
“Tuan kami haya minta satu piring saja,” kata Tara dengan memasang wajah memelas.
“Tidak sekali tidak maka akan tetap tidak,” sentak Xavier dengan menunjuk mereka dengan pisau dapur di tangannya.
“Lio…!”`
“Babe kau sudah datang?”
Wajah datar dan dingin semula yang di tunjukan pada keempat pria di depannya itu langsung menghilang. Dalam sekejap mata wajah sangar itu langsung berubah menjadi wajah hangat penuh senyuman saat menyambut kedatangan wanita yang di cintainya.
Bahkan sampai anak buahnya sampai heran melihat perubahan cepat yang di ciptakan oleh Xavier hanya hanya berselang detik saja.
“Tuan tersenyum, lagi? Apa dunia akan benar-benar kiamat? Bagaimana mungkin pria yang mereka kenal dingin sedingin sakjy dan kulkas yang berpintu sebelas itu begitu mudahnya tersenyum hanya karena satu alasan yaitu Nona Athena? Apa sekuat ini kekuatan cinta? Jika seperti ini maka aku lebih memilih untuk diam saja. Aku tidak akan mau jatuh cinta jika aku akan menjadi bodoh seperti Tuan Xavier,” kata Tara dalam hati yang melirik Tuan Xavier yang sedang menata makanan di atas meja makan.
“Tuan bahkan bisa dengan mudah tertawa ataupun tersenyum jika bersama dengan Nona Athena. Akan tetapi jika sudah berada dengan kami yang di perlihatkan hanya wajah datar dan juga dingin. Apa pesona Nona Athena sedashyat itu hingga mampu membuat Tuan Xavier sampai sebegitu jatuh cintanya pada Nona Athena? Walau pun seperti apapun nanti hubungan mereka seperti apapun aku akan pasti akan maju di garda terdepan untuk mempertahankan dan menyatukan cinta Tuan dan juga Nona Athena,” kata Dante dalam hati.
Dante sangat senang karena sekian lama hidup sang Tuan yang dilanda kesepian dan kehampaan kini mulai ada cahaya yang mulai masuk dalam kehidupan pria yang dia anggap penolongnya itu. Dante awalnya memang tidak tahu apa alasan jelas Xavier begitu mencintai Athena bahkan seperti nyaris gila akan hal itu. Namun saat mengetahui alasan semuanya dia jadi mengerti kenapa Tuannya itu begitu mencintai Athena walau pun mereka belum pernah bertemu lagi setelah kejadian saat itu. Jika itu dirinya pun maka akan melakukan hal yang sama yaitu untuk hanya mencintai satu wanita yaitu penolongnya itu.
Jika Dante dan Tara mengagumi paras cantik Athena dan menganggap Xavier setengah gila maka berbeda dengan Ilmuwan gila si Rey. Pria iotu menatap berulang kali Athena dari ujung kepala sampai ujung rambut. Namun berulang kali dia menggelengkan kepala tidak yakin lalu kembali menatap ke arah Athena kembali.
__ADS_1
“Apa dia benar-benar bisa membuat racun yang lebih hebat dariku? Tapi bagaimana bisa? Lihat bahkan wajah cantiknya itu tampak polos dan lugu. Gadis polos dan selugu dia mana bisa menciptakan racun yang mematikan. Bahkan hanya untuk menyakiti serangga saja mungkin dia tidak takut akan hal itu,” kata Rey dalam hati yang bertanya-tanya tentang apa yang dikatakan oleh Dante jika Athena bisa menciptakan sebuah racun yang mematikan.
Rey seakan lupa apa yang dilakukan oleh Athena beberapa saat lalu. Pria itu seakan lupa bagaimana brutalnya Athena dalam membunuh dan menyiksa musuhnya yang tiada ampun. Sekarang lihat dia bahkan sampai meragukan apa yang dilakukan oleh Athena.
“Heee kalian para kecoa pengganggu…! Cepat pergi dari sana. Kalian tahu wanitaku merasa risih da terganggu karena sedari tadi terus kalian lihat. Apa mata kalian mau aku congkel karena berani menatap wanita ku dengan tatapan itu ha…?” sentak Xavier dengan suara rendah melototi keempat bawahan kepercayaannya itu.
Sebenarnya Xavier ingin membentak atau berteriak pada mereka semua. Namun tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu di depan wanita yang di cintai. Bisa-bisa citra baiknya akan langsung pudar berubah menjadi pria pemarah di depan sang wanita yang di cintainya.
“Para hama pengganggu ini sangatlah mengaggu. Andaikan aku tadi memgang pistol peredam suara sudah aku tembak mereka satu persatu,” kata Xavier dalam hati yang memberikan lirikan tajam dan juga menusuk pada keempat bawahannya itu.
“P.E.R.G.I…!” Xavier menatap mereka tajam dengan menggerakan bibirnya dan menekan setiap huruf yang dia ucapkan. Tak lupa juga mengambil sebuah garpu lalu di arahkan kepada lehernya seperti sedang memotong leher manusia.
Glek
“Lio…!” Athena memanggil Xavier yang karena sejak tadi pria itu terus menoleh ke arah belakang.
“Eh ada apa Babe? Apa kau butuh sesuatu? Minuman…, tunggu disini,” Xavier langsung beranjak dari kursinya lalu kembali ke dapur hingga datang kembali dengan membawa sebuah susu hangat di tangannya.
“Sebelum makan minum dulu susu hangat ini agar perut kamu merasa hangat,” Xavier dengan lembut menyerahkan sebuah gelas berisikan susu.
__ADS_1
“Terima kasih,” ungkap Athena yang menerima susu buatan Xavier.
“Apapun untukmu Babe,” balas Xavier dengan senyum manisnya.
Athena mulai mengangkat gelas susu itu lalu meminumnya dengan sekali tuang hingga gelas itu kosong tanpa sisa.
Sedangkan Xavier yang melihat jika Athena meminum susu buatannya langsung tersenyum lebar. Tak sampai disitu Xavier bahkan mulai memotong-motong daging di piring li SHang Yue hingga menjadi bagian-bagian kecil. Setelah memastikan jika itu sudah menjadi bagian kecil dengan lembut Xavier menyodorkan piring tersebut ke arah Athena.
“Makanlah. aku sudah memotongkan-nya untukmu,” kata Xavier.
“Terima kasih,” balas Athena.
Dengan senang hati Athena mengambil piring itu lalu mulai makan dengan penuh nikmat karena memang perutnya minta di isi. Hingga beberapa menit kemudian makanan di atas meja habis tanpa sisa karena di makan Athena.
“Kenyangnya…!” guman Athena yang mengelus perut buncitnya karena kekenyangan.
Grep
“Hey turunkan aku…!” pekik Athena karena tubuhnya yang langsung di angkat begitu saja oleh Xavier.
__ADS_1
“Kamu sudah kenyang Babe, jadi saatnya tidur kembali,” bisik Xavier yang berjalan menuju kamarnya.
“A…apa?” wajah thena memerah sampai di telinganya.