Love Story Queen Athena

Love Story Queen Athena
bab 67


__ADS_3

"Nona AMora,"


"Sssst diamlah, sekarang aku ingin bermain." bisik Amora yang menepuk bahu Dante.


Amora turun dari motornya lalu berjalan ke arah orang-orang itu namun sebuah tangan kekar menarik pinggangnya.


Sretttt


"Apa yang kamu lakukan Dear?" Xavier memeluk pinggang Amora yang masih menggunakan helm.


"Amora siapa?" tanya Amora yang pura-pura.


"Jangan berpura-pura lagi Dear, aku tahu itu kamu." bisik Xavier.


"Aish sudahlah aku memang Amora tapi biarkan aku bermain." Kata Amora yang melepaskan pelukan tangan Xavier di pinggangnya.


"NO," Xavier semakin memeluk pinggang Amora. "Kamu diam disini."


"Nggak mau, lepasin atau aku congkel matamu!" ancam Amora yang menunjukan mata belatinya.


Xavier yang melihat belati itu lagi lagi tertegun karena belati itu sangat sama persisi seperti yang ada padanya. Namun Xavier tdak bisa menebak secara gamblang jika itu adalah orang yang sama.


"Baiklah, tapi ingat jangan sampai terluka apalagi terkena peluru mereka." Pesan Xavier dengan serius.


"Emang kenapa?" tanya Amora yang belum mengerti dan tahu jika peluru musuh menggunkan Racun.


"Peluru mereka racun anggotaku tewas di tempat tidak sampai 5 menit," ucap Xavier datar dengan auara dingin yang membunuh kuat.


"Cih dasar curang, akan aku cabik-cabik mereka mereka semua." Kata Amora yang memainkan belati di tangannya.


Amora sangat tidak menyukai seseorang yang bertarung menggunakan racun. Walaupun memang di dalam perang segala cara bukan curang tapi strategi tapi tetap saja Amora tidak menyukainya. Amora menunduk lalu menekan sebuah jam tangan di pergelangan tangannya.


"A01 bersiap!"


Dor


Xavier membelalakan mata saat Amora dengan lihainya menembak mereka satu persatu. Bahkan gadis itu tanpa rasa takut sama sekali maju di gardang paling depan lalu mulai menembak musuh dengan brutal.


"Gadis itu, Dante lindungi kami. Bunuh siapa saja yang mendekat terutama orang yang ingin membuat Amora terluka." Titah Xavier yang memberikan sebuah sebuah senjata laras panjang pada Dante.


Perlu di ketahui Dante adalah penembak jitu yang di beri julukan dengan mata angin. Selama sudah menargetkan musuh tak akan ada yang selamat dari peluru pria mata angin itu. Bahkan jika sasaran target berada di dalam kereta sekalipun.

__ADS_1


"Baik Bos," Dante segera mengambil senapan itu lalu mencari tempat yang aman agar bisa membuat dia leluasa menembak.


Xavier yang melihat Amora mulai terdesak segera berlari menerjang hujaman peluru yang di tujuhkan padanya dan juga Amora. Sampai di dekat Amora Xavier segera meraih pinggang gadis itu lalu mulai menembak musuh.


"A01 SEKARANG!" teriak Amora yang membuat pertarungan berhenti karena teriakan Amora yang terkesan membuat.


Sretttt


Amora membuka helmnya hingga terpampang jelas sebuah wajah yang begitu cantik dengan kulit putih seperti porselin indah yang di rawat begitu indah.


"Nona cantik apa yang kamu panggil? Semua jalan yang menuju ke daerah ini telah anggotaku bereskan. Kalin berdua tidak akan selamat tapi jika kamu mau melayani kami selama seminggu kami akan membebaskanmu cantik," ucap orang itu dengan tatapan menggoda kepada Amora.


"Kalian...,"


"Diamlah Tuan Xavier karena sebentar lagi kamu akan segera mati,"


"Yah itu benar dan nona cantik ini akan menjadi mainan kami,"


HAHAHA


Jleb


Jleb


Jleb


Mereka yang tadinya tertawa lamngsung terdiam dengan memasang siaga namun apa daya telah terlambat puluhan anggota orang itu terbunuh sia-siang dengan sebuah belati yang terus menancap di dada mereka.


"SIAPA YANG BERANI MENYERANG KAMI!"


"Kenapa? Takut ya? Sayangnya kalian telah mengusik orang yang salajh." Sinis Amora yang sangat marah karena orang-orang itu memnghinanya dengan ingin menjadikan dirinya sebagai mainan mereka.


"Nona!" Xavier dan AMora langsung menatap asal suara saat mendengar seseorang memanggil nama Amora.


"Ini Nona," Seorang wanita datang dan memberikan sebuah katana panjang kepada Amora.


Amora yang melihat benda kesayangannya itu langsung tersenyum senang. Amora dengan senang hati mengambil pedang yang sudah di cabut dari sarungnya itu.


"Hey black lama tidak berjumpa, sekarang saatnya kita bermain."Smirk Amora dengan senyum miring yang sanagt menyeramkan.


"Ternyata aku tidak salah memilih wanita," guman Xavier dalam hati menatap Amora dengan tatapan bangga karena wanitanya bukan wanita yang mudah di tindas oleh orang lain./

__ADS_1


Tak ingin ketinggalan Xavier segera mengeluarkan dua pistol emas dari saku jasnya. Sekarang Xvier tidak lagi ragu untuk menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Amora. Toh juga hasilnya sama juga jika Amora sudah mengetahuinya jika dia adalah seorang mafia.


"Siapa bermain Dear?" bisik Xavier dengan tak lupa mengecup sisi kanan leher Amora.


"Aku rasa pertarungan kali ini akan terasa lebih bergairah karena kekuatan mereka cukup kuat." bisik Amora yang menatap musuhnya yang sekarang sisa 20-25 orang saja.


"Wanita sundal beraninya kamu membuat anak buahku tewas!" bentak seoorang pria gondrong yang di duga sebagai pemimpin komplotan ini untuk menyerang.


"Ck ck ck sadar diri itu perlu Bos, kalian yang lebih dulu menggunan cara curang terhadap kedua kurcaci ini. Walaupun dalam perang di perlukan segal;a cara tapi bukan berarti kalian harus semena-mena juga. Sekarang anak buahmu mati lalu kamu marah, menurutku anda kurang waras." Kata Amora dengan nada ejekan.


"Wanita sialan ku bunuh kau!"


Dor


Trang


Peluru yang di tujuhkan kepada Amora langsung di halangi wanita puicat di samping Amora menggunakan pedangnya hingga peluru itu meleset tidak mengenai Amora.


"Kau...,"


"Berani melukai nonaku maka kematian adalah bayarannya," desis wanita itu yang langsung meleset ke arah pria itu.


Trang


Dor


Perkelahian kembali terjadi kali ini Xavier tidak lagi menahan diri karena ada Amora. Xavier dengan brutalnya menembak musuh di titik vital mereka hingga satu kali tembakan mereka langsung tak berdaya. Sedangkan Amora gadis itu seperti burung yang terus terbang meliuk-liukan tubuhnya dengan mata katana ayng terus menyabet musuh.


Sret


"AAAAAAA TANGANKU...!"


Semuanya langsung menoleh ke arah asal suara dan mereka semua membelalakan mata melihat teman mereka sudah kehilangan kedua tangannya.


SRETT SERETT


Hanya dua kali tebasan kedua kaki pria itu langsung terpotong dengan pahanya. Percikan darah telah menodai wajahnya namun Amora tidak peduli akan hal itu dan terus mencincang tubuh pria itu hinggga nyawanya di cabut secara paksa.


"MUNDUR...!"


"Sayangnya itu tidak akan terjadi,"

__ADS_1


__ADS_2