Love Story Queen Athena

Love Story Queen Athena
bab 20


__ADS_3

“SEkretaris Amora, jika masih berisik juga gajimu akan saya potong.”


“Bak Tuan saya diam.” Jawab Amora yang langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


Ting


Amora langsung berjalan cepat keluar dari lift menunggu Tuan Xavier dan juga Tuan Dante keluar dan berjalan di belakang mereka berdua.


“Sekretaris Amora ikut ke ruangan saya!” Xavier segera berjalan menuju ruangannya di ikuti dengan Amora di belakangnya.


Amora yang mendapat perintah dati sang bos hanya bisa menurut berjalan mengikuti langkah Xavier. Sebenarnya Amora sangat penasaran untuk apa dirinya di panggil ke ruangan bos.


Sampai di dalam Xavier langsung duduk di kursi kebesarannya begitu saja tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Sebenarnya apa yang aku lakukan? Kenapa aku sampai membawa gadis ini ke ruanganku? Lalu sekarang aku harus melakukan apa?" batin Xavier yang bertanya-tanya.


Xavier bahkan tidak sadar dengan apa yang di lakukan oleh dirinya sendiri. Jujur saja Xavier sangat kesal Amora begitu leluasa berbicara dengan Dante sedangkan dengan dirinya gadis itu hanya akan diam seperti sekarang.


Sedangkan di sisi Amora gadis itu sebenarnya ingin sekali membuka mulutnya. Sudah hampir 20 menit dirinya di dalam ruangan dengan satu ruangan bersama sang bos. Lebih menyebalkan lagi bosnya itu tidak bersuara dan yang membuat Amora bertambah kesal adalah Xavier yang sama sekali menyuruhnya untuk duduk.


"Sebenarnya ada apa Tuan Xavier memanggilku kemari? Apa aku akan di pecat? Tapi aku baru kerja beberapa minggu dan belum cukup 1 bulan. Apa gajiku bisa di ambil?"


Amora hanya bisa menerka-nerka dalam hati entah kesalahan apa yang dia buat. Hingga sampai di suruh masuk ke dalam ruangan yang jelas-jelas ada orangnya tapi bagi Amora ruangan itu sama saja dengan tidak ada orangnya.


Cukup...

__ADS_1


Amora bukanlah wanita yang akan diam saja tanpa melakukan apapun. Amora merupakan gadis yang sangat aktif dan tentunya tidak akan pernah diam.


"Tuan, sebenarnya ada apa Tuan memanggil saya kemari? Saya sudah berdiri kaku disini selama hampir 30 menit. Akan tetapi, anda sama sekali tidak mengeluarkan satu kata pun." Ucap Amora dengan kesal menatap langsung Xavier tanpa adanya ketakutan sama sekali.


"Kauu..., keluar!"


"Permisi Tuan," Amora langsung berbalik keluar seperti biasa gadis itu tak pernah memberi penghormatan kepada Xavier.


Dengan langkah lebar Amora berjalan ke arah ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan Xavier. Amora membuka pintu ruangannya lalu menutupnya dengan agak kencang.


"Bos edan, tau gitu tadi aku nolak saja kagak masuk ke dalam ruangan itu. Enak banget tuh bos suruh aku berdiri diam ke patung, kaki sudah mati rasa dan keram, eh tidak tahunya seenak jidat main suruh keluar saja. Tahu gitu aku tidak akan mau masuk ke dalam sana." Amora menggerutu dengan kesal lantaran merasa di permainkan oleh Xavier.


Sedangkan di ruangan lain Xavier dengan kesal meremas rambutnya sendiri. Pria itu ingin berbicara lembut kepada Amora namun yang keluar hanyalah suara datar dan dingin.


"Bodoh," umpat Xavier yang memukul kepalanya dengan pelan.


"Dear, cepatlah muncul. Jika kamu terus bersembunyi aku takut aku tidak bisa menjaga perasaanku lebih lama padamu. Aku harap aku segera menemukanmu, Dear." ucap Xavier dengan menatap lembut dan juga dalam belati yang berada di genggamannya itu.


Xavier tidak tahu entah kenapa hari-harinya mulai terusik dengan hadirnya Amora dalam hidupnya dan kesehariannya. Xavier tidak tahu harus bagaimana saat mulutnya mengatakan tidak namun hatinya justru semakin berkembang. Walaupun buta akan cinta dan tak pernah menjalin hubungan sebelumnya Xavier bukanlah pria bodoh yang tidak bisa mengetahui rasa apa yang dia alami.


"****, apa yang menarik dari gadis gembel itu hingga aku begitu tertarik kepadanya? Dia biasa saja namun, kenapa aku selalu menatapnya dengan tatapan lain. Orang-orang melihatnya jelek dan juga kampungan tapi kenapa di mataku dia terlihat cantik dan manis? Apa aku benar-benar sudah gila? Haruskah aku memanggil psikiater?"


Xavier benar-benar terlihat berantakan dan juga wajahnya kusut, masam dan di tekuk sedemikian rupa.


Tak tahan menahan kekesalannya Xavier langsung merogoh saku celananya mencari ponselnya. Xavier dengan gerakan cepat langsung mengotak atik benda persegi itu.

__ADS_1


"Hallo"


"Ke ruanganku sekarang juga!" Perintah Xavier yang langsung mematikan sambungan ponselnya.


"Astaga...! Apa aku membuat kesalahan? Kenapa Bos seperti terdengar frutasi dan juga kesal?"


Dante dengan langkah lebar berjalan keluar dari ruangannya menuju ruangan sang bos yang hanya berjarak beberapa langkah saja. Akan tetapi, walaupun dekat entah kenapa Dante merasa akan sangat jauh.


Ceklek


"Tuan..!" Dante masuk ke dalam ruangan Xavier dengan napas yang ngos-ngosan dan mmburu.


Xavier yang melihat Dante ngos-ngosan hanya bisa mengerutkan dahi. Apakah jarak ruangan mereka begitu jauh hingga bawahannya itu terlihat sangat capek.


Sedangkan Dante juga melakukan hal yang sama menatap bingung ke arah Xavier. Sejak kapan bos nya itu memiliki dandanan hancur seperti orang yang baru saja di tolak. Namun, tiba-tiba mata Dante langsung membulat mengingat jika A,ora juga masuk ke dalam ruangan sang bos tadi.


"Apa bos Xavier baru saja di tolak oleh sekretaris Amora?" guman Dante dalam hati yang menerka-nerka jika sang bos baru saja di tolak.


"Bagaimana penyelidikanmu tentang gadis waktu itu?" Tanya Xavier langsung pada intinya menatap tajam Dante.


Glek


Dante yang mendengar itu langsung menelan ludah dengan kasar. Apa yang harus di katakannya kepada sang bos jika sampai saat ini mereka belum menemukan hal apapun mengenai gadis yang di maksud dan yang terus di cari oleh bos nya itu.


"Maaf Bos tap..., semua tetap sama tidak ada hasil apapun. Beberapa anggota kita sudah menyelusuri negara ini tapi mereka tidak menemukan jejak apapun."

__ADS_1


Deg


__ADS_2