
Seorang pria paruh baya terlihat sedang mondar mandir di ruang tengah rumah dengan terus menelfon seseorang.
"Cleo dimana kamu nak, sebenarnya kemana anak itu pergi," kata pria paruh baya itu yang tak lain adalah Adrian ayah dari Cleo.
Tadi malam saat ia pulang pria itu hanya bisa melototkan matanya saat melihat keadaan rumah yang sangat berantakan membuatnya panik. Namun, saat menyadari tidak ada tanda-tanda keberadaan Cleo membuat Adrian semakin panik. Sejak tadi malam pria paruh baya itu terus menelfon sang putri akan tetapi hasilnya tetap sama tidak aktif sama sekali.
Tok
Tok
Tok
"PAKET…!"
Adrian yang sedang panik langsung menoleh ke arah pintu. Dengan gerakan cepat dia berjalan menuju pintu berharap jika itu sang putri.
Ceklek
"Tuan Adrian?" Tanya pria yang berpotensi pengantar paket itu.
"Ya saya sendiri, ada apa?" Tanya Adrian balik.
"Ada paket atas nama anda," kata pria itu menunjukan sebuah kotak persegi panjang yang sangat besar seperti peti mati yang di hiasi peta warna merah muda.
"Paket saya? Tapi saya tidak pernah memesan sesuatu,'' kata Adrian yang merasa bingung karena ia tidak memesan apapun lagipula saat ini dia susah jatuh miskin hanya rumah ini yang tersisa.
"Adrian Chiara..!"
"Itu nama saya," ucap Adrian kaget bukan main.
"Itu berarti kotak ini milik anda, masalah biaya sudah di bayar di awal hingga sekarang hanya perlu menandatangani saja sebagai bukti jika anda menerima paketnya," terang pria itu dengan menunjukan sebuah buku untuk di tanda tangani Adrian.
"Apa ini paket pesanan Cleo? Ya mungkin saja, hanya anak itu yang suka sekali memesan barang-barang mewah tanpa peduli jika saat ini keuangan sedang krisis," kata Adrian dalam hati yang menandatangani langsung paket itu.
"Apa Tuan bisa membantu saya memasukan paket ini ke dalam rumah saya? Saya sudah tua jadi sudah tidak mampu lagi mengangkat barang sebesar itu," kata Adrian dengan menatap lewat pria muda pengantar paket itu.
"Baik Tuan, Tuan tinggal tunjukkan arahnya saya akan angkat sendiri," kata pria muda itu dengan senyum penuh arti.
"Terima kasih, Mari masuk,'' Adrian langsung mempersilahkan pria itu masuk membawa paketnya.
__ADS_1
"Letakan saja di situ," ucap Adrian menunjuk meja di ruang tamu.
"Baik," pria itu langsung meletakan kotak itu lalu berbalik pergi.
Kini Adrian hanya seorang diri menatap paket itu dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Sebenarnya apa isi paket ini? Kenapa sangat besar seperti itu?" Guman Adrian yang mendekati kotak persegi itu.
Tak bisa menahan rasa penasarannya lagi Adrian memutuskan untuk membuka paket itu. Adrian mengambil gunting lalu menggantung pita merah muda itu penuh ke hati-hatian.
Tak
Adrian membuka penutup kotak itu meletakannya di atas lantai lalu berbalik menatap isi di dalam kotak itu namun saat melihat isi di dalam kotak itu membuat Adrian langsung membulatkan mata.
"CLEO….!" teriak Adrian histeris melihat isi di dalam kotak.
Isi di dalam kotak itu adalah jahat Cleo yang sudah tidak bernyawa dengan tangan dan kaki yang sudah di potong-potong hingga terputus. Pria paruh baya itu hanya bisa berteriak histeris melihat anak kesayangannya kini sudah tidak bernyawa. Lalu tatapannya jatuh pada memo warna merah muda yang berada di samping kotak.
Dengan tangan gemetar Adrian mengambil memo itu lalu membaca isinya.
Berani mengusikku maka berani terima konsekuensinya. Tak ada ampun bagi orang yang mengusikku..!
Bruk
Adrian langsung ambruk tak sadarkan diri menerima kejutan yang tak pernah ia duga-duga sebelumnya.
Sedangkan di luar rumah pria yang tugasnya mengantar paket itu langsung menelfon seseorang.
"Paket sudah di terima Nona," lapor pria itu lagi.
"****"
"Tuan Adrian sendiri yang menerima paketnya Nona,"
"Baik, dimengerti Nona,"
Tut
Tut
__ADS_1
Sambungan telfon langsung di matikan seseorang yang berada di sebrang sana. Pria pengantar paket itu sekali lagi melirik rumah Adrian sebelum naik ke motornya dengan menggelengkan kepala miris.
"Mereka benar-benar orang bodoh yang sangat berani mengusik ketenangan Nona muda. Ketenangan Nona muda bagaikan sungai yang tenang namun bisa menghanyutkan. Di bandingkan dengan Tuan Muda Kaisar, Nona muda lebih susah di tebak. Selain itu, Nona muda tidak pernah berfikir panjang hingga tindakannya tidak bisa di predikat sama seperti Nyonya Alisya," guman pria itu yang langsung pergi.
Sedangkan di tempat lain Athena sedang bersiap untuk keluar. Seperti apa yang dikatakan oleh Xavier tadi pagi maka siang ini Athena bersiap untuk ke pergi shopping.
"Rania..! Eka..! Ayo ikut aku..!" Kata Athena yang penuh penekanan mengajak kedua orang itu untuk mengobatinya.
"Kita mau kemana Nona?" Tanya Eka yang mengikut Athena dari belakang.
"Shopping," jawab Athena padat, jelas, dan singkat.
Namun baru beberapa langkah Athena tiba-tiba di hentikan seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian putih dan sebuah kain penutup kepalanya.
"Nona muda," pria paruh baya itu langsung membungkukan badannya pada Athena.
"Eh" Athena menatap bingung ke arah pria paruh baya di depannya itu.
"Tuan muda berpesan ketika anda bangun, anda di suruh untuk makan dulu. Saya sudah menyiapkan hidangan diatas meja," ucap pria paruh baya itu.
Athena yang mendengarnya langsung menatap ke arah Eka dengan wajah yang meminta penjelasan.
"Tuan Xavier merekrut pelayan tadi malam hingga kini sudah banyak pelayan di dapur. Lalu pria paruh baya itu adalah kepala kepala pelayan," terang Rka menjelaskan kepada Athena.
Athena yang mendengar penjelasan Eka hanya menganggukan kepalanya dengan mangut-mangut.
"Jadi seperti itu," kata Athena.
"Benar Nona, Mari ikut saya ke ruang makan," pria paruh baya itu mengajak Athena untuk mengikutinya ke ruang makan.
Athena hanya menganggukan kepala sebelum memberi kode pada Rania dan juga Eka untuk mengikutinya dari belakang. Sampai di ruang makan beberapa pelayan sudah berdiri menunggu Athena. Hingga melihat Athena salah satu pelayan langsung mematikan sebuah kursi untuk di duduk Athena.
"Silahkan Nona muda," pelayan itu menundukan kepalanya sedikit.
Athena yang memang sudah lapar langsung saja duduk dengan tenang lalu melirik Rania dan Eka.
"Rania, Eka..! Kalian juga silahkan duduk..!" Ucap Athena dengan nada memerintah.
"Mereka tidak boleh duduk, mereka itu hanya pengawal bukan majikan,"
__ADS_1