
"Aku mau pulang!" teriak Amora di depan Xavier yang baru masuk ke dalam ruangan rawatnya.
Xavier yang baru masuk ke dalam ruangan Amora langsung kaget mendengar permintaan gadis itu. Bahkan Xavier masuk ke dalam ruangan Amora masih lengkap dengan pakaian kantornya karena Xavier baru saja pulang dari kantor.
"Kenapa belum tidur?" Xavier bertanya dengan nada lembut berjalan menghampiri Amora yang sedang merajuk.
"Aku tidak mau tidur di ruangan ini lebih tepatnya aku mau pulang," jawab mora dengan cemberut.
Hahhhh
Terdengar helaan napas dari Xavier yang menandakan jika pria itu dalam keadaan bimbang. Xavier meletakkan bawaannya lalu beralih menatap kembali Amora yang masih menatapnya dengan penuh harap.
"Dear, luka kamu masih belum sembuh jadi belum bisa pulang." Kata Xavier dengan mengelus kepala Amora sayang.
"Aku tidak mau tahu, aku mau pulang."
"Amora luka kamu belum sembuh masih butuh...,"
"Tidak, jika kamu tidak mengeluarkan aku dari tempat ini maka aku akan keluar sendiri. Jika aku bilang keluar maka keluar siapa yang akan mencegahku? Akan aku singkirkan,"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Amora langsung berbaring dengan membelakangi Xavier. Sedangkan Xavier yang mendengar apa yang di katakan oleh Amora langsung tertegun.
Tiba-tiba saja ingatannya kembali pada percakapan dirinya dan ayah angkat Amora sebelum ayah angkat gadis pujaanya itu pergi meninggalkan Amora karena dia harus segera kembali jika tidak maka keberadaan Amora akan langsung di ketahui oleh keluarga besar Amora.
"Setelah ini jika dia menginginkan kebebasan maka berikan saja, jangan mencoba menahannya atau kamu akan kehilangan dirinya. Di belakang jkamu memang punya pendukung yang kuat tapi kamu juga tidak akan sangka siapa yang berdiri di belakang Amora. Jangankan yang berdiri di belakangnya kami yang sebagai keluarganya saja sampai tidak tahu siapa Amora yang sebenarnya,"
Ucapan Kevin itu benar-benar membuat Xavier menggelengkan kepalanya. Di tambah dengan ucapan terakhir dari gadis pujaannya itu yang sepertinya benar-benar serius tidak untuk bercanda. Xavier menghela napasnya dengan kasar berjalan mendekati Amora yang sedang merajuk.
"Baiklah, kamu akan keluar dari rumah sakit ini besok pagi." Kata Xavier yang memilih mengalah.
Sreeettt
Amora yang tida tertidur langsung berbalik saat mendengar jika Xavier akan mengeluarkannya dari tempat yang di bencinya itu. Namun, baru saja Amora membuka mulutnya untuk berbicara tiba-tiba dirinya langsug di hentikan oleh Xavier.
"Aku akan tinggal di rumahmu selama kamu masa pemulihan, bagaimana?" tanya Xavier yang menaik turunkan alisnya kepada Amora.
Amora yang mendengar permintaan Xavier langsung kaget karena di rumah ia tinggal sekarang hanya ada 1 kamar saja yaitu kamarnya sendiri. Namun, jika dia menolaknya maka akan sangat bahaya dirinya yang akan tetap tinggal di rumah sakit dan hal itu tidak dia sukai. Akan tetapi, membawa Xavier masuk dan tinggal di rumahnya itu juga hal yang salah. Jika itu sampai terjadi maka sama saja dengan membahayakan dirinya juga yang dimana penyamarannya akan terbongkar.
Sedangkan Xavier sengaja mengajukan syarat itu karena ingin menyelidiki Amora dengan dirinya sendiri. Xavier sudah tidak bisa berharap banyak pada anggotanya yang sudah 3 hari namun tidak menemukan data Amora dengan lengkap. Tak punya cara lain maka cara satu-satunya adalah membuat dirinya satu rumah dengan Amora.
__ADS_1
"Sial, ini sama saja membahayan diri aku sendiri, tinggal disini tidak aman tapi tinggal di rumah juga semakin tidak aman. Sepertinya aku harus mencari cara lain," rencana Amora yang menatap tajam Xavier.
"Aku tidak mau, lagian kita bukan suami istri kenapa harus sampai tinggal di bawah atap yang ama?" sinis Amora yang tidak menyetujui iede dari Xavier.
"Jika seperti itu kita menikah saja,"
"Tidak mau!" ketus Amora.
"Dear, ini bukan Negara timur dimana seseorang harus serumah atau seatap dengan kekasihnya di larang. Ini bukan negara yang mewajibkan seseorang untuk menikah dulu baru serumah. Bahkan ada banyak pasangan yang tinggal seatap namun tidak menikah sampai tua."
"Itu mereka bukan aku! Jika aku bilang tidak maka tidak. Kau ticdak ingin membebaskan aku dari tempat sialan ini kita lihat saja siapa yanga kan menang," ucap Amora yang seperti memberi tantangan kepada Xavier.
Selepas berkata seperti itu Amora langsung berbalik dan menutup matanya mengacuhkan Xavier yang terus memanggilnya memintanya untuk bangun makan malam dulu karena memang suasanannya lagi pada malam hari.
"Bagaimana bisa aku tinggal seatap dengannya? Itu sama saja menunjukan identitas asli aku. Lagipula jika aku sampai satu atap dengannya amna bisa aku mencari tahu tentangnya?" kesal Amora dalam hatinya.
Tanpa di ketahui tujuan sebenarnya Amora ingin keluar selain karena memang tidak suka bau Rumah Sakit ada alasan lain membuat Amora ingin segera keluar. Alasan itu tak lain dan tak bukan adalah menxari tahu tentang Xavier. Namun, sepertinya rencananya tidk berhasil seperti apa yang ada di pikirannya.
"Aku tak punya cara lain aku harus memanggilnya kemari besok, mana mau aku dengan terus menghirup bau obat-obatan aneh ini." gerutu Amora dengan menutup rapat-rapat matanya.
__ADS_1
"Astaga gadis ini benar-benar sulit untuk di kelabui," batin Xavier dengan meremas rambutnya dengan kasar.
Tanpa keduanya terus melemparkan serangan la kepada sang musuh. Kedua orang itu seperti kucing-kucingan satu sama lain.