
“Masuk dan bersihkan dirimu Babe, aku tidak suka kamu mandi darah seperti ini,” bisik Xavier yang mengecup singkat kening Athena.
Athena yang ingin protes tidak sempat lagi saat dirinya di dorong segera masuk ke dalam kamar mandi. Mk tak mau Athena hanya bisa membersihkan dirinya dengan wajah masam di kamar mandi itu.
Sedangkan di luar kamar mandi Xavier tersenyum lebar karena berhasil mencuri ciuman singkat dari sang wanita pujaan. Walaupun hanya ciuman di kening saja tapi bagi Xavier itu tidak apa karena semua butuh prosesnya.
Dengan wajah yang berseri-seri Xavier keluar dari kamarnya menuju kamar lain ingin membersihkan dirinya.
“Tuan,”
Ternyata di luar kamar dirinya sudah di tunggu keempat orang kepercayaannya bersama dengan wanita yang di panggil Rania oleh Athena. Xavier menatap mereka dengan datar dan dingin wajah yang tadinya hangat langsung berubah menjadi wajah datar seperti tembok cina.
“Ada apa?” tanya Xavier dengan dingin dan wajah datar.
‘‘Mana Nona ku?” tanya Rania dengan berani.
Rania dan anggota lainnya telah di sumpah untuk tidak tunduk pada siapapun selain dari anggota keluarga Keano. Jadi Rania tidak akan pernah menuruti apa yang dikatakan atau di perintahkan oleh orang lain karena majikannya hanyalah Athena.
“Sedang membersihkan diri,” jawab Xavier dengan santai.
Sontak Rania langsung menatap tajam Xavier seperti ini menelannya hidup-hidup membuat keempat orang kepercayaan Xavier melototkan mata. Selama ini selain Nona Athena tidak ada yang berani melototi Xavier seperti itu.
“Jangan menatapku seperti itu, aku tidak akan melakukan apapun pada Athena,” kata Xavier yang langsung berlalu pergi begitu saja meninggalkan kelima orang itu.
Beberapa menit kemudian Athena keluar dari kamar mandi hanya menggunakan jubah mandi di badannya.
__ADS_1
“Aku pakai baju apa coba? Disini kan bukan tempatku gimana mau cari baju ganti?” kesal Athena dengan duduk di ranjang empuk milik Xavier.
Namun matanya langsung terpaku saat melihat sebuah lukisan di dinding kamar itu. Lukisan itu tak lain dan tak bukan adalah lukisan wajahnya sendiri.Lukisan itu Athena tengah tersenyum lebar dengan mengenakan dres bunga-bunga dan sebuah bunga mawar biru di tangannya.
Athena terpaku melihat lukisan itu yang terlihat sangat hidup dengan perpaduan warna dan setiap garisnya begitu pas hingga terlihat begitu sempurna.
Grep
Athena merasakan pinggangnya di tari sedikit ke belakang oleh sebuah lengan kekar dengan napas hangat terasa di leher jenjang dan putih miliknya.
“Apa kau marah karena aku memajang lukisan disana?” bisik Xavier yang berada di ceruk leher Athena.
“Tidak juga, tapi siapa yang melukis ini?’ tanya Athena balik menatap lukisan itu yang begitu indah.
‘‘Cih lepas…!” Athena melepaskan tangan kekar Xavier dari pinggangnya lalu menghadap kepada Xavier.
Xavier yang melihat jika Athena berbalik tidak mensia-siakan kesempatan langsung memeluk pinggang ramping Athena membawanya hingga dekat kepadanya.
“Aku tidak akan melepaskanmu Babe, jika memang kau perlu waktu untuk mengenalku it’s oke. Aku akan menerima akan hal itu tapi untuk melepasmu aku tidak akan bisa Babe,” ucap Xavier dengan menatap tepat pada mata Athena.
“Kau menyuruhku untuk mandi tapi aku tidak punya pakaian ganti…! Aku tidak mungkin keluar markas mu hanya menggunakan jubah bukan?” kesal Athena yang menatap kesal Xavier.
“Babe kamu tidak melihatnya?”
‘‘Lihat apa? Aku tidak melihat apapun…!”
__ADS_1
Xavier yang melihat Athena membuang muka hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar ia tidak tersenyum. Xavier tahu jika sang wanita pujaannya itu kini sedang menahan malu.
“Ah kamu semakin menggemaskan dan menggoda jika sedang malu seperti ini Babe,” kata Xavier dalam hati yang setengah gila.
Jujur saja andaikan dia sudah mendapatkan lampu hijau dari Athena tentang hubungan mereka. Ingin sekali rasanya Xavier melahap bibir tipis semerah chery milik Athena. Entah kenapa saat sedang tersipu malu seperti itu Athena semakin cantik dan menggemaskan hingga nyaris membuat Xavier menjadi gila. Siapa yang tak gila jika wanita yang di tunggu-tunggu selama ini berada di depan mata. Pria mana yang menahan kerinduan selama bertahun-tahun tersimpan rapi di dalam dada. Bahkan Xavier tidak pernah mengizinkan siapapun untuk mengetuk pintu hatinya selain Athena. Gadis kecil pemberani yang tak takut apapun.
Rasa cinta Xavier semakin besar saat mendengar dan mengetahui jika hanya karena menyelamatkannya hingga sampai aman Athena sampai sekarang karena bertarung dengan mati-matian agar orang-orang itu tidak mengejar dirinya.
‘‘Lihat di nakas..! Disana ada paper bag biru bukan? Itu aku sudah siapkan dari tadi,” bisik Xavier yang menatap lekat mata Athena.
Athena yang mendengar bisikan Xavier langsung menoleh ke arah yang di tunjuk Xavier. Wajahnya langsung memerah saat melihat jika memang di atas nakas itu ada sebuah bungkusan biru.
“Shit, kenapa aku tidak melihat ke arah situ tadi?” kata Athena dalam hati yang merutuki kebodohannya.
‘‘Jangan menggodaku Babe,”
“Eh,” Athena langsung mendongak menatap Xavier yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Glek
Athena menelan ludah melihat wajah Xavier yang sangat dekat dengannya terutama mata yang menatapnya seperti hewan yang kelaparan.
“Kamu cantik Babe, apalagi jika sedang malu seperti ini. Kamu membuatku hampir gila,” bisik Xavier dengan suara beratnya mendekati bibir tipis Athena.
“Babe…,”
__ADS_1