Love Story Queen Athena

Love Story Queen Athena
bab 15


__ADS_3

“Bos,” Dante memanggil pelan sang Bos dengan ragu-ragu.


“Hm” Xavier hanya berdehem dengan terus memutar dan menyesap wine yang berada di tangannya.


“Genk Lion…,”


“Bicara yang jelas atau aku potong lidahmu!”


Glek


Dante yang mendengar apa yang di katakan oleh Xavier hanya bisa menelan ludah dengan kasar. Bagaimana jika sampai Xavier tahu jika Genk Lion telah mencari perkara dengan kelompok mereka.


“Genk Lion merampok 2 teruk bahan senjata yang kita pesan yang di sandarkan di pelabuhan bagin barat kota,” lapor Dante dengan nada tegas dan jujur.


Prang


Gelas wine yang berada di tangan Xavier langsung pecah hingga melukai tangan pria itu. Namun, apa yang akan di pikirkan oleh pria yang bernama Xavier itu selain amarah.


“Bagaimana bisa?”


Xavier bertanya dengan nada datar dan berat menahan amarah dalam dirinya. Tatapan pria itu menajam seperti seekor singa yang sedang mengintai mangsanya. Selain, kelompok serigala malam Kelompok Genk Lion juga salah satu kelompok yang selalu mencari perkara kepada kelompok mereka.


“Anak buah kita di serang di perjalan saat mengantar barang-barang itu ke markas kita Bos.”


“Apa ada anggota kita yang terbunuh?”


“5 orang tewas dan 5 orang lagi hanya terluka.”


“Bunuh 10 orang dan lukai 10 anggota mereka seperti mereka yang melukai anak buah kita.” Titah Xavier dengan datar.


“Baik Bos.” Jawab Dante dengan tegas dan yakin.


Walaupun terkenal dengan si King Red karena sering menggunakan darah korbannya untuk membersihkan senjatanya. Xavier hanya akan kejam pada musuh atau penghianat karena dia akan sangat baik pada anggotanya. Xavier akan membalas orang-orang atau kelompok manapun yang melukai anggotanya bahkan 2 kali lipat.


Jika mereka membunuh 5 orang anggotanya maka akan dia bunuh 10 orang anggota kelompok yang sudah membuat kelompoknya celaka. Jika mereka melukai anak buahnya 5 orang maka akan di lukanya 10 orang anggota mereka juga.


Xavier tak akan pernah memberi ampun pada mereka yang mengibarkan bendera perang dengan dirinya.


“Bos sepertinya aku harus ke ruangan gadis itu untuk mengambil berkas yang aku suruhkan tadi gadis itu kerjakan,”


“Pergilah.” Usir Xavier kepada Dante.


Namun baru saja melangkah Xavier kembali menghentikan langkah kaki Dante.


“Bagaimana dengan pencarian kamu dengan gadis yang kemarin?”

__ADS_1


“Maaf Bos, sampai sekarang saya atau pun anggota yang lain belum mendapatkan hasil apapun.” Ungkap Dante dengan jujur.


“Hm”


Mendengar itu Xavier hanya menganggukan kepala samar dengan mengibaskan tangannya degan tanda mengusir Dante untuk keluar dari ruangnya.


Dante yang melihat tanda pengusiran dari Xavier segera kembali berbalik melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan pribadi milik Xavier.


“Kemana aku harus mencari kamu gadis kecil?” guman Xavier yang terus mencari keberadaan gadis yang menarik perhatiannya sejak awal bertemu.


Namun sepertinya Xavier harus menelan pil pahit di saat anak buahnya tidak mendapatkan apapun tentang gadis itu.


Ceklek


Dante melototkan matanya saat memasuki ruangan Amora. Bagaimana tidak bukannya mendapati sedang bekerja gadis itu bahkan dengan enak-enaknya sedang tidur di sofa dengan tenang.


“EHEM…!”


Amora yang sedang tertidur langsung terperanjat kaget saat mendengar suara deheman yang sangat keras. Gadis itu langsung membuka matanya dan langsung terduduk dengan nyawa yang belum kembali.


“Kamu tidur?” Dante bertanya dengan nada datar dan juga dingin menatap tajam Amora yang masih mengumpulkan pecahan nyawanya.


“Hoaaam, aku mengantuk jadi aku memutuskan untuk tidur.” Jawab Amora dengn santai merenggangkan ototnya yang terasa nyeri karena tidur di sofa.


“Apa kamu tuli ha..? ku menyuruh kamu untuk mengerjakan berkas itu bukan untuk tidur. Bagaimana bisa kamu…,”


Dengan bingun Dante mengambil berkas itu dan membuka berkas paling atas. Namun saat membukanya Dante tertegun karena berkas itu telah selesai di perbaiki oleh Amora.


Tak mau percaya begitu saja Dante segera meletakan berkas itu di atas meja Amora. Dante segera membuka satu persatu berkas itu yang semuanya telah di kerjakan oleh Amora bahkan tak ada kesalahan sedikitpun.


"Ini…, bagaimana bisa? Sejak kapan kamu menyelesaikan ini?” Tanya Dante dengan menatap Amora dengan dahi yang mengkerut.


“Sekitar 30 menit lalu.” Jawab Amora yang masih menutup matanya.


Dante yang mendengar apa yang di katakan oleh Amora hanya bisa diam. Tanpa mengeluarkan apapun lagi Dante segera mengambil berkas-berkas itu membawanya keluar tanpa mengeluarkan suara apapun lagi.


“Cih…, sudah ku bilang aku ini jenius mereka masih saja tidak percaya.” Guman Amora dengan penuh percaya diri.


Tok


Tok


Tok


“Masuk,”

__ADS_1


“Tuan…,” Dnte segera masuk membawa berkas yang dikerjakan oleh Amora tadi kehadapan Xavier.


“Apalagi ini?” Xavier bertanya degan datar dan juga menatap dingin Dante.


“Berkas yang di kerjakan oleh gadis tadi, Tuan.” Jawab Dante dengan gugup.


“Lalu?”


“Tuan lihat saja sendiri,”


Xavier hanya diam mengambil berkas itu lalu membukanya satu persatu hingga selesai. Tidak ada rasa terkejut atau ekspresi lain dari wajahnya. Wajahnya hanya menampilkan wajah datar dan juga dingin sedari awal ia membuka berkas-berkas itu hingga selesai.


“Cukup bagus,” kata Xavier dengan datar meletakan kembali berkas itu.


“Gadis itu hanya butuh waktu 30 menit untuk mengerjakan semua ini Tuan. Bahkan sampai disana aku hanya menemukan gadis itu sedang tertidur,” terang Dante dengan sungguh-sungguh.


“Tapi itu bagus, itu artinya posisinya sekarang cocok dan pantas untuk dia. Walau penampilannya sangat membosankan.” Lanjut Dante.


“Apa waktumu cukup luang?”


Glek


Dante yang masih mau mengoceh langsung terhenti saat suara datar dan juga dingin itu terdengar mengerikan di telinganya.


“Saya permisi Tuan,” Dante segera membungkukkan badannya lalu berbalik pergi meninggalkan Xavier.


“Semakin hari Bos semakin menakutkan. Entah wanita mana yang bisa menaklukan gunung kutub utara itu.”


Guman ante yang berjalan ke ruangannya yang berada di depan ruangan yang di tempati Amora.


Waktu terus bergulir tak terasa hari sudah berganti malam. Amora yang melihat jika sudah waktunya pulang segera keluar dari ruangannya.


“Di lantai ini sangat sepi, ternyata ruangannya hanya 3 saja.” Guman Amora yang berjalan menuju Lift.


Sampai di lift Amora bersiap masuk ke dalam lift tapi dihentikan oleh suara datar di belakangnya.


“Nona Amora!”


“Ya.”


Amora menoleh ke belakang ternyata pria yang memanggilnya adalah Dante. Di samping Dante berdiri pria yang menjadi bosnya yang tak lain dan tak bukan adalah Xavier.


“Lift yang kita gunakan berada di sebelah sini, lift itu untuk para karyawan biasa yang bekerja di lantai bawah.” Terang Dante.


“Jadi aku harus ke lift itu,” tunjuk Amora pada lift di samping Dante.

__ADS_1


“Benar Nona.” Jawab Dante lagi.


Mendengar itu tanpa ba-bi-bu Amora langsung masuk ke dalam lift itu lebih dulu. Date yang melihat tingkah Amora hanya bisa menepuk jidatnya dengan tangan. Entah kenapa gadis di depannya itu sangatlah bar-bar.


__ADS_2