
Gadis didepan Senja tersenyum kaku dan mengulurkan tangan untuk menerima jabatan tangan Senja. "Senja. ISTRI Baskara." ucap Senja menekan kata istri agar gadis didepannya tahu diri.
"L-lura. Teman Indonesia Baskara." setelah melepas tangan mereka, Lura kembali menatap pemuda yang mengambil hatinya sejak hari pertama mereka menjadi mahasiswa baru. "Kamu sudah menikah?"
Lura masih tak percaya dengan pendengarannya. "Bukannya kamu nggak lagi jalin hubungan sama siapa pun?"
"Kami emang nggak pacaran kok." Senja yang mengambil inisiatif untuk menjawab.
"Kalian dijodohin?" setidaknya jika keduanya dijodohkan, Lura merasa masih memiliki kesempatan karena mungkin tidak ada cinta pada keduanya. Meski ia ragu karena sikap Baskara yang begitu manis pada istrinya.
Senja menggeleng sebagai jawaban. Menatap Baskara untuk menjawabnya. "Aku udah cinta sama Senja sejak lama. Tapi emang nggak mau pacar-pacaran. Maunya langsung nikah. Aku nggak mau kehilangan bidadari secantik dan sebaik dia."
Lura menelan ludahnya kelat. Tatapan hangat itu seharusnya untuknya. Bukan untuk perempuan lain. Tenggorokannya tercekat dengan rasa sakit. Matanya memanas.
"Ehem.. Selamat ya." ucapnya setelah berdeham. Setelahnya ia langsung meninggalkan kedua pasangan suami istri tanpa menatap keduanya.
Baskara acuh saja masuk kedalam rumahnya. Senja menghentakan kakinya kesal mengikuti Baskara yang tengah menata belanjaan mereka.
"Siapa sih, mas. Ganjen banget!" gerutunya dengan mulut mengerucut kesal.
"Teman. Tadi kan udah kenalan." Baskara bukan tak tahu istrinya tengah cemburu. Ia hanya ingin melihat sejauh mana istrinya akan cemburu.
"Kata kamu, disini nggak punya teman. Mana segala aku-kamu an lagi!"
"Dia orang Sumatera. Nggak biasa pakai lo-gue katanya."
Senja mencebik tak percaya. Mana mungkin anak jaman sekarang masih pakai aku-kamu. Apa lagi anak kuliahan seperti mereka.
"Dan aku emang nggak punya teman kok sayang. Kita cuma kenal. Nggak dekat."
Senja melipat kedua tangannya didada. Bersandar pada pantry menatap suaminya. "Nggak dekat kok ngajakin jalan!"
"Yaa gimana ya, ayy. Susah sih emang kalau orang ganteng." ucapnya sombong dengan menyugar rambutnya kebelakang. Menaik turunkan alisnya dengan senyum jumawa.
"Percuma ganteng kalau nggak bisa jaga hati!" kesal karena Baskara tak peka dengan rasa tak sukanya. Senja beranjak dan mendudukan diri diatas tempat tidur memainkan ponselnya.
Baskara mencuci tangannya dan menghampiri sang istri yang tengah menekuk wajahnya.
Pemuda itu menumpukan kedua tangannya di pinggir tempat tidur mengurung istrinya yang otomatis memudurkan kepalnya agar jarak mereka tak terlalu dekat.
__ADS_1
"Kata siapa aku nggak bisa jaga hati, hm?"
"Kalau kamu nggak kasih lampu hijau, dia nggak mungkin seberani itu ngungkapin rasa!"
Baskara terkekeh. "Bukannya dia bisa berani begitu karena aku nggak pernah ngerespon ya?"
Senja berdecak. Meskipun mungkin benar yang suaminya katakan. Bisa saja sikap acuh Baskara yang membuat Lura lebih berani menunjukan rasa sukanya.
"Tetap aja aku sebel!" gadis itu mendorong pundah suaminya agar menjauh. "Kita bakal LDR. Sekali nyoba aja, mas nggak pernah absen tiap malam! apa lagi harus nahan lima hari dan disini jelas ada yang menggoda mas tiap hari."
Baskara mengulum senyumnya. Gadis yang terlalu lama berpikir untuk menerima lamarannya. Gadis yang gemetar ketakutan ketika pertama kali ia berniat menyentuhnya. Kini tengah mengeluarkan taring karena takut ia menyentuh wanita lain.
"Makanya, sebelum pisah, kasih bekal dulu yang banyak biar bisa jaga sahwat." bisik Baskara ditelinga sang istri dengan suara menggoda. "Pisahnya lima hari. Berarti kasih bekal lima ronde plus satu."
Mata Senja membulat mendengarnya. Tangannya refleks mendorong sang suami yang telah kembali mendekat.
"Mana ada enam ronde!" yang benar saja. Dua kali main saja ia sudah kewalahan.
Tak ingatkah suaminya, jika ia masih termasuk belia. "Sehari satu lah! nanti over dosis kalau banyak-banyak!" imbuhnya dengan bola mata yang memutar diakhir kalimat.
"Jaga hati aku pasti bisa, ayy." ucapnya yakin. "Karena nggak ada yang bisa menggetarkan hatiku selain kamu."
"Tapi jaga sahwat yang susah!" tangannya mulai bergerak menyentuh kancing baju Senja yang langsung ditepis gadis itu. "Bahkan ada yang bilang, lelaki kalau sudah nggak tahan dengan sahwatnya. Kambing pakai daster saja dia mau."
Senja menatap suaminya dengan jijik. Bagaimana mungkin seorang pria melakukannya.
"Ini kan katanya, Ayy." koreksinya dengan menyentil dahi istrinya pelan. Tahu apa yang terlintas dipikiran sang istri. "Cuma sebagai kiasan saja. Menegaskan kalau menahan sahwat bukanlah hal yang mudah untuk seorang pria dewasa seperti aku contohnya."
Senja menggeleng enggan. Gadis itu bahkan menutup dadanya dengan bantal.
"Ya udah kalau nggak mau enam ronde sekaligus, dibagi aja." tawarnya.
Senja menaikan salah satu alisnya. Sebagai ucapan bertanya tanpa kata.
"Seminggu kan tujuh hari. Tapi kita hanya ketemu dua hari tiga malam. Jadi dibagi aja. Malamnya masing-masing satu. Siangnya karena cuma dua hari berarti dijatah pagi sama siang atau sore boleh lah."
Senja semakin melotot mendengarnya. "Maaass.. Aku udah capek lima hari kuliah. Masa weekend-nya kita habisin di apartemen juga! mana diisi olah raga mulu. Kapan istirahat sama jalan-jalannya!"
Satu kali permainan saja durasinya selalu lama. Tidak mungkin jika tidak seharian ia terkurung didalam kamar jika ia mengikuti permainan suaminya itu.
__ADS_1
"Pasti tetap ada waktu jalan-jalannya kok sayang." ucap Baskara menenangkan. Meski ia sendiri sebenarnya tak yakin untuk tidak mengurung istrinya dua hari penuh didalam kamar setelah lima hari berpuasa. "Bonusnya, senin pagi sebelum aku berangkat kesini satu kali sebagai bekal nahan rindu."
"Maaaas!" rengek Senja. "Kan yang ngajak nikah kamu! yang bilang siap LDR juga kamu! kenapa aku yang dapat konsekuensinya!"
Baskara mengedik tanpa dosa. "Aku emang bilang nggak masalah buat LDR. Tapi kan aku nggak bilang buat nggak minta bekal banyak." jawabnya dengan senyum kemenangan.
"DASAR MESUM!!" seru Senja memukul wajah suaminya dengan bantal. "Malam ini nggak dapat jatah! kan besok mulai kasih bekal!"
Senja merebahkan dirinya dan menutup dengan selimut hingga kepala.
"Aayyy.. Jangan gitu dong." rengek Baskara menarik-tarik selimut namun tak membuahkan hasil. "Jangan jahat-jahat, ayy."
"Bodo!"
"Kalau nggak dikasih jalan keluar baby. Kasih sumber kehidupannya aja deh, ayy!"
"NGGAK MAU!"
"Pegang doang deh, ayy. Yang mana aja nggak masalah. Ya.. Ya.. Ya..." tawarnya lagi.
"Pegang aja punya sendiri!" Senja masih setia bersembunyi dalam selimut.
"Mana enak." cicit Baskara dengan bibir bawah maju dan wajah memelas.
"Bodo amat! belajar buat puasa lima hari. Sekarang nyoba dulu sekali."
Baskara menggeleng tak setuju. Ikut merebahkan diri dan memeluk istrinya hingga kehabisan napas dan berteriak keluar dari dalam selimut.
"KAMU MAU BUNUH AKU, MAS!"
"Jangan teriak sama suami. Dosa." ucapnya lembut. "Aku bukan mau bunuh kamu. Aku cuma mau ngajakin cari pahala kok."
*
*
*
Huhuhu maaf nggak bisa nepatin janji lagi semalam..
__ADS_1