
"Jadi dari orang ini Wanitaku mendapatkan sifat yang bar-bar?" guman Xavier dengan menatap cengo Kevin yang sedang menyodongkan senjata pada perawat itu.
"Cih dia mengatakan aku bar-bar? Tidak tahukah jika wanita yang melahirkan dari gadis yang dia klaim itu sangat bar-bar," umpat Kevin dalam hati yang ternyata mendengar gumanan Xavier.
"Cepat pergi!" usir Kevin yang bertamabah kesal karena ulah Xavier.
"Berhenti menatapku dengan aneh sebelum aku mencongkel matamu," Kevin menatap Xavier dengan pandangan lapar ingin menghajarnya.
Xavier yang mendengar itu secara refleks segera membuangan muka. Xavier ingin bertanya kenapa dia di pukuli hanya karen alasan masuk Klub itu pun bersamanya bahkan Amora tidak di sentuh sebelum melihat pria tua di depannya itu.
Namun, saat mengingat jika Amora memanggil pria paruh baya di depannya itu dengan sebutan Ayah langsung membuat nyali Xavier menciut. Jika musuh dia akan maju tapi memikirkan pria di depannya itu adalah Ayah Amora akan sulit meminta restu nantinya.
"Kenapa mereka sangat lama," guman Xavier yang hanya bisa mondar mandir di depan ruangan Amora.
"Ini baru 15 menit, apanya yang lambat? Apa kamu ingin baby-ku di tangani dengan asal-asalan?" kesal Kevin yang menatap Xavier dengan attapan tajam.
"Aku tidak tahu jika masih seperti itu...,"
"Cih lebih baik kamu duduk sebelum aku menembak kepalamu." Potong Kevin.
"Entaha apa yang akan di lakukan oleh si pak tua itu jika tahu putrinya di bawah masuk oleh seorang pria ke dalam Club dan bagaimana tanggapan singa betina itu tahu jika putri kecilnya masuk Rumah sakit riwayatmu benar-benar akan tamat saat ini juga, br3ngs3k."
"Anda mengkhawatirkan aku?"
"Cih aku tidak mengkhawatirkan anak kecil sepertimu. Aku mengkhawatirkan diriku sendiri, aku juga akan kena imbasnya. Kita berdua akan mati sialan!" Umpat Kevin yang melototi Xavier.
__ADS_1
"Apa anda juga masih takut?" ejek Xavier dengan wajah datarnya.
"Cih, bahkan kamu benar-benar akan habis, aku hanya berharap merekabelum mencium keberadaan Amora. Pasti baby-ku kabur gara-gara sifat posesif ayah dan anak itu." Gerutu Kevin dengan kesal meremas tangannya.
Sudah menjadi kebiasaan Kevin akan banyak bicara disaat dia sedang mengalamai kekhawatiran yang parah. Seperti saat ini Kevin tidak tahu jika apa yang di katakan oleh Kevin membuka sedikit petunjuk kepada Xavier.
"Dear, siapa kamu sebenarnya? Kenapa bahkan pria yang kau panggil Ayah ini sampai takut seperti ini?" Xavier hanya bisa menahan semua rasa penasarannya dalam hati karena saat ini kondisi benar-benar tidak mendukung.
Ceklek
Xavier dan Kevin yang mendengar pintu di buka langsung berdiri menghampiri sang Dokter yang baru keluar.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Xavier dan Kevin yang berbarengan.
"Apa lukanya akan tertutup dan tidak akan menimbulkan bekas?"
"Tentu saja akan ada Tu...,"
"Sial;an, aku tidak mau tahu pokoknya putriku jangan sampai punya akan hal itu."
"Tu...Tuan ti...,tidak perlu khawatir ka...,kami akan memastikan untuk membuat luka di punggung Nona muda sembuh tanpa bekas." Kata Dokter lain yang mencoba melepaskan rekan mereka yang di cekik Kevin.
Untuk sesaat Xavier kaget dengan apa yang di lakukan Kevin yang lebih dulu mengancam Dokter itu. Namun, dirinya kaget saat menyadari jika di dalam ruangan itu tidak hanya 1 Dokter akan tetapi juga lima Dokter sekaligus. Setelah beberapa saat Xavier tersadar lalu memisahkan Kevin dari Dokter itu.
"Apa kami boleh masuk?" tanya Xavier datar dan dingin karena dokter wanita muda di depannya itu terus memandangnya.
__ADS_1
"Bisa Tuan, tapi jangan mengganggu istrahat pasien nantinya."
Xavier langsung menarik masuk Kevin ke dalam ruangan itu guna untuk menghindari masalah dengan Dokter.
"Lepaskan aku...!"
"Tuan, apa Tuan tidak ingin melihat putri Tuan? Saat ini Amora membutuhkan dukungan anda bukan hanya terus marah-marah seperti ini." Ujar Xavier.
Kevin yang mendengar itu segera menghentikan rontahannya lalu berbalik menatap ke arah Amora yang terbaring dengan menyamping di atas brankar rumah sakit. Kevin menatap Amora dengan sendu langkahnya dengan pelan mendekati Amora yang masih belum sadarkan diri.
"Seumur-umur kamu tidak memasuki tempat ini tapi hari ini kamu bahkan masuk dan langsung berada di ruangan ICU hanya karena menolong Ayah yang tak berguna sepertiku. Aku pasti akan langsung di bunuh oleh Daddy dan Kakakmu jika mereka tahu jika kesayangan mereka terluka gara-gara Ayah. Tapi tak apa Ayah akan terima ini memang salah ayah tapi kamu harus baik-baik saja."
Deg
Xavier yang duduk di ofa langsung tertegun mendengar jika Amora belum pernah masuk ke rumah sakit selama ia hidup karena terluka. Xavier ingat jika Amora pernah masuk rumah sakit beberapa saat yang lalu karena menolongnya. Seketika itu juga Xavier langsung menelan ludahnya dengan kasar.
"Bagaimana jadinya jika pria sembrorono ini tahu jika Amora pernah masuk ruma sakit beberapa saat lalu karena menolongku. Bisa-bisa aku di bunuh saat aku bahkan belum mendapatkan restu. Jangankan restu hati Amora saja belum aku dapatkan bagaimana bisa aku cepat mati?"
Memikirkan mati dengan usia muda dan tidak mendapatkan pujaan hatinya membuat Xavier menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak boleh, Aku tidak boleh mati sebelum hidup bahagaia bersama Amora. Ya, tidak boleh mati!?" kata Xavier dalam hatinya.
"Jaga Amora sebentar, aku akan menyelesaikan semua ini dengan cepat." Kevin langsung bergegas keluar tanpa mendengar jawaban Xavier.
"Menyelesaikan masalah...,? Dam'it"
__ADS_1