
“Tuan ini mainan anda,” Dante datang menyerahkan sebuah koper kecil kepada Xavier.
“Saatnya bermain,” dengan senyum menyeringai Xavier mengambil koper itu.`
Xavier berjalan menghampiri salah satu anak buahnya yang berkhianat lalu membawanya di depan orang-orangnya.
“Tu..Tuan ampuni sa…saya…,” orang itu memohon ampun pada Xavier.
“Ck sudah berkhianat, berani juga meminta ampunan. Apa kau pikir aku akann melepaskan orang-orang seperti kalian? Tidak akan..!” bisik Xavier yang langsung menendang rahang pria itu hingga pria itu langsung tersungkur di tanah.
Xavier berjalan ke arah koper kecil miliknya membuka koper itu yang ternyata berisikan sebuah benda tajam seperti belati dari yang terkecil sampai yang terbesar.
“Tu…Tuan saya min.minta maaf…,” ucap sosok itu yang sudah bergetar ketakutan saat melihat Xavier mendekat kle arahnya dengan sebuah belati kecil di tangannya.
Kecil memang tapi belati itu sangatlah tajam terbukti dengan kedua mata belati yang begitu bersinar. Orang itu menyeret tubuhnya untuk menjauh dari Xavier tapi sangat di sayangnya dirinya tak mampu. Jika di tanya atau di beri pilihan antara penyiksaan Xavier dan bunuh diri maka sosok itu akan memilih untuk bunuh diri saja. Bukan hanya dirinya saja namun mungkin semua anak buah Xavier akan memilih bunuh diri daripada di siksa oleh Xavier selalu Ketua ayng mereka khianati.
Jleb
AAAAAA
“Kau tahu aku sangat membenci pengkhianatan tapi kamu berani mengkhianatiku berarti kmu harus mampu untuk menerima konsekuensinya bukan?” sinis Xavier yang semakin menekan belati di tangannya untuk semakin masuk ke dalam paha sang pengkhianat.
“Sepertinya akan seru jika aku menjadikan ini layar drama bukan?” ucap Xavier yang terkekeh lucu menatap ke empat pria yang menjadi anak buah kepercayaannya.
Sontak saja Tara bersama Dante dan si kembar gelagapan melihat tatapan yang sangat menyeramkan dari Xavier.
“I…itu akan bagus Tuan..,” kata mereka dengan serentak.
Walau dalam hati mereka mengatakan yang sebaliknya namun mana bisa dirinya membuat sang Tuan semakin marah. Memikirkan saja hukuman apa saja yang akan mereka dapatkan membuat keempat pria itu merinding ketakutan.
“Lebih baik mengikuti apa yang dia katakan daripada nnati di kirim menemui Raja Yama,” kata keempat pria kepercayaan Xavier itu dengan wajah yang sudah pucat pasi.
__ADS_1
Sedangkan Xavier dengan senang hati mengambil tangan sang pengkhianat di letakannya di atas sebuah kursi hingga di detik berikutnya terdengar suara teriakan yang sangat pilu dari sang pengkhianat.
Tak
“AAAAAAA AM….AMPUN TU…,TUAN..!” teriak sosok itu yang meminta ampunan kepada Xavier.
Xavier tetaplah Xavier orang yang tanpa ampun apalagi masalah sebuah pengkhianatan. Xavier sangat membenci namanya pengkhianat karena hal itu membuka luka lama untuk Xavier.
Tak
Tak
Tak
Semuanya hanya bisa menatap ngeri ke arah Xavier yang bagaimana dengan santainya ia memotong ke sepuluh jari tangan pria itu. Tak ingin ketinggalan bahkan Xavier juga memotong jari kaki sang pngkhianat sampai habis.
“Sayang sekali tangan dan kaki kamu sudah buntung yah…?” ucap Xavier dengan memasang ekspresi sedih.
Keempat orang yang sedang menatap jalannya penyiksaan Xavier hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Bagaimana bisa Xavier memasang ekspresi seperti bukan dirinya saja sang pelaku.
“Tuan memang semakin kejam saja…!” batkin ke empat orang kepercayaan Xavier.
Jleb
Jleb
AAAAAAA
Lagi lagi sosok itu hanya bisa berteriak kesakitan saat belati itu menusuk pahanya lagi. Rasa sakit, ngilu, perih semuanya bercampur aduk menjadi satu membuat sang penghianat itu hanya bisa berpasrah diri saja. Mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi karena mereka jelas tahu apa konsekuensinya jika mereka berani berkhianat pada Xavier.
Beberapa saat kemudian sosk itu kini sudah tak berbentuk lagi tubuhnya penuh dengan luka tusakan dan sayatan membuat tubuhnya sangat mengerikan karena luka yang bgitu menganga lebar.
__ADS_1
“Karyaku sudah bagus tapi ada yang kurang, tunggu sebentar,”
Dengan senyum sinis Xavier memegang wajah sang pengkhianat itu lalu mulai melukis di wajah sang pengkhianat membuat lagi lagi penghianat itu hanya bisa menahan sakit. Mau di apa berteriak pun rasanya sosok itu tak lagi bisa bersuara karena lemah banyak kehilangan darah.
“Lihat, karyaku begitu bagus sayangnya kamu tak bisa melihatnya,” bisik Xavier yang di detik berikutnya langsung mencongkel mata sang penghianat.
Uhukkk uhukkk
Mereka langsung tersedak dengan air liur mereka sendiri melihat bagaimana kejamnya Xavier mencongkel mata pria itu. Selama ini mereka hanya tahu jika sang Tuan adalah orang yang dingin dan sangat kejam tapi tak menyangka jika dirinya bisa sekejam itu. Sedangkan keempat pria yang tak jauh berada di samping Xavier hanya bisa membuang muka melihat bagaimana kejinya Xavier menghukum seorang penghianat membuat mereka rasanya ingin muntah saja.
“Sayang sekali mata seindah ini adalah pilih penghianat,” sinis Xavier yang langsung menginjak mata itu hingga darahnya langsung muncrat ke luar.
Xavier berbalik ke arah meja yang ada kopernya. Pria itu dengan santai pengambil katana tipis di koper itu namun sangat tajam.
SLASSSH
SLASSSH
Xavier tanpa ampun memotong kedua lengan pria itu dengan brutal membuat sang penghianat itu buntung. Sontajk saja mereka yang melihatnya langsung ingin muntah darah saja akan karena hal itu.
“Bunuh saya saja Tuan,” ucap pria itu dengan penuh permohonan. Rasanya ia tak sanggup lagi jika harus di siksa seperti ini terus menerus.
SLASSSSH
Kepala pria itu itu langsung menggelinjang di tanah setelah Xavier mengayunkan katananya pada leher penghianat itu.
“Tara..! Dante..!” panggil Xavier.
“Iya Tuan,” jawab Tara dan Dante serentak.
“Ikat dan bakar mereka semua hidup-hidup…!”
__ADS_1