Love Story Queen Athena

Love Story Queen Athena
`Bab 98


__ADS_3

Amora dengan langkah ringan masuk ke dalam konter leptop. Sampai di dalam Amora langsung mencari model dan warna seperti apa yang di inginkan oleh Amora.


"Apa tidak ada warna lain?" tanya Amora kepada penjaga konter itu.


Bagaimana tidak saat ini leptop yang berbaris di depannya itu hanya leptop yang memiliki warna membuat mata Amora sakit. Warnanya tak lain ada pink, biru, dan beberapa warnajreng lainnya.


"Nona mencarinya seperti apa biar kami carikan lagi?" tanya sang penjaga konter.


"Saya mau yang warna hitam terserah model apa yang penting hitam," kata Amora dengan datar.


"Baik Nona akan kami carikan," beberapa pelayan segera berjalan mencarikan seperti apa yang di inginkan Amora.


Beberapa saat kemudian terlihat beberapa orang yang membawa leptop di tangan mereka masing-masing. Amora menatap leptop di depannya itu dengan serius hingga pilihannya jatuh pada leptop yang paling hitam dan tentunya harganya tak main-main.


Setelah menyelesaikan acara pembayarannya Amoa langsung berbalik pergi dari konter itu. Saat di parkiran Amora langsung menaiki motor besarnya lalu bergegas pergi. Ngomong-ngomong Amora sudah melepaskan penyamarannya karena walaupun anak buah Kaisar menemukannya mereka tidak akan menangkapnya karena Kaisar dan Kenzo sudah berjanji akan membiar Amora menghadapi hari-harinya seperti apa yang di inginkannya.


Amora menjalankan motornya dengan kecepatan rata-rata hingga tak jauh dari konter Amora menyunggingkan senyum licik saat merasakan pergerakan dari orang-orang di belakangnya.


"Sudah ku duga, tapi apa kalian pikir dengan jarak sejauh itu aku tidak akan merasakan kalian? Cih bahkan di saat umur yang harusnya bermain malah ami sudah di ajarkan cara bertarung dan bertahan dalam suasana yang mematikan. Klaian mungkin terlatih tapi aku juga terlatih," kataAmora dalam hari.


Amora menjalankan motornya dengann kecepatan tinggi menyelinap beberapa pengendara lain membuat para pengendara lain mengumpat dan memakinya namun apa Amora peduli maka jawabannya sama sekali tidak. Tak ahnya itu akibat dari aksi ugal-ugalan Amora membuat kemacetan mendadak.


"He ingin mengejarku bermimpilah," sinis Amora yang menatap ke arah belakang yang telah terjadi ke macetan.


Sedangkan di tempat lain lagi lagi Xavier mengamuk mendengar kabar jika anak buahnya kehilangan jejak Amora.


"DASAR BODOH BAGAIMANA BISA KEHILANGAN JEJAK DIA HANYA SEORANG GADIS BAGAIMANA KALIAN TIDAK BISA MENGEJARNYA...!" Xavier membentak orang yang berada di sebrang sana.


"AKU TIDAK AMU TAHU CARI KEBERADAANNYA SAMPAI DAPAT JIKA TIDAK MAKA AKAN AKU BUNUH KELUARGA KALIAN SEMUA...!"


Tut

__ADS_1


Selesai marah-marah dan membentak anak buahnya Xavier langsung mematikan ponselnya menendang meja untuk melampiaskan amarahnya.


"Dasar bodoh, menangkap seorang gadis saja tidak bisa," ummpat Xavier yang mengumpati anak buahnya yang sangat bodoh.


"DANTE...!" Xavier berteriak memanggil Dante dengan suara yang lantang.


"Iya Bos,"


"Kerahkan lebih banyak pasukan untuk mencari Amora. Gadis itu lolos dari pengawasan anak buah kita," perintah Xavier yang tanpa melihat ke arah Dante.


Dante yang mendengarnya hanya terdiam dengan memijit pelipisnya karena ulagh dari sang Bos yang semakin menjadi-jadi. Dante tidak tahu harus berbuat apa karena kini tempramental sang Bos kembali lagi semenjak AMora pergi dari sisi sang Bos.


"Bos lebih baik saat ini Bos lebih fokus mengurus perusahaan ini dulu faripada mengurus Nona AMora. Saat ini kita sering kali mengalami kerugian besar karena masalah Nona Amora. Harusnya Bos bisa mengesampingkan Nona Amora," terang Dante dengan suara yang frutasinya.


Bugh


Sebuah puikulan mendarat sempurna di rahang Dante yang membuat pria itu langsung mundur beberapa langkah dari pijakan awalnya. Tentu saja pukulan itu berasal dari Xavier yang tidak setuju dengan apa tyang di katakan oleh Dante.


Dante yang mendengarnya langsung tertunduk dengan wajah datar dan tangan yang mengepal kuat menahan amarah dalam dirinya. Dante sangat ingin membalas tapi disini dia hanya seorang bawahan yang bahkan ucapannya tak di dengar sama sekali.


"Aku tidak akan melepaskan seseorang yang sudh menarik perhatianku sedari awal," desis Xavier yang menahan amarah agar tidak lagi memukul Dante.


"Tapi Bos perusahaan semakin mengalami kerugian karena Bos yang selalu sibuk mengurus NOna Amora,"


"DIAM....! KAMU HANYA SEORANG BAWAHAN JANGAN MENASEHATIKU..!" bentak Xavier kepada Dante.


"Maaf Bos,"


Tak ada yang lain bisa Dante lakukan selain mengikuti apa mau Xavier sang Bos katakan. Dante hanya bisa menahan semuanya dari dalam hati karena saat ini dia bukan siapa-siapa bahkan dirinya menjadi pesuruh untuk Xavier.


"Silahkan keluar dan kerahkan anak buah kita untuk mencari keberadaan Amora aku tidak mau tahu cari sampai ketemu. Jika dia ke bandara maka tangkap saja jika dia hanya berjalan-jalan biarkan saja," kata Xavier yang melambaikan tangannya sebagai tanda mengusir Dante keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Baik Bos,"


Dante keluar dari ruangan Xavier dengan wajah yang memerah menahan amarah dan kekesalan yang sudah berada di ujung tanduk. Dante ingin sekali melawan tapi dia sadar ini belum saatnya.


Bugh


Sampai di ruangannya Dante langsung memukul tembok dengan kuat menggunakan tangannya hingga tangannya kini berdarah. Ucapan penghinaan Xavier yang di lontarkan untuknya berputar-putar di kepalanya membuat Dante rasanya ingin berteriak.


"Kenapa Nona AMora harus hadir dan memperburuk semuanya. Nona Amora ebnar-benar petakan dan juga sesuatu yang harus segera di singkirkan. Kenapa juga Tuan harus tertarik dengan gadis seperti itu? Sekarang keselamatan gadis itu terancam parah. Jika aku menuruti keinginan Bos Xavier maka ada kemungkinan Nona Amora akan tertangkap dan itu tidak boleh terjadi. Namun jika aku diam maka pergerakanku juga akan di curigain oleh Bos Xavier. Sial semua benar-benar rumit sekarang, aku tak punya pilihan lain selain menurut saja,"


Dengan segera Dante merogoh sakunya lalu mengotak-atik benda persegi panjang itu. Menempelkannya pada telinganya hingga terdengar suara seseoranmg yang berada di sebrang sana.


"Apa sudah ada kabar dari dia?" tanya Dante dengan datar.


"Belum, aku tidak mendapatkan kabar apapun tentang dia. Hanya saja beberapa hari lalu mereka memberiku sebuah peringatan untuk berhati-hati dengan keadaan sekitar," jawab di sebrang sana.


Dante yang mendengarnya juga hanya bisa menarik napas dalam-dalam memikirkan langkah apa yang harus dia ambil.


"Aku juga mendapatkannya beberapa hari lalu saat aku meminta tolong untuk menjaga seseorang," kata Dante dengan datar.


"Apa semua baik-baik saja?" tanya orang di sebrang sana.


"Tidak keadaan semakin darurat Bos Xavier sangat terobsesi dengan Nona Amora. Tadinya aku berfikir Bos Xavier benar-benar mencintai Nona Amora namun semakin kesini aku semakin menyadari jika Bos Xavier hanya terobsesi dengan Nona Amora," terang Dante dengan memijit pelipisnya yang ikut pusing.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?"


"Apa lagi tentu saja menuruti apa maunya..! Andaikan dia sudah bangun aku ingin sekali menghajarnya kesabaranku rasanya mulai menipis. Keadaan perusahaan semakin buruk dengan beberapa kerugian besar yang berawal dari Bos Xavier yang dengan sepihak membatalkan kerja sama,"


"Mau bagaimana lagi kita hanya bisa dalam posisi bertahan untuk saat ini. Tuan belum bangun jadi kita tidak bisa bertindak semau kita,"


"Sampai kapan kita akan diam seperti ini? Kita sudah bertahun-tahun menunggu Tuan bangun dan sudah bertahun-tahun pula kita menerima penghinaan ini,"

__ADS_1


__ADS_2