
“Dante panggil mereka semua…!”
“Baik Tuan,”
Dante langsung berbalik pergi menuju ke tempat para koki itu. Dante hanya bisa geleng-geleng kepala karena sikap kurang ajar para koki itu pada Athena. Dia yang bahkan orang kepercayaan Xavier saja takut sama Athena apalagi mereka yang hanya seperti kecoa saja tapi sudah sangat berani menyinggung seorang Athena.
“Punya nyawa berapa mereka hingga dengan berani menyinggung Nona Athena. Hanya dari hukuman Tuan Xavier mereka sudah tidak bisa selamat apalagi jika hukuman dari keluarga Nona Athena bahkan jika kamu markas ini bisa mereka sapu rata,” kata Dante dalam hati.
Setelah beberapa saat berjalan akhirnya Dante sampai di lokasi tempat para koki dan juga para pelayan. Terlihat jika para pelayan dan koki sedang beristirahat karena ini memang jam istirahat mereka dimana mereka bisa beristirahat tenang.
“Apa kalian merasa nyaman dengan semua ini?”
Suara datar dan juga dingin milik Dante membuat mereka semua langsung menoleh ke arah asal suara. Saat melihat siapa yang datang mereka semua langsung berdiri lalu membungkuk memberi hormat pada Dante.
“Tuan..,”
“Kalian para koki ikut saya…!” ucap Dante dengan datar penuh penekanan setiap katanya.
“Baik Tuan,”
Sekitar 10 orang mulai berdiri lalu mengikuti langkah Dante. Mereka semua sebenarnya sangat bingung kenapa mereka di suruh untuk mengikuti Dante. Namun saat melihat ruangan apa yang mereka tujuh sontak membuat mereka semua kaget bukan main. Badan mereka mulai bergetar ketakutan hingga berhenti berjalan.
“Kenapa berhenti? Cepat ikut…! ATa saya paksa?”
“Baik Tuan,”
Walau dengan regu mereka mulai mengikuti kembali langkah kaki Dante hingga mereka di masukan ke dalam ruangan yang sangat mereka takuti yaitu ruangan penyiksaan.
Dante yang melihat mereka bergetar ketakutan hanya bisa tersenyum miring dengan tatapan yang mengejek.
“Kenapa bergetar? Takut? Apa kalian melakukan kesalahan?” Dante bertanya dengan nada sinis tak bersahabat.
“Ti…tidak Tuan ka..kami tidak melakukan kesalahan apapun,” kata kepala koki.
“Kalian yakin?”
“Ya..yakin Tuan,” jawab mereka serentak.
Dante yang mendengar rasa percaya diri mereke rasanya tangannya sangat gatal ingin menembaki mereka satu persatu hingga mati. Mereka dengan rasa percaya diri mereka tidak mengetahui apa kesalahan mereka.
“Lihat saja apa yang akan terjadi pada kalian semua karena sudah berani mengganggu kesayangan Tuan Xavier. Kalian pikir kalian itu penting? Kalian salah bahkan sehelai rambut kesayangan Tuan Xavier lebih berharga daripada nyawa kalian jadi terima saja nasib buruk yang menimpah kalian semua,” ucap Dante dengan sinis yang langsung keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Sampai di luar Dante langsung mengunci pintu itu dengan gembok lalu berlalu pergi tanpa peduli teriakan lagi orang-orang yang menurutnya snagat menyebalkan itu.
“Sudah tahu salah bukannya minta maaf ini malah buat masalah baru. Mereka dengan enteng bilang tidak melakukan kesalhan. Lalu menghina Nona Athena bukan kesalahan begitu? Entah siapa biang kerok masalah ini? Aku hanya berharap orang itu segera pergi jika tidak maka nasib buruk benar-benar akan menghampirinya,” gerutu Dante dengan kesal.
Dante yakin pasti ada dalang dari semua ini karena tidak mungkin orang-orang itu berani membantah. Pasti ada yang mendorong mereka untuk melawan Athena dan hal itu harus Dante cari tahu jika tidak ingin di mutilasi oleh Xavier.
Di sisi lain Xavier dengan tenang menyuapi Athena di ruang tamu tanpa peduli pada banyak orang yang melihatnya. Bagi Xavier di depan matanya hanya ada Athena.
“Pelan-pelan kunyah-nya Babe, ini masih panas,” ucap Xavier yang meniup-niup daging yang telah ia potong-potong itu.
“Ck ini juga gara-gara kamu. Masa markas sebesar ini tidak ada kokinya mana tidak ada makanan sama sekali lagi,” gerutu Athena yang sedang mengunyah makanannya.
“Sial, wanitaku sampai kelaparan gara-gara para keco itu,” umpat Xavier dalam hati yang masih lanjut menyuapi makanan ke mulut sang kekasih.
“Seumur-umur nggak pernah tuh aku kelaparan kek gini walau jauh dari Daddy. Walau aku jauh aku tetap makan tepat waktu dan nggak harus kelaparan seperti seorang pengemis,” kesal Athena lagi.
Deg
Xavier yang mendengar curhatan Athena langsung tertegun dengan menatap sendu Athena, Xavier lupa jika Athena adalah matahari di keluarganya. Gadis itu di perlakukan layaknya ratu dan selalu di prioritaskan sedangkan bersamanya malah seperti ini. Kemarahan Xavier semkakin bertambah saat mendengar keluhan sang kekasih hatinya.
Sedangkan Athena gadis itu diam-diam menyunggingkan senyum miring di bibirnya yang cantik. Bibirnya tersenyum manis namun matanya menatap tajam setajam silet. Gadis itu sengaja mengeluarkan kata-kata seperti itu agar Xavier semakin marah. Athena sengaja melakukan itu karena dia akan membalas orang yang sudah menghinanya tadi. Bahkan Rania yang melihat kelakuan dari adik ketuanya itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Aku hanya berdoa Nona muda tidak menggila di markas ini,” kata Rania dalam hati.
Xavier menyuapi Athena dengan tangan yang gemetar bukan gemetar ketakutan tapi gemetar menahan amarah.
“Jika aku tahu akan seperti ini aku akan membawa Athena ikut bersamaku di kantor saja. Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kecoa yang menyakiti wanitaku,” batin Xavier dengan amarah yang menggebu-gebu.
Setelah beberapa saat akhirnya Athena menyelesaikan acara makannya. Xavier dengan sigap langsung mengambilkan air minum untuk sang kekasih.
“Babe kamu tunggu disini sebentar ya?” Xavier mengecup kening Athena lalu berdiri ingin pergi namun di hentikan oleh Athena.
“Tunggu…!” Athena berdiri dengan memeluk makanan ringan di tangannya.
“Ada apa Babe?” tanya Xavier yang menoleh ke arah Athena.
“Aku ikut…!”
“Tapi Babe?”
“Kamu ingin bermain tidak mau mengajakku?” kesal Athena.
__ADS_1
“Bermain apa Babe? Aku hanya…,”
“Hanya bunuh orang iya?”
Uhukk uhukkk
Xavier yang kehabisan kata-kata hanya bisa terbatuk-batuk saja. Bagaimana bisa Athena sama sekali tidak bisa di kibulin. Xavier sepertinya lupa jika keluarga Athena adalah seorang mafia.
“Ayo kesana…!” Athena langsung bergelanjut manja di lengan Xavier.
“Rania bawakan snackku..!” lanjut Athena dengan enteng pergi bersama dengan Xavier.
Rania yang melihat kelakuan bar-bar dari Athena hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi sifat yang kurang waras dari sang Nona muda.
“Entah apa yang Tuan Xavier lihat dari Nona Athena hingga bisa cinta mati pada Nona muda,” kata Rania dalam hati yang langsung mengikuti Athena dari belakang dengan memegang kresek makanan ringan Athena.
“Tuan itu Nona…,”
“Biarkan saja dia masuk ke dalam,” potong Xavier dengan tangan yang masih memegang tangan Athena.
“Baik Tuan,” Dante yang sedang menunggu sejak tadi langsung mundur lalu membukakan pintu ruangan itu.
Xavier masuk ke dalam ruangan itu di ikuti Athena yang menggandeng tangannya lalu di belakang mereka ada Rania juga Dante.
“Oh mereka toh, mereka buat dua wanita yang kamu suruh menjagaku tuh terluka loh. Itu yang si koki gendut itu menampar salah satu wanita tadi,” kata Athena yang langsung menunjuk kepala koki.
Sontak saja sang kepala koki langsung bergetar ketakutan. Sang kepala koki tidak menduga jika Athena akan dengan berani mengaduh pada Xavier. Bahkan sampai menatap dan menunjuknya dengan mudah.
“Nona saya…,”
“Dia juga mengusirku dari markas..! Katanya aku hanya wanita malam,” potong Athena dengan kesal.
PLAK
Sebuah tamparan mendarat sempurna di wajah kepala koki. Tamparan itu berasal dari Xavier yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya saat mendengar jika wanitanya di rendahkan seperti itu.
“BERANINYA KAU MENGHINA WANITAKU…!” bentak Xavier dengan suara yang keras membuat semuanya langsung berlutut ketakutan.
“Tu…Tuan sa..saya ha…hanya mengatakan yang se..sebenarnya. Bu…bukankah wanita ini yang na..naik di atas ra..ranjang Tuan?” kata sang kepala koki dengan berani.
Dugh
__ADS_1