Love Story Queen Athena

Love Story Queen Athena
bab 12


__ADS_3

Malam sudah larut namun Athena masih terjaga dengan mata yang tak ingin menutup. Pikirannya melayang ke keluarganya ingin berkeluh kesah kepada sang Mommy, ingin bermanja kepada sang Daddy dan sang Kakak tapi Athena juga tidak ingin kembali.


"Aih sudahlah aku harus mencari kerja untuk bertahan hidup." Guman Athena yang langsung bangun dari tidurnya.


Athena mengambil laptop di atas mejanya lalu mulai mencari lowongan pekerjaan di internet. Hingga matanya berbinar saat melihat jika perusahaan besar di negara itu sedang merekrut karyawan.


Athena dengan semangat langsung membuka berita itu melihat persyaratan apa saja yang akan dibawanya nanti. akan tetapi Athena mengerutkan dahi saat melihat jika yang mereka cari adalah seorang sekretaris. Lebih parahnya lagi semua yang mendaftar di wajibkan memakai sarung tangan.


"Apa-apaan ini? Ini perusahaan atau tempat yang dilakukannya operasi? Kenapa harus menggunakan kaos tangan?" Monolog Athena.


Karena rasa penasaran yang besar Athena langsung memutuskan untuk mencari tahu pemilik perusahaan itu. Hingga beberapa saat kemudian Athena berhasil meretas dan mengetahui identitas pemilik perusahaan itu.


"Dia…, bukankah dia pria yang telah membawaku di rumah sakit itu? Oh jadi dia mempunyai penyakit OCD pantas saja semua karyawannya wanita harus memakai sarung tangan." Guman Athena.


"Baiklah semua sudah beres, aku harus segera tidur agar bisa bangun besok pagi lebih awal."


Athena langsung menutup laptopnya merapikan beberapa berkas yang di bawahnya untuk melamar kerja di perusahaan itu. Setelah semuanya selesai Athena langsung beranjak berdiri berjalan naik ke atas ranjang dan membaringkan badannya.


Di tempat lain di ruangan yang bernuansa hitam perpaduan abu-abu terlihat seorang pria yang duduk di kursi sofa tunggal dengan sebuah gelas wine yang berada di tangannya. Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Xavier.


"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan informasi mengenai gadis itu?" Xavier bertanya kepada Dante orang kepercayaannya.


"Ma…, maaf Tu…Tuan saya belum menemukan apapun tentang gadis itu."


"Bagaimana bisa! Apa kinerja kamu mulai menurun sekarang, Dante?" Bentak Xavier yang menatap tajam orang kepercayaannya itu.


"Ta…tapi di penerbangan tidak ada foto gadis itu Tuan. Selain itu saat saya cari tahu identitasnya semuanya tidak ada."


"Aku tidak mau tahu cari gadis itu sampai ketemu!"

__ADS_1


"Baik Tuan."


Dan teh hanya bisa menurut berbalik keluar dari ruangan itu meninggalkan Xavier yang sedang menahan amarah.


"Gimana kamu gadis kecil? "


Xavier mengeraskan rahangnya dengan tangan ia mengepal keras hingga gelas yang berada di tangan kanannya itu pecah. Telapak tangan Xavier berdarah mengalir dan jatuh mengenai lantai. Akan tetapi, dia itu seakan tak merasakan rasa sakit apapun dari luka di telapak tangannya.


"Gadis kecil, larilah sejauh yang kamu bisa. Di saat aku menemukanmu maka akan aku kurung dalam sangkarku."


Sedangkan di belahan bumi lain seorang pria paruh baya termenung menatap kosong rembulan Malam. Malam sudah larut tapi matanya tak bisa tertutup. Pikirannya terus melayang memikirkan nasib putri kecilnya di luar sana.


Walaupun dari segi umur Athena sudah 22 tahun tapi bagi Kenzo dia tetap putri kecilnya. Penculikan yang terjadi beberapa tahun lalu nyatanya memberi sebuah trauma besar pada pria paruh baya itu. Dia bukan ingin membatasi pergerakan sang putri Kenzo hanya takut.


Kenzo hanya takut kejadian itu terulang kembali kepada Athena. Athena dan Alisya adalah hidupnya dan napasnya jika salah satunya pergi dia tidak akan bisa hidup dengan utuh. Kenzo terlalu menyayangi Athena hingga tanpa sadar kasih sayangnya itu pula yang telah memotong sayap putrinya agar tidak bisa terbang bebas.


Kenzo pikir dengan memberikan dan menuruti apa yang di inginkan oleh Athena itu akan membuat gadis itu senang. Nyatanya ada sesuatu yang tetap tak bisa dia beli dengan uang.


Pria paruh baya itu menundukan kepalanya hingga air mata itu jatuh dari kelopak matanya. Kenzo menyesal, ia benar-benar menyesal.


Andaikan dulu ia mendengar saran dari Alisya untuk menuruti keinginan Athena.


Andaikan dari awal dia tidak melakukan ini.


Andaikan dia langsung menyetujui permintaan Athena.


Andaikan dia tak egois mungkin semua ini tak akan terjadi. Athena tidak akan pergi dari sisi mereka.


Semua hanya andaikan kini sudah terlambat. Nasi telah menjadi bubur mau harus apa lagi. Mencari pun percuma otak jenius putrinya itu bahkan lebih jenis di bandikan sang putra dan juga Alisya. Saat ini tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu Athena sendiri yang muncul.

__ADS_1


"Dad..!"


Kenzo yang menunduk langsung mendongak saat mendengar suara yang dikenalinya itu.


Kaisar yang melihat mata merah dan jejak air Mata di bawah kelopak mata sang Daddy tertegun. Selama ia hidup dari kecil sampai dewasa Kaisar hanya pernah melihat Kenzo menangis satu kali saat menemukan Athena yang diculik. Waktu itu juga sang Daddy menangis karena melihat kondisi Putri kecilnya yang begitu memprihatinkan.


Namun, tak disangka malam ini Kaisar juga menyaksikan untuk yang kedua kalinya. Pria paruh baya itu kembali menjatuhkan air matanya karena kepergian Athena lagi.


"Kenapa belum tidur Son? Apa pekerjaan kantor masih banyak?" Tanya Kenzo kepada sang putra.


"Sudah selesai, dad." Jawab Kaisar yang mendudukkan dirinya samping sang Daddy.


"Lalu kenapa tidak tidur?"


"Belum mengantuk."


Kedua pasang anak dan ayah itu duduk terdiam dengan pikirin yang entah kemana. Keduanya menatap rembulan malam dengan tatapan kosong dan hampa. Kepergiaan Athena dari mereka seperti merenggut setengah nyawa mereka.


"Dad, apa kita seegois ini ya?" Tanya Kaisar yang memecah keheningan malam.


"Egois..!" Kenzo hanya terkekeh miris. " Bagaimana menurutmu, Son?" Tanya Kenzo balik.


"Entahlah, aku rasa mungkin kita memang sedikit egois."


"Salah, kita bukan sedikit egois tapi memang sangat egois. Athena bukan laki-laki yang tugasnya ke perusahaan atau ke kantor. Anak seusianya pasti sedang asyiknya menikmati masa dewasa mereka. Tapi kita..,"


"Kita mengurungnya di dalam sangkar. Bukan begitu, dad?"


"Hahaha kamu benar, kita terlalu egois hingga tidak memikirkan perasaannya. Bagaimana bisa kita menganggapnya dia baik-baik saja tanpa bertanya apa yang di sukainya."

__ADS_1


Kedua orang pria beda usia itu terus mengoceh seperti orang mabuk di taman mension itu. Keduanya terus menyalahkan diri mereka sendiri karena telah melukai gadis kecil mereka.


"Kaisar, cari adikmu. Daddy tidak akan hidup tanpa adanya kalian. Jika mommy mu adalah nyawa Daddy maka adikmu adalah napas Daddy. Nyawa kehilangan napas apa gunanya." Kata Kenzo yang tertawa miris.


__ADS_2