
`Setelah memastikan jika Xavier sudah keluar dari ruangan rawatnya seketika itu pula mata Amora terbuka sempurna.
"Cih ingin menahanku disini? Mimpi saja! Bahkan penjagaan daddy saja yang super ketat aku bisa lolos apalagi hanya masalah seperti ini," guman Amora yang langsung bangun dan turun dari ranjang rumah sakit.
Amora dengan gerakan cepat segera meraih sebuah tas yang dia letakan di bawah brankar lalu segera masuk ke dalam kamar mandi yang berada di ruangan rawatnya. Hingga beberapa menit kemudian Amora keluar dari toilet lengkap dengan pakaian rapi telah terganti bukan lagi Rumah sakit.
"Cih gini kan enak," guman Amora yang mengotak atik ponselnya.
"Hallo, dimana?" tanya AMora pada orang yang berada di sebrang sana.
"Apa sudah siap semua?"
"Bagus aku akan keluar sekarang, kamu boleh pergi."
Amora mematikan sambungan telfonnya lalu berjalan ke arah pintu. Namun, saat baru beberapa langkah melangkah Amora menghentikan langkahnya lalu melirik rantang makanan yang di bawah Xavier.
Dengan sekali gerakan Amora langsung meraih rantang itu lalu membukanya dan melihat isinya. Melihat isinya sama seperti kemarin Amora langsung menutupnya kembali lalu berjalan kembali dengan rantang itu di tangannya.
"Syukurlah," guman Amora karena dio luar ruangannya belum ada penjaga yang menjaganya.
Tak ingin membuang waktu Amora dengan segera memakai topinya lalu berjalan cepat menuju keluar dari rumah sakit. Amora dengan sukses melewati lorong-lorong rumah sakit hingga sampai di parkiran Amora saling berpapasan dengan para pria berjaz hitam namun tidak saling menegur satu sama lain.
"Mereka siapa? Kenapa pakaian mereka seperti bodyguard? Apa sekarang Rumah sakit kedatangan anak presiden hingga banyak penjagaan?"Amora melirik kew belakang menyaksikan orang-orang itu masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah cepat.
__ADS_1
Tanpa Amora sadari jika orang-orang itu adalah orang-orang suruhan Xavioer yang datang menjaganya. Begitu juga dengan orang-orang Xavier yang tidak menyangka jika orang yang akan mereka jaga telah berpapasan dengan mereka.
Amora dengan santai menaiki motor mogenya lalu opergi meninggalkan area rumah sakit.
"Selamat tinggal tempat yang membosankan," gumn Amora yang melihat sinis bangunan Rumah Sakit itu sebelum menartik pegal gasnya dengan kecepatan tinggi.
Sedangkan di sisi lain anak buah Xavier baru saja sampai di ruang rawat Amora sesuai yang di beri tahu oleh Dante. Ternyata yang memimpin mereka adalah Roy selaku orang kepercayaan Xavier di markas selain Dante.
"Kalian tunggu disini aku akan masuk memeriksa," ucap Roy kepada anak buahnya.
"Baik Tuan," jawab beberapa orang itu.
Roy segera memegang knop pintu lalu membukanya dengan pelan masuk ke dalam kamar ruang rawat Amora. Saat masuk ke dalam Roy hanya meolihat gumpalan seperti orang yang berada di baweah selimut. Namun setelah di perhatikan dengan teliti Roy menemukan sebuah keanehan. Dengan gerakan cepat Roy membuka selimut tipis itu./
"Oh **** sekarang kami semua dalam bahaya," umpat Roy yang langsung berlari keluar dari ruangan itu.
"KALIAN SEMUA SEGERA BERPENCAR DAN CARI ORANG YANG SUDAH AKU KIRIMKAN CEPAT...! PASTIKAN JIKA KALIAN MENEMUKANNYA JANGAN LUKAI DIA," perintah Roy kepada anak buahnya dengan memberi sebuah pesan tak tertulis.
Akibat perintah tak tertulis namun mutlak akhirnya orang-orang yang menjadi anak buah Xavier itu segera berpencar mencari kesegala arah dan setiap sudut Rumah Sakit.
"Tamat kali ini kami benar-benar tamat," guman Roy yang dengan gerakan cepat merogoh saku celananya hingga mengeluarkan benda persegi panjang itu.
"Hallo, Bos Nona Amora menghilang, beliau tidak ada di Rumah Sakin." Lapor Roy dengan wajah pucat
__ADS_1
Di lain sisi Xavier yang menerima laporan dari Roy langsung menggelap menatap tajam Dante dengan tatapan mata yang penuh aura intimidasi yang kuat.
"Sanpai disni sekarang kalian bisa pergi!"
Itu bukan permintaan atau pengusiran tapi itu adalah perintah dari seorang Xavier yang tak ingin di bantah. Kedua pria itu segera berdiri dan keluar dari ruangan Xavier. Mereka tak ingin menjadi pelampiasan amarah dari pria yang terkenal akan temprementalnya itu.
"A..,ada apa Bos?" tanya Dante dentan wajah gugup dan keringat dingin.
"Amora hilang!"
Glek
Kali ini Dante yang melototkan matanya menatap ke arah Xavier dengan tenang dan juga menatapnya.
"Ke Rumah Sakit sekarang!"
Xavier segera berjalan dengan cepat lebih tepatnya berlari menuju keluar dari ruangannya. Xavier dan Dante menju Lift khusus lalu mereka turun di lantai bawah.
Xavier masuk ke dalam mobil dengan mengendarai mobuilnya dengan kecepatan tinggi di atas rata-rata menuju Rumah Sajkit tempat Amora di rawat. Xavier tidak menduga jika Amora akan sampai senekat itu benar-benar kabur dari Rumah Sakit. Xavier tadinya hanya berfikir jika omongan Amora hanyalah main-main belakang. Namun siapa sangka jika gadis itu benar-benar melakukan apa yang dia mau.
"Ya Tuhan, semoga aku sampai di tempat tujuan aku masih hidup dan bernapas yang benar." Dante hanya bisa berdoa dengan perasaan was-was takut jika mereka sampai kecelakaan.
Dante tidak menduga jika akan seperti ini terlebih Dante hanya terlihat menganggap Amora sama seperti gadis pada umumnya. Akan tetapi, setelah kejadian ini Dante dapat mengerti jika Amora tidak bisa di anggap remeh. Sekarang Dante tahu kenapa Xavier mengatakan jika Amora bukanlah gadis yang bisa di anggap remeh dan itu terbukti dari9 sekarang.
__ADS_1