
Ckittt
Suara ban mobilXavier yang bergesekkan dengan aspal hingga membuat Dante sebagai penumpang terhuyung ke depan bersyukur tidak sampai menabrak kaca mobil.
"Jika seperti ini terus maka aku akan segera mati menjemput alam kematian," kata Dante dalam hati dengan mengelus dada karena mereka masih bernapas dengan baik sampai pada tujuan.
Namun ucapan Xavier berikutnya membuat Dante langsung mati kutu dan sulit bernapas dengan baik.
"Keluar dan cari wanitaku! Jika tidak menemukannya kalian semua akan tahu akibatnya." Kata Xvier dengan nada memerintah kepada Dante.
Glek
Dante yang mendengar akan hal itu hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Dante tahu jika sudah seperti ini maka dia tidak akan lepas dari namanya hukuman mengerikan dari sang bos.
"Aku selamat kali ini namun aku tidak tahu apa aku masih selamat setelah ini atau tidak," batin Dante yang benar-benar tertekan akan aturan Xavier.
BRAAKKK
Dante merasa terkejut dan sadar saat Xavier yang membanting pintu hingga membuat Amora sadar dari dunia khayal;annya. Tak punya pilihan lain segera turun dari mobil lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit. Xavier dengan langkah cepat menuju ruangan Amora tadi yang abru pagi tadi dia kunjungi.
Bugh
__ADS_1
Sebuah bogem mentah mendarat sempurnah di wajah Roy membuat Roy langsung terpental karena belum siap menerima pukulan itu. Roy hanya bisa berdesis sakit saat menerima pukulan keras dari sang Bos.
"Bagaimana cara kerja kalian hngga menjaga satu gadis sja kalian tidak bisa?" bentak Xavier yang benar-benar emosi saat ini.
"Kami tidak tahu Bos, saat kami sampai aku langsung masuk ke dalam ruangan itu dan memeriksanya memang sudah tidak ada Nona Amora." Terang Roy yang mengatakan yang sebenarnya.
"Itu benar Bos, saat kami sampai Tuan Roy segera masuk memeriksa namun tidak menemukan apapun." ucap salah satu anak buah Roy yang melihat jika sang Tuan masuk ke dalam ruangan itu.
mendengar Pengakuan dari anak buahnya bukannya tenang bukannya merasa tenang Xavier justru semakin meledak-ledak. Matanya menatap tajam Roy yang masih berdiri di depannya itu.
"KENAPA DIAM? CEPAT CARI KEBEEADAAN WANITAKU....!" teriak Xavier dengan wajah memerah menahan amarah.`
"Baik Bos,"
Xavier masuk ke dqalam ruangan itu dengan wajah datar dan dinginnya yang menandakan jika saat ini Xavier benar-benar tidak baik-baik saja. Saat masuk di dalam ruangan itu Xavier langsung menatap ke atas brankar ranjang Amora saat iya tertidur beberapa hari ini. Xavier berjalan dengan langkah pelan menuju ranjang itu lalu menguurkan tangannya mengelus kasur yang di gunakan Amora itu.
"Apa kamu brar-benar akan pergi Dear?" guman Xavier dengan tatapan sendu miliknya.
Satu hal yang Xavier takutkan adalah saat mengingat ucapan Amora yang jika dia bilang pergi maka akan terjadi seperti apa yang di inginkannya tanpa peduli baik dia di halang oleh siapapun itu. Xavier hanya takut AMora benar-benar pergi dalam hidupnya itu akan benar-benar membuat dirinya frutasi.
Saat melihat ke arah meja tatapannya sedikit cerah karena disana tak menemukan kotak rantang yang dia bawah berarti ada kemungkinan Amora membawa kotak itu bersamanya.
__ADS_1
"Kamu membawanya?" guman Xavier dengan senyum tipis di bibirnya.
Sedantgkan di sisi lain si biang keroh yang membuat Xavier ketar ketir kini dengan santai memakan makanan yang di bawakan Xavier di sebuah taman yang belum ramai pengunjung.
"Hummmm ini enak, lagi-lagi aku akan meminta dia memasakkan aku makanan lain. Ku rasa dia bisa di andalkan untuk urusan perut, makanannya enak seperti koki di restoran saja." Kata Amora yang lagi-lagi memasukan makanan itu di dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan penuh ekspresi menikmati.
Setelah beberapa saat kemudia terlihat Amora yang sudah menghabiskan semua isi dari rantang kotak makanan itu hingga habis tanpa sisa.
"Kenyangnya...!" Amora meminum air minumnya lalu mengelus perutnya yang sedikit buncit.
\Bukan karena hamil ya guys tapi karena banyak makanan yang masuk ke dalam perut Amora membuat perutnya sampai terlihat buncit.
"Sekarang urusan perut sudah kenyang saatnya mencari tentang Xavier. Pertama-tama aku harus mencari warnet untuk meretas," guman Amora yang menyusun rencananya untuk meretas mencari tahu identitas asli dari Xavier yang sebenarnya.
Amora segera menaiki motor besarnya lalu meleset pergi dari tempat itu mencari tempat warnet sekitar. Hingga setelah mencari beberapa saat akhirnya Amora sampai di sebuah warnet yang menuutnya itu begitu pas karena juga pengguna tidak banyak.
"saatnya bermain," smirk Amora yang sudah duduk manis di depan komputer di depannya itu.
Amora segera melemaskan jari-jari tangannya sebelum dengan gerakan cepat jari-jari lentik itu mulai bermain dan menari-nari di atas keybord komputer mencari tahu datang Xavier yang sebagai target utamanya. Sejak saat sang ayah angkat Kevin mengatakan jika Xavier bukan orang sembarangan Amora sudah merasa curiga dengan Xavier.
Setelah beberapa saat Amora mencari akhirnya bisa membuka pengaman terakhir yang melindungi data diri seorang Xavier. Namun maa AMora langsung membulatkan mata melihat informasi di depannya itu.
__ADS_1
"What?"