
Sinar mentari pagi membangunkan sosok gadis cantik yang tertidur di sebuah ranjang sederhana dengan kasur yang seadanya. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Amora yang baru saja bangun tidurnya. Tanpa memperdulikan penampilannya gadis itu langsung turun dari ranjang berjalan memasuki kamar mandi. Membasuh mukanya dengan air lalui kembali keluar dari kamar mandi berjalan keluar dari kamarnya.
Ternyata Amora menuju dapur gadis itu hanya menggoreng telur mata sapi dengan beberapa sayuran kecil lainnya sebagai pelengkap. Amora duduk di meja makan yang begitu kecil dan mulai memakan sarapannya dengan lahap.
Dulu Amora akan makan dengan berbagai menu makanan seperti berada di restoran mewah yang di sajikan segala jenis makanan enak. Namun, kali ini Amora hanya bisa makan nasi dan juga telur dengan beberapa sayuran yang ia olah sendiri.
Walau begitu Amora tetap menikmatinya dengan penuh rasa syukur. Sejak kecil Alisya selaku sang ibu selalu mengajari mereka untuk berhemat dan memakan makanan apapun tanpa memilih-memilih. Karena keadaan bisa berubah tiba-tiba dari yang kaya menjadi miskin begitu pula dari yang miskin menjadi kaya.
“Saatnya cuci piring,” guman Amora yang langsung berdiri mengambil piring bekas habis makannya lalu membawanya dan mencucinya.
Amora menyelesaikan cepat urusannya lalu berjalan cepat ke kamarnya mandi dan memakai pakaiannya yang formal untuk kerja. Setelah beberapa menit kemudian terlihat Amora yang keluar dari kamarnya dengan setelan formal yang pas di tubuhnya. Sayang sekali walau anak buah sang ayah ataupun Kaisar berpapasan dengannya tak akan menutup kemungkinan jika mereka tidak mengenalinyanya.
Rambut kepang dua kiri kanan, tompel di pipi kiri yang begitu besar, wajah yang di kusamkan, dan di tambah dengan gigi palsu yang maju ke depan.
Jadi para readerku tercinta silahkan bayangkan bagaimana norak dan berantakannya dandanan dari seorang Queenzi Athena.
Amora tidak memperdulikan penampilannya segera berjalan keluar dari rumah sewanya itu dengan langkah ringan menuju jalan raya menunggu taksi yang lewat. Di samping jalan banyak beberapa pria yang biasanya menggoda gadis atau wanita muda lewat. Namun, saat Amora lewat jangankan mengkode mereka semua langsung lari lontang lanting kesana kemari. Seperti sekarang masih jauh-jauh Amora sudah melihat mereka berada di sempangan.
“Wahhh belum tobat juga mereka ternyata,” guman Amora yang tersenyum miring mempercepat langkahnya menuju kumpulan para preman itu.
“Hey tamvan, antar aku kerja yo.”
__ADS_1
“AAAAAA DASAR GILA!”
Para preman langsung kocar kacir menghindar dari Amora yang hanya berdiri kaku menatap mereka semua yang berlari kesana kemari.
“Kok malah kabur sih? Padahal aku benar-benar butuh tumpangan juga.” Gerutu Amora yang kesal karena ia tidak memiliki kendaraan untuk ke kantor.
Namun, wajah masam Amora langsung berganti dengan sumringah sangat matanya melihat sebuah sepeda motor matic yang terparkir lengkap dengan kuncinya.
“Om preman, motornya aku pinjam ya.” Izin Amora pada pemilik motor yang entah brada di mana.
Dengan santai Amora segera menaiki motor itu melajukannya menuju ke perusahaan ia bekerja. Setelah berkendara beberapa menit akhirnya Amora sampai di lobby perusahaan Argantara Company.
Dengan langkah penuh percaya diri Amora segera masuk ke dalam perusahaan tanpa memperdulikan adanya tatapan hina dan juga bisikan-bisikan yang menjatuhkannya.
“Kau benar, apa yang menarik dari gadi sampah itu? Dandanan yang sangat jelek dan memalukan. Belum lagi dengan wajahnya yang sangat buruk rupa itu.”
“Entah kenapa perusahaan sebesar ini menerima sampah sepertinya?”
“Apa kalian mau di pecat?”
Suara bariton yang berasal dari belakang mereka membuat semuanya menoleh ke arah asal suara. Namun, mata mereka langsung membulat sempurna saat menyadari jika orang yang baru saja bicara adalah orang nomor 2 di perusahaan itu.
__ADS_1
“Selamat pagi Tuan Dante, Selamat pagi Tuan Xavier.” Mereka segera menundukan kepala dalam-dalam saat menyadari jika tatapan dari bos mereka begitu tajam.
“Apa kami menggaji kalian hanya karena untuk bergosip? Kami menggaji kalian untuk bekerja. Jika kalian ingin menggosip maka segera kirim surat pengunduran diri kalian di HDR atau perlu kami memecat kalian dengan tidak hormat baru bisa mengerti.” Gertak Dante.
“Maafkan kami Tuan, mohon jangan pecat kami.” Semuanya langsung berlutut kepada Dante yang sudah berwajah datar dan dingin.
“Dan kamu…,” Dante menunjuk wanita yang menghina Amora dengan kata-katanya yang kasarnya seperti dan juga meragukan perusahaan Argantara Company dalam merekrut karyawan.
“Dia memang tidak cantik dan dandanan dia yang seperti gembel. Dia memang tidak menarik dari segi fisik tapi dia mempunyai otak yang cemerlang tidak seperti kamu hanya otak pas-pasan.” Dante berbicara dengan nada pedas dan juga menyenggol hati.
“Kerja yang benar jika tidak…, kalian semua aku pecat!” Dante menekan kata-katanya membuat orang-orang itu mulai bergetar ketakutan.
Setelah berkata seperti itu Dante langsung berjalan pergi meninggalkan kerumunan karyawan yang sedang berlutut. Dante segera naik ke lift menggunakan lift khusus untuk dirinya dengan Xavier dan juga Amora yang sekarang sudah menjadi sekretaris dari Tuan Xavier.
Tanpa Dante ketahui jika Amora mendengar dan menyaksikan dirinya yang membelanya di hadapan para karyawan kantor lainnya.
“Terima kasih, setidaknya disini aku juga menemukan jika masih ada orang yang tulus tidak menilai dari penampilan.” Ucap Amora pelan yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.
Amora segera berbalik menuju lift masuk dan menekan lantai atas tempat ruangannya berada.
Ting
__ADS_1
Amora langsung keluar dari lift menuju ruangannya. Sampai di ruangannya Amora langsung menyimpan tasnya dan kembali keluar menuju pantry untuk membuatkan kopi Xavier dan Dante karena itu ada di jadwal pekerjaannya.