
“Se-sebenarnya kamu si-apa?”
“Karena kamu sudah mau mati baiklah akan aku beri tahu.”
Dengan gerakan pelan Xavier membuka topengnya hingga wajahnya terlihat sempurna. Pria tua itu langsung membulatkan mata saat mengetahui siapa orang bertopeng di depannya itu.
“Ka-kamu…,”
Slasssssh
Kepala orang itu langsung menggelinjang di lantai karena Xavier baru saja menebasnya dengan katana yang sejak kapan ada di tangannya.
“Tumben cepat?” guman Dante.
Dante merasa kaget karena Xavier menyiksa korbannya dengan cepat dan terkesan sangat biasa tidak seperti sebelum-sebelumnya yang dimana Xavier akan menyiksa korbannya dengan sangat kejam dan sadis. Belum lagi jika Xavier membiarkan korbannya mati sendiri. Dalam artian Xavier hanya menyiksa korbannya dengan sangat kejam namun tidak merenggut nyawa mereka dengan cepat melainkan membiarkan mereka mati dengan kondisi yang sangatlah kejam.
“Harusnya kamu bersyukur karena aku tidak memberikan kamu penderitaan yang lama karena aku harus berada di samping wanita ku.”
Xavier segera berbalik pergi setelah menebas kepala pria tua itu. Membiarkan darah pria itu terus membanjiri lantai. Dante yang melihat itu hanya tersenyum tipis.
Xavier dan Dante kembali masuk ke dalam mobil melesat menuju ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit Xavier langsung turun sedangkan Dante kembali menjalankan mobilnya entah mau kemana.
Skip…..
Matahari dengan malu-malu memancarkan sinarnya ke setiap makhluk yang ada di bumi. Kelopak mata yang terpejam itu mulai bergerak sedikit demi sedikit hingga lama-kelamaan terbuka sempurna.
“Rumah sakit?”
Sosok itu berguman dengan pelan saat baru saja membuka mata indra penciumannya langsung di masuki dengan bau obat-obatan. Sosok itu tak lain adalah Amora yang baru saja bangun dari tidurnya.
Saat Amora menggerakan tangannya dapat di rasakan jika tangannya itu berat hingga membuat Amora menurunkan pandangannya pada posisi tangannya.
“Tuan Xavier?”
Amora merasa heran untuk apa pria yang menjadi bosnya itu berada disana. Dapat Amora tebak jika Bos nya itu pasti tidur disini semalaman. Amora yang merasa kehausan langsung menarik pelan tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Xavier.
__ADS_1
Prang….
Xavier yang masih menutup mata langsung terbangun dari tidurnya saat mendengar ada barang jatuh. Mata Xavier membulat saat melihat Amora yang sedang menatapnya dengan cengengesan.
“Apalagi yang kamu perbuat kali ini?” Xavier bertanya dengan datar.
“Gelasnya jatuh hehe,” jawab Amora yang memamerkan giginya yang putih.
“Dasar bodoh,”
Xavier memijit kepalanya menatap ke bawah yang berserakan beling. Matanya menatap tajam ke arah Amora.
Akan tetapi, lihatlah pada gadis itu yang hanya bahkan masa bodoh amat dan membuang muka ke arah lain seakan-akan dia tidak melihat tatapan tajam Xavier.
“Kamu mau apa?”
“Minum.”
Xavier dengan segera mengambilkan air putih lalu di berikannya pada Amora. Amora yang memang pada dasarnya lagi haus segera mengambil gelas yang di sedorkan Xavier padanya.
“Tunggu,” Xavier kembali menarik gelas minuman itu sebelum tangan Amora sampai pada gelas air itu.
Xavier dengan tenang membantu Amora untuk bersandar pada kepala Brankar. Xavier langsung memberikan gelas tadi pada Amora.
“Diam disitu dan jangan kemana-mana.” Pesan Xavier yang segera berjongkok membersihkan beling kaca itu.
“Siapa juga yang mau jalan?” guman Amora dengan pelan.
Waktu terus berjalan tak terasa hari sudah siang. Amora duduk di atas brankar dengan berbagai cemilan. Gadis itu tidak peduli jika ia sedang berada di rumah sakit sekalipun tetap dia meminta jajan kepada Xavier.
“Tuan!” panggil Amora dengan mulut yang terus terisi.
“Apalagi?” Xavier menatap tajam Amora.
“Aku ingin makan pizza,”
__ADS_1
“Dam`it.” Xavier mendengar itu langsung mengumpat.
Xavier dengan kesal membuang ponselnya berdiri menatap tajam Amora dengan berkacak pinggang. Xavier benar-benar pusing mengurusi Amora sama saja seperti mengurusi anak kecil. Gadis itu tahunya hanya makan, makan, makan, dan makan saja. Amora bahkan tidak berhenti mengunyah dari beberapa jam yang lalu. Sekarang, lihat! Gadis itu bahkan meminta untuk di belikan lagi Pizza.
"Pizza?"
"Iya pizza, aku masih lapar." Balas Amora dengan santai memasukan lagi kerupuk di dalam mulutnya.
"Dimana makananmu tadi?"
"Habis dan ada di perut."
“Apa itu benar-benar perut mu ha…? Kenapa makanan sebanyak itu juga tidak membuat kamu kenyang?”
“Tuan takut bangkrut ya…?”
“KAU…..”
Xavier tidak bisa berkata apa-apa lagi menghadapi Amora yang ternyata sangatlah rakus dalam hal makanan. Bahkan gadis itu tidak memikirkan jika berat badannya naik atau tidak maunya makan terus. Xavier bahkan sampai meremas rambutnya dengan kasar karena ulah dari Amora.
“Apa kamu tidak takut gendut ha…? Bagaimana bisa kamu makan dengan begitu banyak? Seharusnya kamu memikirkan badanmu juga. Bagaimana nanti jika kamu gendut tidak ada yang mau menjadi kekasihmu?”
Xavier seperti emak-emak yang sedang memarahi anaknya bahkan Dante yang berada di pintu sampai mematung karena mendengar Xavier berbicara panjang kali lebar. Di tambah pria itu berbicara dengan seorang wanita yang menurut Xavier sangat merepotkan dan banyak maunya.
“Jika begitu aku akan hidup sendiri saja, Aku akan mencari pria yang menerimaku apa adanya. Walaupun mungkin dia jelek dan miskin sekalipun tapi jika dia menerima ku dengan ikhlas akan aku terima,” balas Amora dengan yakin dan tegas tanpa adanya keraguan dalam dirinya mengambil keputusan itu.
Xavier yang mendengar balasan menohok dari Amora sampai tertegun. Di dunia zaman sekarang masih ada wanita yang mau menerima pria dengan ikhlas walaupun miskin. Apakah itu masuk akal? Entah kenapa Xavier merasa jika ucapan dari Amora tadi hanya gurauan semata.
“Cih kalian para wanita hanya mencari harta saja, selebihnya jika kami para lelaki bangkrut kalian akan pergi.” Sinis Xavier yang menatap ke arah Amora.
“Ih kok lihat ke aku gitu, ngajak gelut nih Bos satu.” Batin Amora.
“Aku nggak butuh harta aku butuh cinta dan kasih sayang seperti cinta daddy ke mommy yang tidak pernah berkurang. Soal harta aku juga bisa mencarinya.”
“Aku tidak percaya.”
__ADS_1
“Apa aku peduli? Tentu saja, tidak. Orang yang tidak mempercayai cinta adalah orang yang tidak pernah merasakan apa itu cinta. Bisa juga, mungkin mereka tidak tumbuh dalam keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang serta cinta. Orang yang tidak mempercayai adanya wanita tulus di dunia ini, mereka adalah pria-pria yang kesepian. Aku rasa Tuan sendiri adalah salah satu pria yang bisa di katakan kesepian.”
Deg