Love Story Queen Athena

Love Story Queen Athena
`BAB 71


__ADS_3

"Bos,"


"Stop membacakan hal-hal yang memuakan itu Dante!" sentak Xavier yang sangat tidak ingin mendengar apapun hari ini apalagi jika harus rapat atau meeting.


"Sejak kapan bekerja menjadi memuaan bukankah itu adalah hobi anda Bos?"


"DANTE!"


Dante yang mendengar akan hal itu tentu merasa kaget karena tidak menduga jika apa yang ada di otaknya tak sengaja ia ucapkan.


"Mati aku sekarang," Dante hanya bisa menelan ludah dengan susah payah melihat tatapan Xavier yang begitu tajam saking tajamnya seperti membuatnya berada di alam lain.


"Apa kamu sudah bosan bekerja denganku? Ataukah kamu bosan hidup?" Xavier menatap Dante dengan tajam.


"Maaf Bos saya tidak bermaksud seperti itu, itu tadinya hanya keceplosan saja Bos." Bela Dante dengan gugup.


"Jadi maksudmu itu memang kami pikirkan?"


"Tentu saja Bos saya pikirkan eh..., maksudnya tidak seperti itu Bos..,"


"KELUAR...!"


Dante yang melihat wajah memerah dari sang Bos tanpa bertanya atau protes lagi segeera keluar dari ruangan itu dengan langkah ringan.

__ADS_1


"Ya Tuhan rasanya aku seperti sedang berada di ambang kematian saja. Kenapa Bos semakin hari justru semakin menyeramkan?" guman Dante yang segera menuju ruangannya sendiri.


Di dalam ruangan Xavier tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa duduk manis di atas kursi kerjanya. Duduk manis? Lebih tepatnya duduk gelisah memikirkan bagaimana ia akan menghadapi situasi seperti ini. Tatapan dingin yang di berikan AMora barusan membuat dunia Xavier runtuh seketika. Apa sebesar itu kesalahannya hingga Amora terlihat semakin jauh dari jangkauannya.


"Ap[a kesalahanku sebesar itu?" tanya Xavier pada diri sendiri.


Pria itu menunduk membuka lacinya lalu mengeluarkan sebuah rokok dan mulai menghisapnya. Xavier memang bukan perokok aktif dia akan merokok di saat pikirannya sedang kaluit seperti saat ini.


Xavier mengeluarkan asap putih dari mulutnya hingga asapnya mengelilingi Xavier. Namun apa Xavier perduli maka jawabannya adalah tidak. Pikiran pria tampan itu benar-benar kalut hingga kepalanya sepertinya mau pecah memikirkan segala kemungkinan yang ada.


BRAKKKK


"SIALAN...! AKU HANYA TAK SENGAJA MEMBENTAKNYA KENAPA DIA HARUS SEMARAH ITU? AKU JUGA MEMBENTAKNYA KARENA DIA KERAS KEPALA DAN SUSAH DI ATUR. BENAR-BENAR WANITA PALING MEREPOTKAN!"


"Apa salahnya aku membentaknya hanya karena dia keras kepala? Apa dia lahir dan di perlakukan seperti seorang Putri Raja? Jika seperti itu untuk apa dia lari dari rrumah sudah seperti...,"


Xavier tidak lagi melanjutkan ucapannya saat mendengar suara yang sangat keras di arah pintu. Lebih tepatnya adalah pintu ruangannya di buka dengan cara paksa. Mata Xavier membulat sempurna melihat siapa yang berada di depan sana.


Dante?


No tapi Amora, gadis itu menatapnya dengan tatapan tajam bak seekor singa yang siap menerkam mangsanya. Xavier menatap Amora yang berjalan mendekat ke arahnya. Melihat itu Xavier segera memasang wajah datar dan dingin kepada Amora. Xavier berharap dengan begini Amora bisa merasa bersalah dan mau berbaikan kepadanya.


Tak

__ADS_1


Amora meletakan beberapa berkas di atas meja Xavier dengan suara yang nyaring membuat Dante kaget karena baru kali ini ada orang yang berani melakukan itu kepada sang Bos.


"Sebenarnya ada masalah apa antara Nona Amora dan Bos Xavier? Apa masih masalah kemarin itu? Tapi...,"


"Tanda tangani karena itu akan di perlukan oleh Asisten Dante nanti!"


Selesai berkata seperti itu Amora langsung berbalik ke arah pintu beranjak pergi.Namun baru beberapa langkah saja Amora kembali berbalik menatap Xavier dengan tatapan yang menghunus tajam.


"Jika anda bertanya apakah saya di lahirkan di keluarga kaya maka jawabannya adalah benar. Namun apa yang harus saya banggakan dengan itu? Kekayaan itu milik orang tua saya bukan milik saya pribadi. Jika anda bertanya apakah saya di perlakukan seperti Putri Raja maka jawabannya benar. Saya di perlakukan seperti Putri Raja yang semua kebutuhannya selalu di sediakan oleh pelayan pilihn. Bahkan untuk mandi ada 2 orang pelayan yang akan membersihkan tubuhnku." jeda Amora yang menatap lebih tajam lagi Xavier.


"Llu dengan kepribadian anda yan g tempramental itu yang selalu menganggap apapun yang kamu ingin akan dapatkan lewat uang apa kamu pikir orang tua saya akan menyerahkan putri mereka dengan pria seperti anda? Saya di rawat dan di besarkan penuh cinta bahkan tak ada yang berani meninggikan suaranya apalagi membentak saya apapun kesalahan yang saya buat termaksud membuat saudara saya sendiri koma selama 3 bulan di rumah sakit." Kata Amora dengan senyum sinisnya.


Deg


Xavier dan Dante yang mendengar itu tentu merasa kaget dengan kenyataan yang di katakan oleh Amora. Bagaimana biosa ada orang tua yang tidak memarahi anaknya setelah membuat saudaranya yang lain hampir mati karena ulahnya sendiri.


"Saya tidak menyuruh anda untuk berjuang demi saya, tidak ada yang menyuruh anda untuk melakukan hal itu. Saya mengatakan dengan tegas jika saya sama sekali tidak tertarik dengan anda tidak sama sekali. Namun jika anda tulus saya akan berusaha membuka hati saya untuk anda tapi sejauh ini..., anda bahkan terus menjadi buruk."


"Apa maksudmu?" Xavier berusaha dengan keras menahan amarahnya.


"Maksud saya.., saya paling tidak suka pada manusia serakah yang merebut milik orang lain dengan cara licik dan paksa. Sampai sini paham 'kan?"


Deg

__ADS_1


__ADS_2