
"NONA AMORA!" seru Dante yang melihat jika yang di lihat Xavier adalah Amora yang masuk ke dalam warnet itu.
Xavier terus memperhatikan Amora hingga Amora masuk ked alam warnet dan duduk di salah satu kursi lalu mulai menghidupkan Komputer/. Bersyukur karena Amora duduk di dekat CCTV sehingga mempermudahkan mereka untuk mengawasi pergerakannya.
"Itu...," Dante tidak lagi bersuara hanya bisa berbalik menatap Xavier yang tidak bergeming sama sekali.
Xavier tentu dengan mudah dapat melihat apa yang di kerjakan oleh Amora karena CCTV berada di beakangnya membuat apapun yang dia lakukan terekam jelas di CCTV. Xavier hanya diam menyaksikan bagaimana Amora bergerak tanpa mengeluarkan satu katapun suara. Sedangkan Dnte sudah ketar ketir sendiri membayangkan jika Amora adalah mata-mata yang di kirim pihak musuh pada mereka.
"Bos ini..., apa kita harus menangkap Amora sekarang juga? Akan sangat berbahaya jika sampai mereka mengetahui siapa Bos, Nona Amora juga hanya orang baru Bos lebih baik sekarang kita habisi sebe..., uhukkk uhuhkkk bos...," Dante terbatuk-batuk saat tangan besar Xavier dengan gerakan cepat langsung mencekk leherny dengan keras.
"Siapa yang memberimu perintah untuk menangkapnya? Siapa yang mengizinkan kamu ubtuk membicarakan hal-hal yang burujk tentang wanitaku?" desis Xavier yang memperkuat cekikkannya pada leher Dante.
"Ma...,maaf Bos sa...saya hanya....,"
"Tutup mulutmu sebelum aku memotong lidahmu!" sentak Xavier yang membanting Dante ke lantai dengan kasar.
Xavier maju di depan Komputer lalu mulai menghapus semua rekaman tentang Amora yang datang di tempat itu. Setelah memastikan jika semuanya telah selesai dengan segera Xavier berdieri lalu keluar dari tempat itu tanpa mengatakan apapun lagi. Dante yang melihat sang Bos keluar segera berlari mengejhar sang Bos walaupun lehernya masih terasa ngilu karena cekikkan Xavier tadi.
"Bos, kenapa anda...,"
"Apa kamu fikir Amora adalah keledai yan menjadi pesuruh orang? Kamu salah Dante, kamu tidak tahu pria tua yang menjadi ayah angkat Amora adalah seorang pengusaha sukses di Negara Rusia."
"Pengusaha?"
"Kevin Anggara adalah pemilik perusahaan Anggara Company sala satu perusahaan terbesar di Negara itu. Bahkan pria itu tidak menikah dan selalu memberikan apapun yang di inginkan Putri angkatnya apapun yang dia inginkan. Menurutmu apa Amora akan mau jika menjadi pesuruh orang lain sedangkan ada yang mengratukannya?"
Dante yang mendengar apa yang di katakan oleh sang Bos langsung terdiam mencoba memahami apa yang di bicarakan sang bos.
"Tapi...,"
__ADS_1
"Jika orang lain mungkin saja tapi..., dengan sifat Amora yang sangat arogan untuk ukuran wanita apa dia akan bersedia?"
Benar, sangat di katakan mustahil wanita searogant Amora mau tunduk pada perintah orang lain. Apalagi jika harus menjadi pesuruh seseorang hanya karena uang itu tidak mungkin. Namun, Dante juga tidak bisa percaya begitu saja karena memang Amora bukan orang lama yang tidak harus di curigai jika dia bukan mata-mata.
"Lalu alasan apa Nona Amora sampai meretas data Anda Bos?"
"Ada dua alasan, pertama karena dia penasaran dengan identitasku sedangkan yang kedua dia mengetahui jika kalian mencari tahu tentang dirinya. Di antara 2 alasan ini, alasan kedua bisa masuk akal dan memiliki peluang banyak jika itu memang karena dia tahu kalian yang meretasnya."
Dante yang mendengarnya langsung paham setelah mendengar apa yang di takan oleh Xavier barusan.
"Itu artinya Nona Amora sengaja mengerjai kami di penyelidikan pertama?" guman Dante yang masih mengingat jelas bagaimana dia dengan susah payah mendapatkan informasi tentang Amora namun ternyata gadis itu justru sengaja mengerjainya dengan menuliskan informasi yang tidak penting dan tidak berguna sama sekali membuat dirinya di hukum oleh sang Bos.
Memikirkan hal itu Dante ingin sekali mengumpat tapi memikirkan jika di sampingnya masih ada sang Bos Dante hanya bisa diam.
"Sekarang kita ke markas karena kita harus mencari dimana gadis itu berada," kata Xavier yang memikirkan AMora entah keman gadis itu.
"Bagaimana jika kita ke rumahnya saja Bos?" Dante memberi usulan.
"Kita hanya perlu mecoba Bos, siapa tahu dia memang kesana bukan? Walaupun dia kan berlari ke tmpat lain tapi hal pertama yang dia lakukan adalah kembali ke rumah itu untuk memngambil sesuatu yang penting." Terang Dante dengan tenang.
"Baiklah kita kesana sekarang!"
Dante tidak lagi mengeluarkan suara dengan segera menghidupkan mobilnya lalu menstaterkannya pergi meninggalkan tempat itu. Di awal perjlanan semua terasa aman hingga beberapa menit meninggalkan tempat itu tiba-tiba Dante merasakan keanehan padapengemudi mobil di belkangnya yang sepertinya bukan anggota mereka.
"Bos sepertinya kita di ikuti," kata Dante dengan tenang.
Xavier yang sedang menutup mata langsung membuka matanya melirik kaca spion dengan tenang. Matanya menajam melihat 3 buah mobil yang sedang berusaha mengejarnya dari belakang. Tatapan Xavier menajam bersamaan dengan sebuah senyum miring tercetak di wajah sang Bos.
"Dante cari t3empat yang sepi!" perintah Xavier dengan senyum dingin.
__ADS_1
"Baik Bos,"
Brummm
Dante dengan kuat menekan pegal gas hingga mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju tempat sepi. Mobil di belakang sana juga dengan cepat mengejar mobil Dante hingga beberapa menit kemudian Dante dengn sengaja menunggu mobi-mobil itu di tengah jalan.
Ckittttt
Suara ban mobil-mobil ituy yang bergesekan dengan aspal. Melihat itu Xavier dan Dante dengan segera keluar dari mobil lengkap dengan pistol di tangan mereka.
"Ahh rupanya Tuan Ryuga tidak sabar hingga berani mengirimkan kecoak-kecoak seperti ini," hina Dante yang mengenai sasarann jika itu memang anak buah dari Tuan Ryuga.
"Jangan menghina Tuan kami! Hari ini kalian akan menjemput ajal kalian masing-masing!"
Dor
Brukk
"Kau...," mereka menatap Xavier yang baru saja membunuh satu rekan mereka.
"Aku tidak suka banyak bicara tapi jika aku bilang mati maka kalian harus mati!" desis Xavier menatap tajam sekumpulan orang-orang itu.
"Bukan kami yang mati tapi kamu dan anak buahmu!"
Dor
Dor
Dor
__ADS_1