
"DANTE SIAPKAN MOBIL...!" teriak Xavier yang justru melewati Dante begitu saja.
"EH TUAN TUNGGU...!"
Xavier dan Dante berlarian di menuju ke parkiran mobil dengan wajah Xavier yang sudah pucat pasi. Demi apapun saat ini dia benar-benar kalang kabut dengan apa yang terjadi di markas.
“Dante cepat cari supermarket terdekat….!” perintah Xavier dengan napas yang ngos-ngosan.
“Baik Tuan,” jawab Dante yang langsung menjalankan mobilnya.
Dante tidak mengerti apa yang terjadi kenapa Xavier terlihat sangat cemas padahal sebentar lagi mereka akan mengadakan rapat dengan salah satu klien yang berasal dari indonesia. Akan tetapi melihat keadaan sang Tuan yang seperti itu membuat Dante tidak bisa mengeluarkan apa-apa.
“Sebenarnya apa yang mereka lakukan di markas? Kenapa mereka membuat wanitaku kelaparan?” geram Xavier dengan suara rendah menahan amarah dan juga kekhawatiran yang bersamaan.
“Jadi Nona Athena kelaparan di markas? Astaga…, aku harap Tuan tidak mengamuk sampai kesana. Bagimana bisa para koki di markas tidak memasak sementara mereka sudah di beri intruksi jika Nona Athena akan bangun mencari makanan. Ini benar-benar buruk,” kata Dante dalam hati yang memberhentikan mobilnya di sebuah minimarket.
Tanpa menunggu pintu mobil di bukakan Xavier langsung keluar dari mobil lalu berlari masuk di ikuti Dante. Hingga beberapa menit kemudian mereka keluar dengan dua krisek besar di tangan Xavier.
“Cepat jalan…! Aku tidak mau tahu 5 menit kita harus sampai,” kata Xavier penuh penekanan setiap katanya.
Dante tidak menjawab melainkan langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Akibat Dante yang terus menyelinap mobil lain membuat keadaan jalan raya menjadi macet tapi Dante tidak peduli akan hal itu. Saat ini nyanya juga berada di ujung tanduk. Jika sampai telat saja maka dapat di pastikan monster di belakangnya itu akan mengamuk habis-habisan.
5 menit kemudian
__ADS_1
Bruk
Dante tanpa perasaan dan tanpa permisi langsung menabrak gerbang markas mereka membuat semua orang panik bukan main hingga mengangkat senjata mereka. Namun saat melihat siapa yang menjadi dalangnya mereka kembali tenang.Sedangkan Xavier pria itu langsung berlari masuk ke dalam dengan membawa kresek hitam di tangannya.
“BABE…! ATHENA….?” Xavier berteriak dengan lantang membuat semua orang yang berada di markas langsung ketar ketir.
“Babe aku datang….!”
Xavier langsung duduk di bawah Athena yang sedang memakan sebuah roti. Xavier yang melihat jika roti itu adalah roti tawar biasa langsung mengambilnya dan membuangnya.
“Hey itu makananku belum aku makan..! Aku hanya makan baru dua gigitan tahu…!?” teriak Athena yang kesal setengah mati.
“Aku tahu Babe, tapi roti itu tidak enak. Makanlah yang ini aku sudah membelikannya untukmu,”
Xavier dengan gerakan cepat membuka kresek hitam itu alu membukakan sebuah roti dan diberikannya pada Athena.
Setelah melihat jika Athena sudah tenang dan anteng Xavier langsung berdiri lalu berjalan ke arah dapur. Suasana hati yang buruk membuat Xavier meledak-ledak hingga aura dari sekitarnya terasa sangat mencekam.
Sampai di dapur para koki kaget saat melihat Xavier berada disana. Tatapan Xavier membuat mereka bergetar ketakutan.
“Kalian…!”
“Kami Tuan,” kedua wanita yang tadi menjemput Athena langsung mendekat ke arah Xavier.
__ADS_1
“Bukankah aku menyuruh kalian untuk menjaga wanitaku? Lalu kenapa kalian berada disini?” Xavier bertanya dengan suara yang sangat menyeramkan.
“Ka…kami sedang me..memasak Tuan,” jawab salah satu wanita itu walau dengan tubuh yang bergetar ketakutan.
“Memasak? Kemana para koki di markas ini?” tanya Xavier dengan dingin dan datar.
“Itu..,”
Kedua wanita itu tidak lagi bisa berbicara, bagaimana cara mereka menjelaskan jika para koki itu tidak mau memasak karena menganggap jika Athena hanya wanita penghibur dari Tuan mereka. Bahkan tadi secara terang-terangan mereka juga menghina Athena.
“JAWAB..!” bentak Xavier yang semakin emosi karena pertanyaannya tidak dijawab.
“Sebentar Tuan,” salah satu wanita itu langsung berbalik untuk mengambil daging yang tengah ia panggang.
“Sekarang katakan..!”
“Mereka tidak ingin memasak Tuan, mereka mengatakan jika Nona Athena adalah wanita penghibur Tuan.”
“APA…?”
Mata Xavier melotot mendengar apa yang dikatakan oleh kedua wanita yang dia tugaskan untuk menjaga Athena. Bagaimana bisa para pelayan itu membuat wanitanya tidak nyaman.
“Kalian tidak sedang berbohong kan?” tanya Dante yang baru saja masuk.
__ADS_1
“Kami berani di hukum mati Tuan,” jawab mereka serentak.
“Dante panggil mereka semua…!”