuliah dan istrinya saja ia masih kesulitan. Apa lagi ada anak diantara mereka.


Baskara menggeleng. Tidak. Ia tidak ingin anaknya kurang kasih sayang karena orang tuanya yang sama-sama sibuk. Ia juga tidak mungkin membiarkan Senja hamil seorang diri disaat mereka tengah berjauhan seperti saat ini.


"Tapi kalian sudah menikah lebih dari tiga bulan! masa belum hamil juga!"


Baskara hanya bisa mengusap dada mendengar nada bicara oma yang terdengar kesal.


"Cucu teman oma saja, baru dua bulan menikah sudah hamil. Kenapa kalian belum?"


Baskara memutar bola matanya jengah. "Rezeki orang masing-masing, Oma. Mungkin rezeki mereka emang lagi bagus. Lagian aku lagi sibuk banget kuliahnya. Bentar lagi mau magang dan ngurusin skripsi, sidang dan sebagainya. Kasihan Senja kalau hamil sekarang."


"Kalian tidak menunda momongan kan? Oma juga ingin menggendong cicit! jadi jangan sampai kalian menunda momongan."


Baskara menghela napasnya panjang. Berusaha bersabar dengan kekeras kepalaan sang Oma.


"Oma doakan saja yang terbaik." ucapnya lirih. Lelah jika harus beradu argumen dengan Omanya.


"Atau kamu mau menikah lagi?" tawar Oma tanpa memikirkan perasaan Baskara terlebih perasaan Senja. Untung Oma menghubungi Baskara ketika di Cambridge. Tidak ketika sedang berdua sang istri. Karena pasti Senja akan sangat terluka mendengarnya. "Grace bilang, dia mau jadi istri keduamu."


Mata Baskara membola. Dengan rona merah yang menjalar. "Apa Oma gila! aku nggak akan pernah menikah lagi dengan siapa pun itu!"

__ADS_1


"HYA!! Kamu berani berkata kasar pada Oma sekarang!!"


Menunduk kepala seakan Oma ada dihadapannya. Kembali menjawab dengan lirih. "Oma yang mulai. Aku udah punya istri Oma. Aku nggak mau menikah lagi."


"Tapi istrimu tidak bisa memberi Oma cicit. Jadi untuk apa wanita seperti dia!"


Sungguh, Baskara sangat geram mendengarnya. Jika yang berbicara bukanlah Omanya. Dan Jika yang menghina istrinya ada didepan matanya saat ini. Baskara bersumpah akan mencekik orang itu hingga mati.


"Senja bukannya nggak bisa kasih aku anak. Tapi memang kami yang belum dikasih kesempatan untuk itu!" kenapa juga harus istrinya yang disalahkan. Bukankah jika mereka belum memiliki anak kemungkinannya bukan hanya Senja yang bermasalah. Tapi juga dirinya. "Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat Senja hamil. Oma doakan saja."


"Mau sampai kapan? sampai Oma mati dan tidak bisa melihat keturunan Oma lagi?!"


Baskara memejamkan matanya. Ia paling tidak suka jika ada yang membahas kematian.


"Sampai nanti Bas selesai kuliah dan bisa setiap hari berjuang untuk memberi Oma cicit." Baskara yakin akan hal itu. Bisa jadi saat ini usaha mereka yang kurang sering. Atau tubuh mereka yang lelah. "Aku udah capek kuliah. Begitu juga Senja. Itu juga bisa mempengaruhi, Oma."


"Haah terserahlah. Oma memberi kalian waktu sampai batas yang Oma tentukan. Sampai Oma lelah menunggu, mau tidak mau, kamu harus menikah lagi dengan Grace atau siapa pun wanita yang subur dan bisa memberi Oma cicit secepatnya."


"Tidak, Oma." tolak Baskara teguh pada pendiriannya. "Aku cinta Senja. Sampai kapanpun akan seperti itu. Dan aku nggak akan pernah menduakan cinta dan kepercayaan istriku. Hanya dia yang akan mengandung dan melahirkan anak-anaku, Oma. Aku nggak akan membiarkan siapa pun orang yang membuat istriku meneteskan air mata. Sekali pun itu Oma."


Sebelum Omanya menjawab. Baskara sudah memutuskan sambungan telepon. Dadanya bergemuruh dengan perasaan marah. Napasnya naik turun tak beraturan.


Ponselnya kembali berdering. Baskara kira Oma kembali menghubungi dan memarahinya yang memutuskan sambungan secara sepihak. Sehingga ia langsung mengangkat tanpa melihat Id pemanggil.


"Apa lagi, sih, Oma? kalau Bas bilang enggak ya enggak!"


"Apanya yang enggak? kenapa marah begitu sama Oma?" sahut perempuan diseberang sana dengan terkejut mendengar nada kesal Baskara.


Baskara langsung merubah raut kesal diwajahnya menjadi rasa bahagia begitu mendengar suara merdu sang istri.


"Maaf, ayy. Aku kira tadi Oma."


Senja terdengar bergumam sebagai jawaban. "Emang abis bahas apa sama Oma sampai mas marah gitu?"


"Eh. Engg..." Baskara bingung sendiri akan berdalih apa. "Itu. Oma minta kita pulang katanya kangen. Padahal kamu tahu sendiri kan, ayy, kalau aku lagi sibuk banget kuliahnya." Baskara mengerucutkan bibirnya mencari simpati sang istri walau pun tahu wanitanya itu tidak bisa melihat karena mereka hanya terhubung melalui panggilan suara.


"Iya aku tahu. Saking sibuknya sampai nggak kasih kabar kalau hari ini nggak datang. Padahal aku udah masakin." suara kesal dari istrinya menyadarkan Baskara bahwa hari ini hari jumat. Harinya ia untuk berkunjung tapi ia malah melupakannya.


"Aduuh maaf, ayy. Aku lupa." sesalnya jujur. Meski ia yakin istrinya akan marah. Tapi itu lebih baik dari pada ia berbohong.

__ADS_1


"Bisa-bisanya lupa buat pulang! suami macam apa kamu, mas!" cebikan terdengar keras masuk keteling Baskara.


"Aku tugasnya banyak banget, ayy. Niatnya juga besok mau ngerjain di perpus kampus." padahal rencananya Baskara akan berkunjung malam ini dan kembali besok untuk mengerjakan tugas diperpustakaan kampus. Namun apa daya jika lupa pulang seperti ini. Ia harus bersabar menunggu minggu depan.


"Ya udah nggak papa. Tapi seenggaknya kasih kabar dong, mas. Kan jadi mubazir masakan aku."


Suara manja istrinya ketika merajuk terdengar sangat menggodanya. Sayang mereka tengah berjauhan.


"Iya aku minta maaf ya cantik. Aku beneran lupa. Padahal niatnya ngerjain bentar sebelum kesitu. Tapi Oma malah telepon, jadi lupa deh."


"Ya udahlah. Aku undang Maureen aja. Besok juga aku izin ke Fashion Week bareng Maureen ya mas. Kan kamu nggak balik."


Baskara mengangguk meski Senja tidak melihat. "Hati-hati ya? kabarin aku jangan lupa."


"Iya mas."


"Kangenn banget aku, ayy." rengeknya. "Pengen peluuuukkk." imbuhnya dengan suara seperti anak kecil.


"Manja banget sih! nanti jadi kan magang disini."


Baskara memang sudah menemukan perusahaan untuknya magang di NY. Setidaknya ia tidak akan berjauhan lagi dalam beberapa bulan kedepan. Tidak perlu menunggu untuk wisuda.


"Iya. Tinggal tunggu balasan diterima atau enggak. Tapi dari surat rekomendasi dari dosen sih harusnya diterima."


Senja mengaminkan. "Ya udah. Ngerjain tugasnya jangan sampai kemalaman. Jaga kesehatan. Jangan sampai sakit. Aku nggak mau ada orang lain yang ngerawat kamu."


Senyum Baskara mengembang. Mendengar suara Senja selalu dapat menghilangkan penatnya dengan segala tugas dan kuliah.


"Iya cantik. Ya udah makan terus tidur. Jangan lupa mimpiin aku."


"Hem. Mas juga."


"Malam cantiknya Baskara Lazuardi. Meski jauh, tapi pelukku tetap untukmu."


Senja terkekeh mendengar gombalan suaminya dan langsung memutuskan sambungan.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2