
“Sehebat apa pria yang menjadi cinta pertama mu ituy hingga kamu begitu memujanya?” Xavier bertanya dengan bersandar di kursi sofa menatap lurus Amora.
Amora terdiam membawa makanan yang dia masak ke atas meja yang biasa dia gunakan untuk makan.
“Ayo makan dulu!” Amora mengajak Xavier untuk duduk makan.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi Amora.”
“Kau ingin tahu?” taya Amora balik yang dengan santai mulai memakan makanannya.
“Ya, aku penasaran kenapa kau sangat mencintai daddy mu?”
“Daddyku adalah pria yang memiliki sifat dingin dan tak tersentuh tapi dia sangat penyayang. Daddy sangat mencintai mommy selama mereka menikah sudah 20 tahun lebih aku tak pernah mendengar daddy membentak mommy bahkan untuk meninggikan suaranya saja tidak. Daddy tak pernah menyalahkan mommy dan akan selalu menurut kepada mommy. Aku ingin mendapat kekasih atau bahkan suami yang seperti daddy yang mempercayai mommy tanpa adanya penjelasan, mencintai mommyku walaupun terkadang mommy membuat ulah, dan selalu mendengarkan apa yang mommy ku katakan. Mungkin bagi orang di luar orang yang aku panggil daddy itu menakutkan tapi bagiku itu tidak karena daddyku adalah pria yang terhebat.”
Xavier yang mendengar apa yang di katakan oleh Amora langsung terdiam. Dari cerita Amora saja Xavier bisa menebak jika pria yang menjadi ayah dari gadis itu benar-benar pria yang penuh kasih sayang. Xavier bisa melihat binar kebahagiaan di mata Amora saat dirinya menceritakan sosok cinta pertamanya itu kepada Xavier.
“Lalu dimana mereka sekarang?” tanya Xavier dengan menatap lekat Amora.
“Mereka? Mereka di tempat yang jauh.” Balas Amora dengan wajah sedih.
“Maaf, aku tidak tahu kalau mereka…,”
“Tak apa.” Potong Amora dengan cepat.
Sedangkan Xavier terdiam kaku dengan rasa bersalah di dalam hatinya. Entah kenapa pria itu merasa bersalah pada Amora padahal biasanya pria itu tidak pernah sekalipun merasakan hal itu. Sedangkan Amora gadis itu merasa sedih karena beberapa hari yang lalu ia mendengar kabar jika sang daddy jatuh sakit.
Tanpa Amora sadari jika Xavier telah salah paham padanya yang menganggap jika orang tua Amora telah pergi jauh maksudnya adalah meninggal.
“Makanlah Tuan,”
Xavier hanya menganggukkan kepala kaku dengan mulai memakan makanan yang di masak oleh Amora. Namun, baru saa di suap pertama Xavier membulatkan mata saat merasakan rasa makanan yang di buat Amora begitu nikmat. Sontak hal itu membuat Xavier langsung melahap mkanan di depannya hingga beberapa saat makanan yang di buat Amora ludes tak tersisa.
Sedangkan Amora yang sejak tadi memperhatikan cara makan pria yang menjadi bosnya itu mengerutkan dahi. Biasanya bos nya itu hanya akan makan seadanya tapi lihat sekarang, pria itu bahkan menghabiskan semua makanan yang dia masak.
“Apa Tuan lapar?” tanya AMora dengan wajah bodohnya.
__ADS_1
“Apa masih ada di sana?” tanya Xavier balik yang menunjuk dapur.
“Sudah tidak ada, aku hanya masak segitu.” jawab Amora dengan nada tidak suka.
Mendengar hal itu Xavier membuang napas kasar. Matanya menatap Amora yang terlihat kesal karena dia bahkan menghabiskan makanan yang di buat Amora.
“Maaf aku menghabiskan makanan yang kamu masak, aku hanya teringat masakan mami ku yang sangat,mirip dengan rasa makananmu. Jadi, aku makan lahap.” Ungkap Xavier yang menggaruk kepalanya.
Deg
Amora yang mendengar itu tentu saja merasa tertegun dan merasa bersalah karena berfikir yang tidak-tidak pada Xavier.
“Biarkan aku saja yang mencuci piringnya, kamu bisa duduk disana.” Kata Xavier yang langsung berdiri lalu mulai menyusun piring kotor di atas meja.
Amora seperti terhipnotis mengikuti apa yang di perintahkan oleh Xavier. Dengan langkah patuh Amora segera berdiri lalu berjalan ke arah sofa menunggu Xavier selesai mencuci piring.
Setelah beberapa saat berlalu akhirnya Xavier duduk di samping Amora yang sedang menonton Tv.
“Amora,” panggil Xavier yang menatap dari samping Amora.
“Hm..,” Amora hanya berdehem fokus pada apa yang dia tonton.
“Amora…!” Xavier langsung meraih remot Tv itu lalu mematikan TV tersebut.
“Ihhhhh kenapa di matikan? Ayo hidupkan kembali!” kesal Amora karena acara yang dia nonton tidak berlanjut.
“Tidak!” tolak Xavier dengan nada datar dan dingin tidak ingin di bantah.
“Apa yang kamu nonton ha…? Kamu menonton adegan penyiksaan, Amora! Apa kamu masih wanita normal? Harusnya kamu takut dengan adegan-adegan itu!”
Yups….
Adegan yang di nonton Amora bukanlah film romantis atau adegan kissing atau apapun yang berdekatan dengan angka Romanti. Akan tetapi, gadis itu justru menonton adegan penyiksaan yang biasa di lakukan Xavier kepada musuhnya seperti mencambuk, menusuk, menyayat dan masih banyak lainnya. Berharap ketakutan justru sebaliknya gadis itu terlihat biasa saja tanpa adanya ketakutan sama sekali.
“Cih.., dia tidak tahu saja jika itu adalah makanan aku sehari-hari saat aku masih kecil.” kata Amora dalam hati yang menatap jengah Xavier seperti seorang ibu yang melindungi anak gadisnya dari pria mata keranjang.
__ADS_1
“Dengar kamu tidak boleh menonton adegan seperti itu lagi, mengerti?” tekan Xavier yang menatap tajam Amora.
“Nggak bisa, aku sudah sering lihat. Lagian itu tidak ada menakutkannya sama sekali,” sahut Amora yang menanggapi Xavier dengan santai.
“Aku bilang tidak berarti tidak, Amora.”
“He… memang kamu siapa? Kamu…,”
“Sudah aku katakan aku menyukaimu, au mencintaimu, tidak bisakah kamu memberiku kesempatan?” Xavier mendekat ke arah Amora hingga Amora terjepit antara sandaran sofa dan juga tubuh tegap Xavier.
“Kamu mau menjadi kekasihku?” bisik Xavier di depan wajah Amora.
“Tidak!” tolak Amora langsung padat, jelas, dan singkat.
Xavier yang mendengar jawaban dari Amora langsung membulatkan mata. Kenapa gadis itu dengan enteng menolaknya bahkan tanpa berfikir sama sekali. Ingin sekali Xavier membanting gadis di depannya itu yang sangat bicara blak-balakan tanpa menyaring ucapannya lebih dulu.
"Kenapa? Aku tampan, aku kaya, semua yang kamu inginkan akan aku berikan kenapa kamu tidak memberiku kesempatan?" kata Xavier dengan menatap Amora intens.
"Karena aku tidak menyukaimu." Jawab Amora enteng.
Uhukkk uhukkk
Xaier yang mendengar itu sampai terbatuk-batuk kenapa semua kata-kata yang keluar dari mulut Amora semua terdengar pedas dan menyentil ginjal.
"Aku tidak terima penolakan, mulai saat ini kamu kekasihku!"
"Kok maksa?"
Xavier hanya duduk di samping Amora tanpa menjawab pertanyaan Amora yang membuat kepalanya sakit.
"Tuan dengar, aku itu tidak menyukai Tuan apalagi mencintai Tuan. Aku sudah katakan aku akan mencari kekasih sepert..."
Cup
Xavier yang tidak ingin mendengar mulut cerewet Amora mengeluarkan lagi kata kalimat penolakan langsung membungkam mulut Amora dengan mulutnya. Terbukti cara itu mampu membuat Amora terdiam kaku. Xavier yang melihat Amra terdiam tentu saja merasa senang.
__ADS_1
"Good dear..,"
BUGH