
Waktu terus berjalan dari hari yang berganti malam dan malam yang berganti hari. Tak terasa perputaran waktu telah membuat Athena hidup di negara asing tanpa adanya sanak keluarga sudah 3 bulan lamanya.
Di bulan pertama dan keduanya hidup Amora begitu tenang dan damai tanpa adanya pergerakan yang mencurigakan. Dari pergi pagi hingga pulang larut malam begitu terus Amora menjalani harinya
Namun masuk di bulan ketiga Amora mulai waspada apalagi sering melihat pengawal atau anggota dari sang kakak yang berkeliaran di negara yang di tempati sekarang.
Sama seperti sekarang Amora yang niat hati ingin mencari angin segar karena hari libur atau weekend justru harus main kucing-kucingan dengan anak buah dari sang Kakak yang sedang berada di sekitar sana.
"Sial, kenapa orang-orang itu belum pergi juga sih? Tidak mungkin Kaisar bisa menemukan persembunyian ku secepat ini. Aku ini lebih pintar di banding otak boom nya itu." Guman Amora yang entah sedang memuji atau justru menghina sang Kakak yang merupakan saudara kembarnya sendiri.
Walaupun saat ini penampilannya berbeda tapi tetap saja Amora merasa was-was jika harus muncul di hadapan anak buah dari sang kakak ataupun dari sang Daddy. Karena Amora sadar jika anggota dari Mafia yang di pimpin oleh Kaisar merupakan anggota mafia yang sangat jeli dan tak akan pernah menyerah untuk terus mencari.
"Aku harus pergi dari sini, jika tidak tidak menutup kemungkinan mereka akan curiga."
Amora yang tak ingin tertangkap begitu cepat langsung pergi dari tempat itu dengan santai. Jika dia terburu-buru maka akan sangat bahaya karena dirinya akan langsung di curigai oleh anggota mafia sang Kakak.
Sedangkan di tempat lain Xavier dengan mati-matian bertarung melawan beberapa orang yang menyerangnya tiba-tiba.
"Untuk apa kalian menyerangku sialan…?" Xavier bertanya dengan amarah yang meluap-luap.
Xavier yang baru saja kembali dari villa miliknya langsung di cegat di tengah jalan oleh orang-orang yang tak di kenalnya. Lebih parahnya lagi Xavier merasa kecolongan karena tidak membawa apapun selain belati yang selalu di bawahnya sudah beberapa bulan ini.
Belati itu yang memiliki ukiran unik dengan ukiran naga yang mengelilingi Ukiran huruf Q.A.A.K yang merupakan belati yang di lemparkan seorang gadis beberapa bulan lalu. Belati itu tak lain dan tak bukan adalah belati milik dari Athena lebih tepatnya Queenzi Athena Amora Keano.
"Maaf dear, sepertinya aku harus mengotorimu." Bisik Xavier kepada belati itu.
"Cih…, berpura-pura tidak mengenal kami di saat kamu telah membuat markas gudang penyimpanan senjata kami kamu hanguskan." Bentak salah satu pria yang memiliki badan besar dan otot yang sangat kekar.
Mendengar bentakan pria kekar itu bukannya merasa takut dan cemas. Justru Xavier langsung tersenyum miring dengan senyum yangenyeramkan.
__ADS_1
"Genk Lion? Ternyata mereka." Smirk Xavier yang memainkan belati di tangannya.
"Tadinya aku hanya akan membalas seperti kalian melukai dan membunuh anggotaku. Akan tetapi, karena kalian yang mengantarkan nyawa kalian padaku maka dengan senang hati aku ladenin. Tak apa membunuh kalian karena kalian yang datang sendiri tanpa aku cari,."
Hiyaaaaa
Srettt
Baru saja pria itu maju Xavier langsung menarik kepalanya dan menancapkan belati di tangannya ke leher pria itu hingga darah bercucuran di lehernya.
HAHAHAHAHAHA
"Majulah!" Ujar Xavier yang tertawa terbahak-bahak seperti orang kesetanan.
"Cepat serang dia!" Perintah bos dari orang-orang itu.
"Bos, itu…, kenapa tidak bos saja yang maju lebih dulu." Kata salah satu anggota pria itu.
"Kami tidak berani bos," ucap mereka dengan menggelengkan kepala.
"Benar bos, kami tidak berani. Dia terlihat seperti monster bos,"
"Bodoh! Cepat serang dia bersamaan." Bentak sang bos yang marah pada anggotanya yang tidak berani maju.
Mendengar perintah dari sang bos seketika mereka saling melirik satu sama lain. Di detik selanjutnya mereka langsung mengangangkat senjata mereka semua yaitu kapal dan juga belati.
"Kenapa gemetar hm…? Apa takut hehe?" Xavier tersenyum sinis melihat lawannya bergetar ketakutan.
"Jangan banyak b4vot kamu, Kalian semua. Cepat serang dia!" Perintah sang Bos.
__ADS_1
Sekali lagi mereka saling melirik dengan ragu namun mereka tak punya pilihan selain menyerang Xavier. Walaupun mereka tidak menyerang duluan pada akhirnya juga sama mereka juga akan di habisi oleh Xavier. Mereka tentu sangat mengetahui bagaimana sifat dan prinsip dari seorang Xavier yang tidak akan pernah mau melepaskan mangsanya.
Bugh
Srettt
Krettt
Pukulan dan tendangan terus di layangkan ke arah Xavier yang langsung di balas pria kekar itu. Tak tanggung-tanggung Xavier bahkan langsung membunuh bahkan mematahkan kaki dan tangan mereka satu persatu.
Beberapa menit kemudian pertarungan telah selesai yang tentunya di menangkan oleh Xavier.
“Dasar hama,” sinis Xavier yang berbalik namun matanya langsung melotot melihat orang yang dia kenali di depan sana.
Amora
Si sekretarisnya yang begitu cupu itu tengah berlari kencang sesekali akan berbalik ke belakang seperti sedang di kejar sesuatu.
“Sial, aku harus sembunyi.” Guman Xavier yang langsung bersembunyi di sebuah pohon besar.
Di sisi lain Amora berlari kencang menjauh dari keramaian. Lebih tepatnya menghindari anggota yang sangat Amora tahu kalau mereka anggota dari kelompok milik sang kakak.
“Hosh hosh hosh Gila,”
Napas Amora terdengar ngos-ngosan dengan dada yang naik turun karena napas yang tidak beraturan.
“Eh…, orang mati?” kaget Amora yang melihat beberapa orang terbaring bersimpah darah di aspal.
“Lebih baik aku pergi, aku tidak ingin menambah masalah lagi ke depannya.” guman Amora yang langsung pegi dari tempat itu.
__ADS_1
.