
“Rania…!” panggil Athena.
“Ya Nona,” Rania segera mendekat ke arah Athena.
“Kau tidak ingin balas dendam?”
“Balas dendam?” Rania menatap sang Nona muda dengan kening yang berkerut.
“Dia penyebab Bibi Rissa tidak bisa memiliki seorang anak. Pria ini penyebab Bibi Rissa harus kehilangan rahimnya,”
Jedarrrrr
Rania membulatkan matanya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Athena yang tidak mungkin berbohong dalam hal ini. Dunia Rania sepertinya hancur mendengar kebenaran jika penyebab sang Ibu yang tak bisa melahirkan seorang anak karena pria bejat di depannya itu.
“Nona itu…,’’
“Saya tidak mungkin berbohong Rania, kamu tahu sendiri saya tidak akan mungkin membuang-buang waktu hanya karena hal yang tak penting. Kau pikir jika aku tak punya dendam kusumat sama ini orang apa iya aku akan berusaha dengan keras mencari si kepar4ti ini,” kata Athena yang menunjuk-nunjuk muka tak berbentuk Ryuga.
Rania yang mendengarnya semakin berwajah gelap rahangnya mengeras dengan matanya yang sudah menyala tajam.
“Jadi bagaimana? Mau balas dendam apa nggak? Kalau tidak aku lanjut nih,” kata Athena yang mengangkat kembali pisau kecilnya.
“Tunggu Nona…!” seru Rania yang menghentikan gerakan tangan Athena.
“Apalagi?” kesal Athena yang menatap kesal Rania karena kesenangannya di hentikan.
“Itu…, saya juga ingin bermain,” kata Rania dengan gugup.
“Cih tadi di tawari tidak mau. Sini maju cepat…!” sinis Athena yang meletakan kembali pisaunya lalu mundur ke belakang.
“Nona Athena bagaimana sih? Dia yang tawarin dia juga yang kesal. Lagipula siapa yang nolak aku tidak nolak aku hanya berfikir tadi,” kata Rania dalam hati.
“Sisakan aku nyawanya,” kata Athena dengan santai duduk di tanah.
__ADS_1
Uhukkk uhukkk
Xavier dan yang lain sejak tadi berusaha memasang wajah datar kini langsung tersedak saliva mereka sendiri. Bagaimana bisa AThena mengatakan hal seperti itu. Bahkan mereka sudah bisa melihat jika Ryuga sudah benar-benar sekarat tapi masih bilang sisakan nyawanya? Yang benar saja.
“Babe, bagaimana kau menyuruh orang untuk menyiksanya sedangkan kau juga menginginkan nyawanya. Bahkan orang bodoh saja tahu jika dia sudah mau mati,” kata Xavier dalam hati.
“Nona mau nyawanya?” tanya Rania dengan menatap Athena yang duduk di tanah.
“Ya, sisakan saja nyawanya,”
“Saya tidak boleh membunuhnya?”
“Tidak boleh-lah, kan aku mau nyawanya..! Gimana sih? Siksa saja sepuasnya tapi jangan matiin,”
Rania yang mendengar apa yang dikatakan oleh sang Nona muda hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya melirik Ryuga yang sudah sekarat itu mungkin hanya menunggu beberapa detik saja sudah mati.
“Eh lengannya satu masih ada lebih baik aku potong itu saja,” guman Rania yang mengambil katana milik Athena.
Slasssh
Lengan kiri Ryuga langsung putus bersamaan dengan percikan darah yang keluar seperti air hujan.
“Sudah Nona,” Rania kembali memposisikan diri di belakang Athena.
“Hanya segitu? Tahu dari tadi potong sendiri saja,”
Athena berdiri lalu mendekati Ryuga yang menundukan kepala tak bergerak sama sekali. Athena yang melihat itu langsung menendang kaki Ryuga berharap pria itu bergerak namun sama sekali tidak bergerak.
“Kok diam? Jangan mati dulu dong…! AKu belum puas bermain…!” teriak Athena yang menarik rambut Ryuga ke atas hingga bisa memastikan Ryuga masih hidup atau mati.
Namun sayang ternyata Ryuga sudah mati membuat Athena langsung berbalik menatap tajam Rania.
__ADS_1
“Rania…!” Athena menatap Rania seperti menatap mangsanya.
“Mati aku, kenapa juga si kep4r4t itu mati hanya karena tangannya aku potong,” umpat Rania.
Jika dia tahu jika memotong tangan Ryuga akan membuat pria itu langsung mati maka tidak akan pernah juga Rania mau memotong tangan pria itu.
“Kenapa kamu membunuhnya? Aku kan bilang sisakan nyawanya..! Gimana sih?” kesal Athena.
Uhukk uhukkk
Anak buah Xavier langsung tersedak ludah sendiri akan kelakuan Athena itu. Tara dan Dante saling melirik satu sama lain dengan wajah yang sudah memucat.
“Nona, apa anda tidak sadar jika pria itu mati kehabisan darah. Lagi pula bagaimana mau menyisakan nyawa jika saja nyawanya sudah sekarat sedari tadi,”
Ingin sekali Tara dan Dante mengeluarkan apa yang ada di dalam hati mereka itu. Namun sayang seribu saya mereka masih sangat menyayangi hidup dan juga nyawa mereka. Jadinya mereka hanya bisa menahan semua keinginan mereka di tenggorokan saja.
Grep
“Berhenti Babe, ayo masuk ke dalam markas kamu harus segera membersihkan diri. Lihat bahkan seluruh tubuhmu penuh dengan darah pria br3ngs3k itu,” bisik Xavier di telinga Athena.
Athena yang di peluk oleh Xavier langsung melihat ke arah badannya yang memang jika seluruh badannya telah di penuhi darah. Entah darah dari Ryuga atau memang dari orang-orang musuhnya yang tadi dia serang menggunakan belati kesayangannya.
“Hm aku memang kotor,” guman Athena yang baru sadar dengan keadaannya.
Xavier yang mendengar guman Athena langsung tersenyum kecil dengan mengangkat Athena menggendongnya ala bridal style.
“Kau…,”
“Menyingkirlah, aku tidak mungkin menyakiti Nona muda mu yang adalah wanita yang sangat aku cintai,” tekan Xavier menatap tajam Rania.
Rania tetap kekeh tak ingin menyingkir akan tetapi melihat tatapan tajam dari Athena langsung membuat nyalinya menciut. Dengan gerakan pelan Rania menyingkir dari hadapan jalan Xavier agar bisa lewat.
Xavier langsung berjalan masuk ke dalam markas dengan Athena yang berada di gendongannya. Sepanjang jalan Xavier hanya memasang wajah datar dan dingin hingga mereka sampai di sebuah ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar.
__ADS_1
“Masuk dan bersihkan dirimu Babe, aku tidak suka kamu mandi darah seperti ini,” bisik Xavier yang mengecup singkat kening Athena.