Love Story Queen Athena

Love Story Queen Athena
Bab 72


__ADS_3

"Saya tidak menyuruh anda untuk berjuang demi saya, tidak ada yang menyuruh anda untuk melakukan hal itu. Saya mengatakan dengan tegas jika saya sama sekali tidak tertarik dengan anda tidak sama sekali. Namun jika anda tulus saya akan berusaha membuka hati saya untuk anda tapi sejauh ini..., anda bahkan terus menjadi buruk."


"Apa maksudmu?" Xavier berusaha dengan keras menahan amarahnya.


"Maksud saya.., saya paling tidak suka pada manusia serakah yang merebut milik orang lain dengan cara licik dan paksa. Sampai sini paham 'kan?"


Deg


Xavier yang mendengar itu langsung tertegun dengan tatapan yang menghunus tajam Amora yantg hanya terdiam dentgan senyum manis di bibirnya.


"Tidak mungkin dia tahu akan hal itu kan?" Xavier menatap tajam Amora yang biasa saja.


Amora hanya tersenyum miring yng sangat sulit untuk di artikan membuat wajah Xavier terlihat panik. Amora yang melihat itu hanya melempar senyum sinis sebelum keluar dari ruangan Xavier.


"Dante cari tahu tentang Amora dan apa saja yang di lakukannya selama ini." Perintah Xavier dengan dingin.


"Baik Bos," Dante segera keluar di ruangan Xavier meniggalkan Xavier yang sedang bertanya-tanya apa yang di maksud dari perkataan Amora tadi.


"Sial jangan sampai gadis itu tahu semuanya, ini akan membahayakan aku nantinya." guman Xavier dengan perasaan gelisah karena kata-kata Amora yang sangat menusuk.


Sedangkan Amora terdiam kaku dengan tatapan tajam saat masuk ke dalam ruangannya. Gadis itu berjalan dengan wajah datar tanpa ekspresi menuju kursinya.


"Syukur aku tidak jatuh cinta pada bajingan itu," kata Amora yang memijit keningnya.


Amora benar-benar tidak menduga akan terjadi hal seperti ini. Bersyukur dirinya belum membuka hati kepada Xavier jika ia maka Amora tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti di masa depan.


Di tempat lain seorang pria baru saja membuka matanya setelah tertutup selama bertahun-tahun. Sosok itu mengedarkan pandangannya ke segala ruangan namun tak ada siapaun di ruangan yang serba putih itu selain dirinya.


"Dimana aku? Seberapa lama aku menutup mata? Ruangan ini bukan ruangan khusus rumah sakit aku yakin akan hal itu," guman sosok itu dengan terus mengamati keadaan sekitar ruangan itu.


Ceklek


"Tu..Tuan...," sosok ang baru masuk itu syok melihat orang yang dia rawat selama bertahun-tahun telah membuka matanya.

__ADS_1


"Tuan sudah sadar?" pria itu masuk ke dalam ruangan itu dengan mata yang berkaca-kaca namun bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


"Rey, kita ada dimana?" tanya sosok u\=itu lagi.


"Kita di markas rahasia Tuan." jawab sosok pria yang berpakaian serba putih.


"Markas rahasia? Kenapa bisa kita disini? Lalu sberapa lama aku terbaring dan tidak sadarkan diri?"


"Ceritanya panjang Tuan, intinya kita saat ini sedang bersembunyi dari musuh. Soal tidak sadarkan diri dan seberapa lama Tuan tidak sadar di tahun ini sudah 5 tahun anda terbaring koma Tuan."


"APAAAA? BAGAIMANA BISA? JANGAN BERCANDA REY...!" bentak pria yang berada di atas ranjang putih itu yang langsung duduk.


"R...,Rey kenapa aku tidak bisa menggerakan kakiku?"


Rey yang mendengarnya tidak terlalu kaget hanya segera mendekat dan memeriksa kaki pria itu. Rey berulang kali mengetuk mata kaki pria itu namun pria itu tetap tidak merasakan apapun.


"Tuan tahan ini sebentar saya kan menusukan jarum ini di telapak kaki anda," ucap Rey yang menunjukan jarum di tangannya.


"Lakukan!" titah pria itu dengan suara dingin.


Jleb


Jleb


"Apa Tuan tidak merasakan sakit saat saya menusukan ini pada kaki Tuan?" tanya Rey.


"Tidak, aku bahkan tak merasakan apapun." jawab pria itu dengan datar.


Hahhhh


Terlihat Rey yang menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara pelan-pelan. Matanya menatap pria yang sudah dia rawat 5 tahun terakhir itu yang ternyata pria itu juga sedang menatap ke arahnya.


"Akibat dari racun yang Tuan minum di waktu itu beserta di tambah dengan kondisi Tuan yang tidak sadar atau koma selama 5 tahun membuat semua urat-urat di bagian kaki Tuan mengalami kelumpuhan sementara atau bisa saya katakan mati urat." Terus terang Rey yang tidak menyembunyikan apapun dari pria itu.

__ADS_1


"Jadi saya lumpu?" tanya pria itu dengan datar.


"Tidak seperti itu Tuan...," ucapan Rey langsung di potong oleh pria itu lagi.


"Panggil saya Mr X!" tekan pria itu.


"Baik Mr X, anda tenang saja kelumpuhan ini hanya bersifat sementara saja karena jika anda melakukan terapi maka dalam waktu 3 bulan anda bisa berjalan dengan normal." Ungkap Rey dengan serius.


"Keluar dan panggilkan aku Tara!"


"Baik Mr X," Rey segera membungkukkan badannya keluar dari ruangan itu.


Klik


Rey menunduk menghapus air matanya yang berada di sudut matanya.


"Saya senang akhirnya Tuan bangun itu artinya kita akan kembali jaya dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita," guman Rey dengan senyum tipis namun matanya menatap tajam.


Di dalam ruangan Mr X menatap datar dan dingin kakinya yang tak bisa di gerakin sama sekali walaupun dia sudah berusaha menggerakannya.


"Tak berguna!" umpat Mr X yang sepertinya tidak senang dengan kondisi kaki yang seperti itu.


Lagipula siapa yang akan senang dengan kondisi yang baru bangun dari ambang pintu kematian harus di sambut oleh kenyataan seperti ini. Lebih parahnya lagi keadaan memaksa untuk harus menerima kenyataan itu.


"Kaki tak berguna!"


Bugh


Bugh


Mr X dengan amarah yang meluap-luap memukul kakinya dengan tangannya namun tak merasakan apapun lagi. Tak ingin putus asa Mr X mengambil sebuah lampu di atas meja lalu di arahkannya pada kakinya.


"TUAN...!"

__ADS_1


SRETTTT


__ADS_2