
Amora emnatap heran bangunan dui depannya itu yang di ketahui sebagai Bar. Seumur hidup dia hanya tau itu Bar namun dia tak pernah masuk kesana. Tempat itu adalah tempat yang sangat di larang oleh sang daddy untuk tidak masuk ke dalam sana.
"Ayo masuk,"
Xavier segera menggenggam tangan Amora untuk masuk ke dalam Bar. Namun Amora dengan refleks segera menarik tangannya membuat Xavier berhentti dan menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Xavier lembut.
"Aku tidak bisa masuk di tempat itu, tempat itu adalah temnpat yang di larang keras oleh daddy ku untuk aku injak bahkan jika itu hanya halaman depannya saja. Jika daddy tahu aku masuk ke sana maka aku akan benar-benar di hukum oleh daddy." Ungkap Amora dengan wajah pucat.
Amora tidak takut pada siapapun bahkan jika itu Kaisar selaku saudara kembarnya sendiri. Tapi jika sudah sang daddy yang turun tangan maka gadis itu seketika akan menjadi anak kecil.
"Daddy mu tidak akan tahu, Dear."
"Tetap saja aku...,"
"Dia...," Amora menatap punggung orang yang sepertinya sangat dia kenali yang baru masuk ke dalam Bar itu.
"Ayo masuk." Amora langsung berjalan cepat masuk ke dalam.
Xavier yang melihat itu segera berlari mengikuti Amora. Xavier takut jika gadisnya itu membuat masalah mengingat tempremennya yang sangat nakal dan tak suka di sentuh sedangkan tempat yang di masuki itu adalah tempat haram.
"Dear, berjalan yang pe;an di dalam sana banyak orang." Pesan Xavier kepada Amora.
Baru saja masuk mereka langsung di sambut cahaya lambu disko dengan puluhan bahkan ratusan orang yang sedang menari-menari dengan saling berdempetan. Amora ayng melihat beberapa orang yang bahkan ciuman dan hamopir neked di tempat itu hanya bergidik ngeri.
"Pantas daddy melarang aku masuk ke tempat ini ternyata tempat ini sangat mengerikan." Guman Amora.
Amora segera mengedarkan pandangannya mencari orang yang sekiranya tadi dia kenali. Amora tidak mungkin salah sudah jelas ia sangat mengenal orang itu. Tapi untuk apa orang itu masuk di tempat ini.
"Dear, ayo ikut aku." Xavier langsung menggenggam tangan AMora membawanya di meja sudut sana.
"Selamat malam Tuan Xavier," seorang pria yang memiliki rambut gondrong segera menjabat tangan Xavier.
__ADS_1
"Maaf membuat anda menunggu Tuan Ryuga." balas Xavier dengan terpaksa membalas jabaran tangan Tuan Ryuga.
Tuan Ryuga mempersilahkan mereka duduk dengan senang hati Xavier duduk dengan menarik lengan baju Amora yang masih sibuk celinguk celinguk mencari sosok yang di lihatnya itu.
"Langsung saja saya tidak punya banyak waktu jadi bisa...," jeda Xavier yang menatap datar Tuan Ryuga.
"Saya ingin membeli senjata dari Tuan Xavier," ucap Tuan Ryuga dengan tenang.
"Saya tahu ada hal lain yang ingin anda sampaikan selain ini," kata Xavier dengan datar.
Xavier bukan orang bodoh yang tidak akan mengetahui niat asli dari rekan kerjanya yang satu ini. Pria di depannya itu di kenal dengan kelicikannya yang tiada tara.
"Hahaha ternyata Tuan Xavier bisa dengan menebak apa yang saya inginkan," Tuan Ryuga tertawa dengan senyum licik.
"Aku ingin memasukan obatku di dermaga sebelah utara." Kata Tuan Ryuga dengan datar.
"Tidak." Tolak Xavier langsung tanoa berfikir 2 kali.
"Brengsek!" umpat Amora yang langsung berdiri dan berlari membuat Xavier kaget.
"AMORA..."
Dor
Brakkk
"Syukurlah," Amora mengucapkan syukur saat berhasil mendorong pria yang ingin di tembak itu.
"BUNUH PRIA TUA ITU...!" teriak orang berada di lantai dua.
"Ingin membunuh Ayahku lewati dulu mayatku...!" teriak Amora yang menatap tajam orang yang berada di lantai atas.
"Siapa kamu?"
__ADS_1
"Ayah tidak mengenalku?" Amora berbalik menghadap pria paruh baya itu yang tak lain adalah Kevin.
"Amora! Apa yang kamu lakukan disini baby girl's?"
"Nanti saja bertanya-nya ayah sekarang kita selesaikan ini dulu."
"Baiklah, baby girl."
Bugh
Brakk
"Ingin menyentuh wanitaku maka langkahi aku dulu." Xavier menendang pria yang ingin menyerang Amora.
"Dear!" Xavier datang menghampiri Amora dengan Dante di belakangnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Amora dengan menatap tajam Xavier.
"Melindungimu dari para kecoak ini." Jawab Xavier.
"Cih baby ku tidak butuh perlindungamu," ketus Kevin yang langsung menarik Amora berada di sampinya.
"Baby ready?"
"Of course!"
Kevin dan Amora langsung mengeluarkan senjata masing-masing yang berupa belati. Tanpa Amora sadari Xavier melotot melihat belati di tanganya.
"Belati itu...,"
*Tara..... Bersambung dulu guys😁😁
Sebagai bocoran disini identitas Amora akan sedikit demi sedikit terbongkar yah. Jadi ikuti terus kisahnya karena semakin kesini akan semakin seru kisah Athena dan Xavier*
__ADS_1