
Ceklek
"Dear...,"
Amora yang masih memeluk Kevin segera melepaskan pelukannya menatap ke arah pintu yang dimana Xavier baru masuk ke dalam ruangan rawatnya.
"Aku membawakan kamu ini, semoga kamu menyukainya." Kata Xavier dengan senyum tipis.
"Kamu siapa?" tanya Kevjn dengan menatap tajam Xavier yang berdiri di depannya itu.
Xavier yang mendengar itu baru sadar jika sekarang dia sudah melepaskan topeng kulitnya maka otomatis wajahnya kembali di wajah aslinya.
"Saya Xavier paman,"
Kevin yang mendengar balasan Xavier langsung mengerutkan tatapannya menatap pria muda di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Xavier yang mana? Apa kamu pria yang keluar beberapa jam yang lalu?"
__ADS_1
"Benar Paman, Aku pria itu." jawab Xavier dengan tegas.
"Jangan bercanda, jelas-jelas pria muda yang bernama Xavier memiliki wajah yang berbeda dengan kamu." ucap Kevin yang menolak percaya pada ucapan Xavier.
Amora yang melihat situasi jika sang ayah angkat tidak mempercayai dari Xavier memutuskan untuk turun tangan.
" Ayah apa yang dikatakan oleh Xavier itu benar-benar adalah kenyataan." kata Amora dengan yakin dan berusaha untuk meyakinkan sang ayah angkat jika pria di depannya itu adalah pria yang beberapa jam lalu keluar.
" jangan bercanda Amora, kamu tidak lihat jika wajah mereka berbeda? bagaimana mereka adalah orang yang sama jika wajah mereka saja berbeda?" Kevin tetap menolak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria di depannya itu dan yang dikatakan oleh Amora.
Bagi Kevin sangat mustahil jika dua orang yang mengaku sama tetapi wajah mereka berbeda. bahkan jika itu saudara kembar pun juga bisa melakukan penipuan apalagi jika orang yang berbeda.
"Tapi Kenapa wajah mereka berbeda?"
"Itu karena saya menggunakan topeng kulit untuk mengelabui Musuh saya sehingga wajah asli Saya tidak diketahui oleh musuh."
Kali ini yang menjawab bukan lagi Amora melainkan Xavier sendiri. sedangkan Kevin yang mendengar Pengakuan itu lantas terkejut dengan melototkan mata.
__ADS_1
" Memangnya Apa pekerjaan kamu sehingga kamu harus menggunakan penyamaran seperti itu?" tanya Kevin dengan tatapan menyelidik dan penuh curiga ke arah Xavier.
"Itu...,"
"Sudahlah Ayah jangan membuat masalah tidak semua masalah orang lain harus kita ketahui"
Mendengar akan hal itu Kevin langsung terdiam namun masih menatap penuh selidik ke arah Xavier. Xavier mengucapkan syukur dalam hati karena sadar tidak sadar Amora menyelamatkan dirinya.
"Terima kasih, Dear." Bisik Xavier dalam hati.
"Berikan bunganya," Amora mengangkat tangannya meminta bunga mawar biru di tangan Xavier diberikan padanya.
Xavier yang mendengar apa yang di ucapkan Amora langsung tersenyum senang. Dengan gerakan cepat Xavier memberikan bunga mawar itu kepada Amora. Kevin yang melihat itu bertambah curiga sehingga menatap Xavier terus menerus.
"Ada apa Paman?" tanya Xavier menatap ke arah Kevin.
"Kenapa kamu mengetahui jika Amora menyukai bunga mawar biru?"
__ADS_1
Kali ini bukan hanya Kevin Yang penasaran namun Amora juga ikut penasaran. Bagaimana bisa Xavier mengetahui jika dia menyukai bunga mawar biru sedangkan yang mengetahui akan hal hanya keluarga besarnya saja. Lalu bagaimana bisa Xavier yang baru saling kenal beberapa bulan bisa mengetahui jika ia menyukai bunga itu.
"Bunga Mawar biru adalah bunga kesukaan mendiang mami, aku membeli bunga itu karena aku tidak tahu Amora suka bunga apa."